Archive for the ‘Qalbu’ Category

>Hati (Qalbu)

>

Pelajaran pertama NAQS Methode adalah mengaktifkan potensi hati (Qalbu). Dengan aktifnya potensi ini ikut aktif pula semua potensi-potensi yang terpendam di dalam diri seorang manusia. Demikian juga kesadaran spiritualnya akan turut terbuka dan berevolusi. Kenapa kita harus mengolah hati kita..?

Karena :

  • Hati adalah kunci hubungan kepada Tuhan.
  • Hati adalah kunci ketenangan, kedamaian, kesehatan dan kebahagiaan sejati.
  • Hati adalah cerminan dari diri dan hidup kita secara keseluruhan. Semua pahala dan dosa akan tercermin pada hati kita.
  • Berdoa kepada Tuhan YME seharusnya dari hati dengan sepenuh kasih.
  • Saluran Kasih dalam berdoa kepada Tuhan YME dan berbuat baik kepada sesama, dimana Kasih itu sendiri berasal dari Berkat Tuhan yang berada di dalam hati.


Semua orang pernah mendengar tentang hati, tapi sangat jarang yang benar-benar mengenal hati. Padahal hati adalah bagian diri kita, sama seperti kaki, tangan, otak, dan organ-organ tubuh lain. Hati bagi kita manusia memiliki fungsi khusus, yang memungkinkan kita menjalani hidup kita di dunia seperti seharusnya sesuai design Sang Pencipta.

Kita sudah tahu bahwa kaki fungsinya untuk berjalan, tangan untuk memegang, otak untuk berpikir, merancanakan, mengontrol jalannya ‘mesin’ tubuh. Tahukah kita apa fungsi hati?

Hati, kita sudah tahu, adalah pusat dari perasaan kita. Kita merasa, menyadari, mengalami, dengan menggunakan hati. Tapi kalau bicara mengenai perasaan, sesungguhnya hati adalah pusat dari perasaan yang termasuk pada golongan emosi tinggi : rasa indah, tenang, damai, nyaman, bahagia. Sehingga hati adalah kunci dari hubungan sosial dengan sesama dan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta, karena rasa yang sejati tercermin dari kualitas hubungan tersebut.

Dengan mengenali hati, kita bisa memberdayakannya, memanfaatkan untuk perbaikan segala aspek kehidupan kita: kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual.

Selama ini kita terbiasa menggunakan otak untuk hampir semua aktivitas, menyelesaikan persoalan, berhubungan antar manusia, menghadapi tantangan dan merespon situasi / kondisi sekitar kita. Inilah yang menjadi sumber stress, ketidakbahagiaan, ketidakpuasan, kekuatiran, kejengkelan, dan hal-hal negatif lainnya, yang berujung pada pencarian kebahagiaan serta kepuasan yang semu dan sesaat. Inilah ciri-ciri saat kita hanya menggunakan otak. Dengan mengutamakan hati daripada otak, hal-hal negatif di atas akan berganti dengan perasaan khas hati yang indah, tenang, damai, nyaman dan bahagia.

Untuk bisa memanfaatkan hati, kita perlu belajar dan berlatih untuk menggunakannya, persis sama seperti kita belajar untuk menggunakan kaki kita untuk merangkak, berdiri, berjalan, berlari, tangan untuk menyentuh, meraba, menggenggam, memegang, menjumput. Kita perlu mengasahnya seperti halnya kita mengasah otak kita, mulai dari TK, SD, SMA, sampai pendidikan lanjutan, dengan mempelajari macam2 ilmu pengetahuan. Jika biasanya kita menyehatkan tubuh dengan olah raga, mencerdaskan otak dengan olah pikir, kita bisa memperkuat hati kita dengan olah rasa.

Hati dan otak adalah 2 piranti kehidupan yang kita peroleh, dimana hati adalah piranti utama untuk kehidupan yang utuh dan berarti.

Menggunakan dan memanfaatkan hati adalah suatu keterampilan, yang dapat kita lakukan kapanpun, dimanapun, untuk macam2 aktivitas kita sehari-hari. Keterampilan ini dapat dipelajari oleh siapapun, tidak memandang usia, laki2/perempuan, agama, suku, dll, karena sangat universal sifatnya dan juga sangat sederhana caranya.

Dengan memanfaatkan hati, kita akan lebih sehat, tenang, produktif, kreatif, hubungan sesama dan terhadap Tuhan lebih baik sehingga keindahan hidup semakin terasa.

Cahaya Hati
Sungguh luar biasa peranan hati (qalbu) bagi manusia dalam kehidupannya. Baik buruknya suatu sifat dan tindakan seseorang sering dikaitkan dengan gambaran keadaan hatinya. Kehendak hati bahkan lebih besar pengaruhnya terhadap perbuatan seseorang jauh melampaui otak. Seseorang dapat saling mencinta pun saling membenci karena hati. Sifat baik ataupun buruk yang menemani perjalanan hidup seseorang pun tak luput dari peranan hati dalam dirinya.

Sayang tak selamanya hati terbebas dari beragam penyakit hati. Cahaya hati yang seharusnya bisa membuat seseorang melihat lebih jelas tentang hal yang baik dan buruk pun bisa meredup atau bahkan hilang sama sekali akibat penyakit-penyakit hati tersebut. Sifat iri, dengki, ataupun kesombongan hanyalah sebagian kecil dari penyakit hati yang sering kali melekat pada diri seseorang. Sebagian orang merasa wajar dan memaklumi hal tersebut, tak sepenuhnya salah karena memang manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh dengan kekurangan.

Namun bukan hal yang mustahil jika seseorang mampu terbebas dari penyakit yang mampu meredupkan cahaya hatinya tersebut. Banyak cara untuk menjaga cahaya hati dari kepadamannya. Lalu kepada siapakah kita meminta pertolongan ketika cahaya hati mulai terasa padam??

Tentu saja kepada Sang Pemilik Hati Manusia yang mampu membolak-balikan hati makhluk ciptaanNya. Allah yang mampu menerangi hati dari kekelamannya, memberikan cahaya untuk keluar dari kegelapan hati. Karena itu, jika cahaya hati dalam dirimu terasa mulai padam maka minta lah kepada Sang Pemilik Hati untuk menyalakan kembali cahaya hati tersebut.
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Permumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak di sentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.An-Nur: 35)

Qalbu : Inti Ruhani
Banyak orang bingung dengan pengertian qalbu. Qalbu harus ditulis dengan huruf ‘q’ karena teks Arabnya menggunakan huruf (qaf). Di Indonesia banyak orang menuliskannya dengan huruf ‘k’ sehingga menjadi kalbu. Padahal ‘k’ adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis (kalbu) maknanya adalah anjing. Jadi jauh benar bedanya antara qalbu (hatinurani) dengan kalbu (anjing).

Sebagian orang menerjemahkan qalbu dengan “hati”. Padahal hati (Inggris: liver) adalah organ tubuh yang ada di kanan dada dan fungsinya menyaring racun atau penyakit dari darah. Dalam Bahasa Arab hati disebut dengan ‘kibdun’ atau ‘kibdatun’. Bahasa Arab `Amiyah menyebutnya ‘kabid’. Jadi orang Arab tidak pernah memahami qalbu sebagai hati atau liver.

Hati juga sering dijadikan sebagai terjemahan dari ‘heart’ (Inggris) yang bermakna jantung, karena itu bentuknya sering digambarkan seperti jantung (♥).

Hati digunakan sebagai terjemahan ‘qalb’ (Arab) meskipun bahasa Arab menyebut hati ‘kibd’. Hati digunakan sebagai terjemahan ‘heart’ (Inggris) yang sebenarnya adalah jantung. Lalu hati juga digunakan sebagai terjemahan dari ‘liver’ (Inggris) atau ‘hephar’ (Latin). Jadi sebenarnya apa itu hati, apa itu qalbu?

Dua Macam Qalbu :

1. Qalbu jismani, yaitu jantung Ada hadits tentang qalbu yang sangat populer di masyarakat, sering diucapkan oleh para ustadz dan muballigh dalam ceramah-ceramah mereka. Tapi sayangnya orang kurang cermat memahami makna qalbu pada hadits ini.

Abu Nu`aym menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. berkata: “Sesungguhnya di dalam jasad ada sebongkah daging; jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya, jika ia rusak maka rusaklah jasad seluruhnya; bongkahan daging itu adalah QALBU”.

Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak?

Bahasa Arab mengenal qalbu dalam bentuk fisik yang di dalam kamus didefinisikan sebagai ‘organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri’. Jadi, qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung. Jantung adalah bongkahan daging yang kalau ia baik maka seluruh jasad akan baik atau sebaliknya kalau ia rusak maka seluruh jasad akan rusak.

2. Qalbu ruhani, yaitu hatinurani. Ada juga jenis qalbu yang kedua, sebagaimana digambarkan dalam hadits berikut:

“Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya”. (HR Ibnu Majah)

Jadi kalau banyak dosa qalbu akan dipenuhi oleh bercak-bercak hitam, bahkan keseluruhan qalbu bisa jadi menghitam. Apakah para penjahat jantungnya hitam? Apakah para koruptor jantungnya hitam? Tanyakanlah kepada para dokter bedah jantung, apakah jantung orang-orang jahat berwarna hitam? Mereka akan katakan tak ada jantung yang menghitam karena kejahatan dan kemaksiatan yang dibuat. Lalu apa maksud hadits Nabi di atas? Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu ruhani. Ruh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena ruh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) ruh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.

Rupanya, istilah qalbu mirip dengan heart dalam bahasa Inggris, sama-sama memilki makna ganda. Heart dapat bermakna jantung (heart attack, serangan jantung) dapat juga bermakna hatinurani (you’re always in my heart, kamu selalu hadir di hatinuraniku). Maka apabila mendengar perbincangan tentang qalbu perhatikanlah konteksnya. Kalau yang berbicara adalah dokter medis, tentu qalbu yang diucapkannya lebih bermakna jantung. Tapi bila dikaitkan dengan perbincangan tentang moral, iman atau spiritualitas, maka maknanya lebih mengarah pada hatinurani yang wujudnya ruhaniah.