Archive for the ‘Motivasi dan Inspirasi’ Category

Keajaiban Syukur Melampaui Money Magnet Technique

Alhamdulillah, dalam setiap workshop yg saya adakan. Entah kenapa tanpa alasan yang jelas. Terkadang Ilham keilmuan atau sebuah tekhnik baru datang begitu saja ke dalam hati…

Saat workshop kemarin, tanpa sengaja saya mendapat ilham tentang sebuah Tekhnik Ajaib yang disebut KEAJAIBAN SYUKUR, dan menurut feeling yg saya rasakan. Tekhnik ini kedahsyatannya sangat luar biasa sekali….Bahkan melampaui semuan tekhnik Money Magnet yang saya ketahui…..Dan bisa juga digunakan untuk memperbaiki kondisi kesehatan agar menjadi lebih baik, kondisi rumah tangga agar lebih harmonis, Memastikan agar semua impian lebih mudah untuk diraih, dll. Dan keajaibannya bisa langsung dapat dirasakan….

hmm…tak sabar rasanya untuk segera membagikan tekhnik baru ini di Next Event NAQS DNA (Surabaya 22 & 23 Sept. 2012).

INFO KLIK : http://www.naqsdna.com/2012/09/workshop-naqs-dna-surabaya-22-23-sept-12.html

Arti Kata SYUKUR (Pujian, Terima kasih)
Kata syukur (شُكُوْر) adalah bentuk mashdar dari kata kerja syakara – yasykuru- syukran – wa syukuran – wa syukranan (شَكَرَ – يَشْكُرُ – شُكْرًا – وَشُكُوْرًا – وَشُكْرَانًا). Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf syin (شِيْن), kaf (كَاف), dan ra’ (رَاء), yang mengandung makna antara lain ‘pujian atas kebaikan’ dan ‘penuhnya sesuatu’.

Menurut Ibnu Faris bahwa kata syukur memiliki empat makna dasar.

  1. Pertama, pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh, yakni merasa ridha dan puas sekalipun hanya sedikit, di dalam hal ini para pakar bahasa menggunakan kata syukur untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput.
  2. Kedua, kepenuhan dan ketabahan, seperti pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat شَكَرَةُ الشَّجَرَة (syakarat asy-syajarah).
  3. Ketiga, sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).
  4. Keempat, pernikahan atau alat reproduksi.

Dari keempat makna ini, M. Quraish Shihab menganalisis bahwa kedua makna terakhir dapat dikembalikan dasar pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Yakni, makna ketiga sejalan dengan makna pertama yang menggambarkan kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedangkan makna keempat sejalan dengan makna kedua karena dengan pernikahan atau alat reproduksi dapat melahirkan anak. Dengan demikian, makna-makna dasar tersebut dapat diartikan sebagai penyebab dan dampaknya sehingga kata syukur (شُكُوْر) mengisyaratkan, “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur”.

Al-Asfahani menyatakan bahwa kata syukur mengandung arti ‘gambaran di dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan’. Pengertian ini diambil dari asal kata syukur (شُكُوْر) –seperti dikemukakan di atas– yakni kata syakara (شَكَرَ), yang berarti ‘membuka’ sehingga ia merupakan lawan dari kata kafara/kufur (كَفَرَ\كُفُوْر), yang berarti ‘menutup’, atau ‘melupakan nikmat dan menutup-nutupinya’. Jadi, membuka atau menampakkan nikmat Allah antara lain di dalam bentuk memberi sebahagian dari nikmat itu kepada orang lain, sedangkan menutupinya adalah dengan bersifat kikir.

Kata syukur (شُكُوْر) di dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 75 kali tersebar di dalam berbagai ayat dan surat di dalam Alquran. Kata syukuran (شُكُوْرًا) sendiri disebutakan hanya dua kali, yakni pada S. Al-Furqan (25): 62 dan S. Al-Insan (76): 9.

Kata syukuran (شُكُوْرًا) yang pertama digunakan ketika Allah Swt. menggambarkan bahwa Allah yang telah menciptakan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Di dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Kasir berpendapat bahwa Allah Yang Mahasuci menjadikan malam dan siang silih berganti dan kejar-mengejar, yang kesemuanya itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hedaknya direnungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur kepada-Nya.

Kata syukuran (شُكُوْرًا) kedua yang terdapat di dalam S. Al-Insan (76): 9 digunakan oleh Alquran ketika Allah menggambarkan pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada orang-orang fakir dan miskin yang tiada lain yang mereka harapkan kecuali keridaan Allah Swt; dan mereka tidak akan pernah mengharapkan dari mereka yang diberi itu balasan serta ucapan terimakasih atas pemberian itu. M. Quraish Shihab menukilkan bahwa adalah Ali bin Abi Talib dan istrinya, Fatimah, putri Rasulullah Saw. memberikan makanan yang mereka rencanakan menjadi makanan berbuka puasa kepada tiga orang yang membutuhkan, dan ketika itu mereka membaca ayat di atas. Karena itu, dari sini dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah di dalam sifat-sifat-Nya dan mencapai peringkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti syukur; di dalam arti, balasan dari yang diberi, atau ucapan terimakasih.

Kalau kata syakara (شَكَرَ) merupakan antonim dari kata kafara (كَفَرَ) maka bentukan dari kedua kata ini pun sering diperhadapkan di dalam Alquran, antara lain pada S. Ibrahim (14): 7. Jadi, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat”, sedangkan hakikat kufur adalah “menyembunyikan nikmat”. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya. Di samping itu, berarti juga menyebut-nyebut nikmat serta pemberinya dengan lidah (S. Adh-Dhuha [93]: 11). Demikian pula pada S. Al-Baqarah (2): 152. Para mufasir menjelaskan bahwa ayat yang disebut terakhir ini mengandung perintah untuk mengingat Allah tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur yang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya. Di dalam kaitan ini, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Kata syukur (شُكُوْر) juga berarti ‘puji’; dan bila dicermati makna syukur dari segi pujian maka kiranya dapat disadari bahwa pujian terhadap yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Dengan begitu, setiap yang baik yang lahir di alam raya ini adalah atas izin dan perkenan Allah. Apa yang baik dari kita, pada hakikatnya adalah dari Allah semata; jika demikian, pujian apapun yang kita sampaikan kepada pihak lain, akhirnya kembali kepada Allah jua. Jadi, pada prinsipnya segala bentuk pujian (kesyukuran) harus ditujukan kepada Allah Swt. Di dalam hal ini, Alquran memerintahkan umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya (S. Al-Baqarah [2]:152 dan S. Luqman [31]: 12. Itu sebabnya kita diajarkan oleh Allah untuk mengucapkan “Alhamdulillah” (اَلْحَمْدُ ِلله), di dalam arti ‘segala puji (hanya) tertuju kepada Allah’. Namun, ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Misalnya, Alquran secara tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua orang, yang menjadi perantara kehadiran kita di pentas dunia ini (S. Luqman [31]: 14).

Pada sisi lain, Alquran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedangkan Allah sama sekali tidak memperoleh, bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya (S. An-Naml [27]: 40). Akan tetapi, karena kemurahan Allah, Dia menyatakan diri-Nya sebagai Syakirun ‘Alim (شَاكِرٌ عَلِيْمٌ) di dalam S. Al-Baqarah (2): 158 dan Syakiran ‘Alima (شَاكِرًا عَلِيْمًا) di dalam S. An-Nisa’ (4): 147, yang keduanya berarti ‘Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui’; di dalam arti, Allah akan menganugerahkan tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk yang bersyukur. Demikian M. Quraish Shihab.

Di dalam Alquran, selain kata syukur (شُكُوْر) ditemukan juga kata syakur (شَكُوْر). Kata yang disebut terakhir ini berulang sebanyak sepuluh kali, tiga di antaranya merupakan sifat Allah dan sisanya menjadi sifat manusia. Al-Ghazali mengartikan syakur sebagai sifat Allah adalah bahwa Dia yang memberi balasan banyak terhadap pelaku kebaikan atau ketaatan yang sedikit; Dia yang menganugerahkan kenikmatan yang tidak terbatas waktunya untuk amalan-amalan yang terhitung dengan hari-hari tertentu yang terbatas. Di dalam pada itu, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ada juga hamba-hamba Allah yang syakur, walau tidak banyak, sebagaimana firman-Nya di dalam S. Saba’ (34): 13. Dari sini, tentu saja makna dan kapasitas syakur hamba (manusia) berbeda dengan sifat yang disandang Allah. Manusia yang bersyukur kepada manusia/makhluk lain adalah dia yang memuji kebaikan serta membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak dari apa yang telah dilakukan oleh yang disyukurinya itu. Syukur yang demikian dapat juga merupakan bagian dari syukur kepada Allah. Sebab, berdasarkan hadis Nabi Saw, “Wa-man lam yasykur an-nas lam yasykur Allah” (وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لمَ ْيَشْكُرِ اللهَ = Siapa yang tidak mensyukuri manusia maka dia tidak mensyukuri Allah). (HR. Abu Daud dan At-Turmuzi). Hadis ini antara lain berarti bahwa siapa yang tidak pandai berterimakasih (bersyukur) atas kebaikan manusia maka dia pun tidak akan pandai mensyukuri Allah karena kebaikan orang lain yang diterimanya itu bersumber dari Allah juga. Jadi, syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya serta dorongan untuk bersyukur dengan lidah dan perbuatan.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kata syukur (شُكُوْر) dan kata-kata yang seakar dengannya di dalam Alquran meliputi makna ‘pujian atas kebaikan’, ‘ucapan terimakasih’, atau ‘menampakkan nikmat Allah ke permukaan’, yang mencakup syukur dengan hati, syukur dengan lidah, dan syukur dengan perbuatan. Di dalam hal ini, syukur juga diartikan sebagai ‘menggunakan anugerah Ilahi sesuai dengan tujuan penganugerahannya’.

Benih Ajaib Kesuksesan

What ever the mind of man can conceive & believe, it can achieve!

Orang sukses belajar bahwa “apa pun yang dapat dipikirkan dan diyakini oleh pikiran manusia dapat pula dicapai oleh pikiran manusia”. Orang ini terus-menerus berusaha hingga bisa mengubah batu sandungan menjadi batu loncatan. Ia tahu di balik kemalangan akan datang benih yang menumbuhkan kebaikan yang sepadan. —Napoleon Hill

“Imajinasi Adalah Bengkel Di Benak Anda, Dia Mampu Mengubah Energi Menjadi Pencapaian Dan Kemakmuran.”-Napoleon Hill

“Sebelum Seseorang Mencapai Kesuksesan, Dia Pasti Akan Berhadapan Dengan Kekalahan Dan Mungkin Beberapa Kegagalan.”-Napoleon Hill

Hidup ini memerlukan inspirasi dan motivasi, agar Anda bisa selalu bergairah dan bersemangat dalam menjalankan setiap proses hidup yang harus Anda jalani. Salah satu orang yang paling rajin memberi inspirasi dan motivasi buat banyak orang adalah Napoleon Hill, beliau telah menginspirasi banyak orang dengan rangkaian kata-kata yang maha dahsyat.

Kata-kata Napoleon Hill tidak saja mampu membangkitkan kita yang sedang putus asa, tapi lebih dari itu beliau mampu memberikan nilai-nilai kehidupan baru yang kaya dengan semangat kebaikan. Napoleon Hill selalu berkata bahwa tujuan adalah sebuah impian dengan tenggat waktu, dan tindakan adalah ukuran nyata dari kecerdasan.

Beliau juga selalu mengingatkan banyak orang bahwa semua kesuksesan, semua kekayaan yang berhasil diraih, berawal dari sebuah gagasan.

Dan menurut beliau, semua terobosan yang dibutuhkan dalam hidup Anda sedang menunggu dalam imajinasi Anda. Imajinasi adalah bengkel di benak Anda, dia mampu mengubah energi menjadi pencapaian dan kemakmuran.

Selanjutnya, beliau juga menjelaskan bahwa ide, rencana, atau tujuan apa pun dapat dipatri di dalam benak dengan memikirkannya terus-menerus. Dan, salah satu kata-kata penuh makna dari Napoleon Hill adalah ketika beliau berkata bahwa sebelum seseorang mencapai kesuksesan, dia pasti akan berhadapan dengan kekalahan dan mungkin beberapa kegagalan. Ketika kekalahan menimpa seseorang, hal yang paling mudah dan yang paling masuk akal dilakukan adalah menyerah. Justru itulah yang telah dilakukan hampir semua orang.

Napoleon Hill telah mengingatkan banyak orang untuk selalu merawat harapan dan impian, dengan cara menganggap semua harapan dan impian itu seolah-olah adalah anak-anak jiwa Anda dan cetak biru dari pencapaian puncak kehidupan Anda.

Untuk itu, ciptakan sebuah rencana yang pasti untuk melaksanakan hasrat Anda dan mulailah segera. Siap atau tidak, segera ubah rencana tersebut menjadi tindakan. Dan jangan menunda. Sebab, tidak akan pernah ada waktu yang tepat bila Anda hanya diam menunggu tanpa bertindak.

Napoleon Hill juga mengingatkan bahwa Thomas Alpa Edison pernah gagal 10.000 kali sebelum beliau menciptakan lampu listrik. Jadi, jangan pernah patah semangat, meskipun Anda berkali-kali mengalami kegagalan. Menurut Napoleon, setiap kemalangan, setiap kegagalan, setiap rasa sakit hati pasti membawa benih keberuntungan yang setimpal atau bahkan lebih besar.

Oleh sebab itu, teruslah menjaga diri dengan api semangat dan jangan pernah ada kata-kata putus asa di kamus hidup Anda.

Hukum menabur dan menuai mengatakan bahwa : kita pasti akan menuai apa yang kita tanam. Bila kita menanam bibit padi, pasti kita akan menuai panenan padi. Tidak mungkin kita akan menuai jagung, bukan ?.

Demikian juga pikiran kita ibarat sebidang tanah yang subur, bila kita menanam bibit pikiran yang positif, pasti kita akan menuai buah pikiran yang positif. Demikian sebaliknya bila kita memikirkan sesuatu yang negatif, maka yang negatif lah yang akan datang.

Maka dari itu, Keberhasilan seseorang dalam pekerjaan maupun dalam kehidupannya, sangat di pengaruhi oleh apa yang mereka tanamkan pada pikirannya. Dan apa yang anda bayangkan tentang diri anda, itu sebetulnya anda menanamkan suatu bibit pikiran ke dalam pikiran anda, dimana apa yang anda bayangkan pada akhirnya akan menjadi siapa diri anda atau menjadi citra diri ada.

Pada bukunya The Message of a Master, John McDonald mengatakan :
“ Suatu gambaran yang terukir dengan kuat dalam pikiran – apa pun bentuknya – akan muncul ke permukaan “.

Jadi apa pun yang anda pikirkan dan menetap cukup kuat dan lama, maka itu yang akan menjadi siapa diri anda. Dia akan muncul kepermukaan.

Bila anda selalu mengisi pikiran anda dengan ketidak-mampuan, ketidak-cukupan, ketidak-bahagiaan, kekesalan dan kemiskinan; dan pikiran ini menetap dan mengakar pada pikiran anda. Maka pikiran ini akan di manifestasikan keluar menjadi realitas hidup anda, dalam hal ini artinya anda menanam bibit kegagalan, bukan bibit kesuksesan.

Untuk hidup yang sukses, kita harus membangun citra diri yang positif, yaitu kita harusnya senantiasa menggambarkan diri sendiri sebagai orang yang sukses, merasakan di dalam hati kesuksesan itu, dan berprilaku seolah-olah anda telah sukses. Ini yang seharusnya kita tanamkan dalam pikiran kita, sehingga terukir dan mengakar pada pikiran kita. Dan tentunya setiap hari harus kita sirami dengan keyakinan. Apa yang sudah mengakar kuat pada pikiran kita, akan menjadi kesadaran kita, maksudnya pikiran itu akan senantiasa muncul pada layar kesadaran kita dan kita akan selalu mengingatnya.

Bila pikiran kita terisi dengan hal-hal yang berhubungan dengan kesuksesan, dan ini selalu kita ingat pada pikiran kita, maka potensi yang tersembunyi di dalam diri kita akan bisa keluar dan termanifestasikan. Dan secara tidak anda sadari kreatifitas itu akan mengalir dan bahkan aliran itu melimpah.

Selain itu, bila anda telah berfokus pada pikiran tentang kesuksesan, maka jalan itu akan terbuka sedikit demi sedikit, segala rintangan sudah pasti bisa anda atasi dan pada akhirnya anda bisa mencapai keberhasilan yang anda inginkan.

Bila anda merubah citra diri anda menjadi lebih positif, anda akan jauh lebih mudah mencapai sasaran atau tujuan itu tanpa harus megeluarkan energi yang besar.

Akhir kata, citra diri anda bisa membuat anda sukses atau gagal; bisa membuat anda bahagia atau menderita. Rubahlah citra-citra anda sedemikian positifnya dan kebebasan, kesuksesan dan kebahagiaan akan berada di genggaman tangan anda.

Dapatkan Benih Ajaib Kesuksesan Anda DI SINI…

Limiting Belief, Sebuah Penjara Pikiran

Anda tentu sudah tahu seekor gajah, bukan…?
Seekor gajah dewasa biasanya mencapai berat 5.5 ton – 7.7 ton, di mana mereka sebenarnya mampu menghancurkan sebuah mobil seperti layaknya kita menghancurkan sebuah kaleng minuman. Ironisnya, dengan kekuatan yang luar biasa yang mereka miliki, para gajah sirkus hanya diikat dengan sebuah rantai kakinya dan rantai tersebut ditancap ke tanah dengan hanya sebuah paku besar. Setelah itu, gajah-gajah tersebut tidak bisa melarikan diri.

Apa yang menyebabkan gajah ini tidak bisa melarikan diri?

Jawabannya sederhana. Gajah-gajah ini sejak kecil telah diikat dengan sangat kencang dengan cara yang sama. Kaki mereka diikat ke sebuah rantai dan rantai tersebut dikaitkan ke sebuah paku di tanah. Namun pada saat itu, mereka masih terlalu kecil dan belum memiliki kekuatan untuk mencabut rantai tersebut. Sehingga seberapa besar pun upaya gajah-gajah kecil ini, mereka tidak bisa lepas. Bahkan usaha mereka hanya menghasilkan luka di kaki mereka, karena tergesek oleh rantai terus menerus. Lama kelamaan, hal ini membuat mereka menyerah berusaha. Bahkan sampai mereka dewasa dan telah mempunyai kekuatan untuk melepaskan diri, mereka telah yakin bahwa mereka tidak akan pernah bisa lepas dari rantai tersebut. Oleh karena keyakinan tersebut, mereka tidak bisa lepas dari rantai mereka. Bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan, tapi hanya karena tidak pernah lagi mencoba dan berusaha melepaskan diri. Para gajah ini telah terkurung selamanya oleh penjara keyakinan mereka. Itulah Limiting Belief, keyakinan terbatas yang memenjara Potensi diri si gajah.

Hal yang sama sering terjadi dengan diri kita. Saat kita pertama kali mencoba banyak dan gagal. Saat kita mencoba untuk mengikuti pemilihan Ketua Organisasi di sekolah atau di universitas, kemudian kita tidak terpilih. Saat kita mencoba berbicara di depan umum, kemudian kita ditertawakan karena kita grogi. Saat kita mencoba banyak hal lainnya beberapa kali dan tetap gagal. Kita terkadang langsung percaya dan yakin kalau kita tidak akan pernah berhasil lagi setelahnya. Padahal kita selama ini gagal, mungkin hanya karena kita belum mengembangkan suatu kemampuan yang tepat saja. Tetapi keyakinan kita telah terlalu kuat dan menahan kita selamanya pada suatu kondisi, di mana kita tidak dapat menjalankan potensi kita secara maksimal!

Gajah merupakan mamalia terbesar dan terkuat yang hidup di darat (mamalia terbesar di dunia adalah ikan paus). Saat pertama kali mereka terlahir di dunia, mereka sudah ditakdirkan memiliki kelebihan dan kekuatan tersebut nantinya. Tapi para pawang sirkuslah yang membuat mereka menjadi mamalia terbesar dan terkuat di darat, yang tidak bisa lari dari lilitan rantai kecil di kaki mereka. Lingkungan yang membuat mereka tidak berdaya. Kita manusia juga sama. Seringkali “rantai” tersebut bukan kita yang melilitkan, tetapi lingkungan, orangtua, keluarga, pasangan, teman, bahkan masyarakat. Mereka mengatakan dan menanamkan pada diri kita banyak hal yang nantinya akan terus merantai kita selamanya.

Di akhir tulisan saya yang terakhir, saya ada menuliskan bahwa Tuhan sebenarnya telah menganugerahkan kita kemampuan untuk mengatasi semua hambatan dan mencapai semua mimpi kita. Tugas kita hanyalah bagaimana caranya kita percaya, menemukan dan memaksimalkan anugerah Tuhan tersebut. Kata-kata tersebut bukanlah hanya kata-kata motivasi semata, teman-teman. Kata-kata tersebut sangat benar! Kita dilahirkan dengan semua kemampuan untuk sukses!

Untuk lebih jelasnya, mari kita renungkan kembali diri kita atau siapapun yang kita kenal, jauh saat kita masih kecil. Setiap anak kecil, memiliki semua karakteristik yang diperlukan untuk menjadi sukses. Menurut hampir semua buku dan semua pembicara, untuk menjadi sukses kita memerlukan :

KEBERANIAN UNTUK BERMIMPI BESAR,
KEYAKINAN LUAR BIASA,
KREATIVITAS,
KEINGINTAHUAN DAN NIAT BESAR UNTUK BELAJAR ,
PANTANG MENYERAH,
ANTUSIASME.

Fakta yang menarik adalah tidak semua orang dewasa memiliki hal tersebut, tetapi SEMUA ANAK KECIL memiliki hal tersebut!!

Anak kecil selalu mempunyai cita-cita yang terkadang terdengar mustahil atau susah sekali (mau jadi astronot, mau jadi presiden, mau jadi dokter, bahkan mungkin saat ini mereka ingin jadi SUPERMAN, IRON MAN atau X-MEN!). Dan anak-anak itu sangat percaya kalau mereka akan bisa menjadi orang yang mereka idamkan!

Anak kecil selalu memiliki ide-ide kreatif, yang bagi kita terdengar aneh dan masuk akal. Tapi perlu kita ingat teman-teman, semua penemuan terhebat di dunia, dimulai dari ide kreatif yang “aneh”.

Anak kecil juga selalu bertanya dan bertanya. Mereka dipenuhi rasa keingintahuan yang besar dan segera belajar mencari tahu tentang apa yang menarik rasa penasaran mereka. Dan pertanyaan-pertanyaan mereka pun kadang-kadang buat kita mati kutu dalam menjawabnya.

Para manusia “mini” ini juga seorang dengan kegigihan, kekuatan tekad dan pantang menyerah! Anak kecil untuk bisa berjalan dan berlari, telah jatuh berkali-kali, tetapi selalu bangun dan tidak takut untuk kembali melangkah. Kalau mereka ingin sesuatu, terkadang mereka akan dengan segenap kekuatan dan niat, merengek ke orangtua untuk memenuhi keinginan mereka. Jika orangtua masih belum mengijinkan, mereka tidak akan putus asa. Anak-anak itu pasti akan kembali dengan cara yang baru dan unik untuk merengek dan memaksa orangtua. Dan terkadang hampir sebagian besar keinginan mereka berhasil dipenuhi!

Dan yang terpenting mereka selalu menjalani setiap harinya dan setiap kegiatan mereka dengan antusias dan kebahagiaan.

Teman-teman, jika kita waktu kecil telah memiliki semua karakteristik untuk sukses, mengapa saat kita dewasa, kita kehilangan hampir sebagian besar karakteristik tersebut?

Teman-teman, kita seperti layaknya gajah-gajah sirkus, kita telah dirantai oleh lingkungan kita. Sejak kecil, mereka seringkali menjatuhkan vonis tentang apa yang kita bisa dan apa yang tidak mungkin terjadi dalam hidup kita. Kreativitas kita dibunuh oleh lingkungan kita, karena kreativitas kita tidak sesuai dengan norma jalan pikir yang ada.

Sebagai contoh paling sederhana, saat kita menggambar pemandangan, kemungkinan besar kita akan menggambar gunung. Kenapa? Karena dari kecil, lingkungan “memaksa” kita menggambar dengan seperti itu. Ketika kita bermimpi besar, misal jadi pemain bola, orangtua akan bilang “TIDAK MUNGKIN!!”

Terkadang vonis mereka telah sebegitu melekatnya, sehingga seakan-akan itu adalah keyakinan diri kita sendiri. Mereka memang berniat baik ketika berkata seperti itu, mereka hanya ingin memberi “hadiah” kepada kita. Tapi kita harus hati-hati dalam menerima “hadiah-hadiah” keyakinan tersebut. Jangan sampai “hadiah” tersebut merengut seluruh mimpi dan hidup kita. Tugas kita saat ini adalah menemukan kembali keyakinan yang kita miliki saat kecil, dan jangan biarkan semua perkataan orang lain merengut mimpi kita.

LYSA (Let Your Spirit Arise)
Dua orang kakak beradik, Floyd Cunningham (10 tahun) dan Glenn Cunningham (8 tahun), menjadi korban dalam sebuah kebakaran sekolah. Floyd meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Glenn mengalami luka bakar parah pada kedua kakinya. Ia kehilangan hampir semua daging pada kedua lutut dan tulang keringnya, dan kehilangan semua jari telapak kaki kirinya. Para dokter yang menangani Glenn, merekomendasi agar kedua kaki Glenn diamputasi. Hal ini kemudian tidak jadi dilakukan karena Glenn meminta dan memohon kepada kedua orangtuanya untuk tidak mengijinkan para dokter mengamputasi kakinya. Dokter telah memprediksikan dan memvonis bahwa Glenn tidak bisa berjalan lagi.

Tapi dengan keyakinan, tekad dan usaha yang luar biasa (dan pijitan di kaki Glenn dari orangtuanya setiap hari), kurang lebih 2 tahun setelah kejadian tersebut Glenn pertama kalinya mencoba untuk kembali berjalan. Singkat cerita akhirnya Glenn berhasil bisa berjalan, bahkan ia bisa berlari!! Ia memutuskan menjadi atlet lari. Hasil yang diperoleh luar biasa, dari tahun 1932 – 1934, ia memenangi 6 Kejuaraan Lari Indoor. Kemudian di tahun 1936, ia memenangi medali perak di Olimpiade Berlin. Pada tahun 1938, ia mencetak rekor sebagai pelari 1 mill tercepat di dunia (saat ini rekornya sudah dipecahkan oleh beberapa pelari lainnya). Pada tahun yang sama pula, ia meraih gelar doktoralnya dari Universitas New York.

dr. Glenn Cunningham mempunyai nama julukan “the Kansas Flyer”, “ the Elkhart Express” dan “the Iron Horse of Kansas”. Sebuah taman di tempat asalnya, Elkhart, Kansas, diberi nama sesuai dengan namanya sebagai penghargaan untuk dirinya. Dari anak kecil yang sudah divonis tidak akan berjalan sampai menjadi salah satu pelari tercepat di masanya. Glenn Cunningham menunjukkan arti sebuah keyakinan.

Source : The Deadliest Prison on Earth

Pelita Si Buta

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”

Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”

Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.

Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”

Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.

Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”

Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”

Si buta tertegun..

Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”

Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.”

Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.

Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”

Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.”

Senyap sejenak.

secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?

Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa.

Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.

Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. 
Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup, karena digunakan untuk menyalakan pelita yang lainnya. Dan Cahaya Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.

Sok Alim, Sok Bijak, Sok Suci, & Rahasianya

SOK ALIM, SOK BIJAK, SOK BAIK, SOK SUCI…

Apakah benar dan dibenarkan bila kita menjadi Sok Alim, Sok Bijak, Sok Baik, Sok Suci, dan sok-sok lainnya…..??

Saya Jawab :
Suatu perbuatan dikatakan sok, itu artinya perbuatan tersebut dilakukan secara berpura-pura. Atau bukan merupakan tabiat asli kita…. Dan berpura-pura selama ditujukan untuk membentuk karakter diri pribadi sebagai suatu pembelajaran sebelum kita meraih kondisi yang diharapkan, maka itu adalah suatu cara yang benar dan dibenarkan oleh saya.

Yang tidak benar, adalah bila perilaku sok tersebut ditujukan untuk sekedar sombong-sombongan atau sekedar ingin mendapat pujian dari orang lain….

Dasarnya begini :
Pikiran Alam Bawah sadar tidak bisa membedakan antara sungguh-sungguh atau sekedar pura-pura. Apapun pesan yg disampaikan oleh pikiran sadar anda, baik nyata atau sekedar imajinasi. Semuanya akan ditanggapi dengan serius oleh fikiran bawah sadar dan dijadikan perintah untuk ditindak lanjuti. Alam bawah sadar adalah Bawahan pikiran sadar yg sangat patuh…

Jadi, bila saat ini ini anda belum bisa menjadi orang yang baik, belum bisa menjadi orang yang bijak, alim, suci, dll… Namun anda berpura-pura saja anda sudah menjadi menjadi orang baik, orang alim, orang suci, dll. Serta anda dalam setiap perkataan dan perberbuatan seolah-olah anda adalah demikian. Maka lambat laun tapi pasti, anda akan betul-betul menjadi orang yang baik, yang bijak, dan yang suci…..

So…
Biarkan anjing menggonggong…(karena memang hanya itu yang bisa dilakukan oleh anjing….).
Dan Tetaplah lakukan perubahan diri untuk menjadi lebih baik………..

Percaya adalah meyakini sesuatu walaupun saat itu belum dapat dilihat secara nyata dan secara langsung, dan buahnya adalah melihat apa yang dipercayai secara nyata dan secara langsung……..

PURA-PURA SUKSES = 75%SUKSES
Ada sebuah rahasia kehidupan yang unik mengenai pura-pura yang sangat sederhana namun sangat mengena dan bermanfaat untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang yang memulai pagi harinya dengan pura-pura malas/sakit, yang tidak terbangun segera walaupun sebenarnya dia sudah bangun dari tidurnya, akan menghabiskan seharian waktunya dengan bermalas-malasan atau malahan bisa betul-betul sakit walaupun pada mulanya dia sehat-sehat saja.

Berbeda dengan seseorang yang memulai paginya dengan berpura-pura semangat, berangkat kerja dengan berpura-pura naik mobil pribadi plus sopir pribadi walaupun sebenarnya naik angkutan kota, tersenyum dan menyapa setiap orang berpura-pura seolah-olah semua orang mengenal dirinya, bekerja dengan sangat antusias dan profesional berpura-pura sebagai seorang CEO bergaji ratusan juta rupiah/bulan walaupun sebenarnya posisinya baru seorang Administrator penjualan, misalnya.

Berpura-pura akan merupakan pesan yang disampaikan ke otak kita, bahwa kita menginginkan diri kita mengalami kondisi sesuai dengan apa yang kita pikirkan – dan otak kita tidak mengenal apakah kita sedang berpura-pura atau bersungguh-sungguh dengan pesan yang kita kirimkan.

Jadi …

  1. Kalau Anda ingin termotivasi – berpura-puralah termotivasi, dan Anda akan benar-benar termotivasi sepanjang hari.
  2. Kalau Anda ingin merasa antusias – berpura-puralah antusias, dan Anda akan benar-benar merasa antusias sepanjang hari.
  3. Kalau Anda ingin murah hati – berpura-puralah menjadi pribadi yang sangat pemurah dan orang akan benar-benar melihat Anda sebagai sosok pribadi yang murah hati.
  4. Kalau Anda ingin naik jabatan (misalkan menjadi seorang CEO) – berpura-puralah menjadi seorang CEO di tempat kerja Anda, lakukan kebiasaan-kebiasaan seorang CEO di tempat kerja Anda, dalam beberapa tahun ke depan Anda akan menjadi seorang CEO sungguhan.
  5. Kalau Anda ingin menjadi pribadi yang sukses dan jauh lebih sukses lagi dari kondisi sekarang – berpura-puralah menjadi pribadi yang sukses dengan membiasakan diri melakukan kebiasaan-kebiasaan orang yang saat ini lebih sukses dari Anda.

Berpura-puralah dengan bersungguh-sungguh pada apa yang paling Anda inginkan terjadi pada diri Anda – dalam waktu yang relatif cepat maka itulah yang akan terjadi.

“The Secret”
by. Willy Wong
Menurut “The Secret”, segala sesuatunya adalah energi, termasuk manusia sebagai makhluk spiritual. Lebih lanjut lagi, manusia sebagai salah satu bentuk energi mempunyai daya magnetis untuk menarik energi lain secara elektris dan membawa diri sendiri ke energi lain tersebut secara elektris pula. Melalui prinsip tersebut, maka manusia sebenarnya mampu mencapai apa saja yang ia inginkan dan menciptakan masa depannya sendiri hanya dengan memikirkannya terlebih dahulu melalui 3 langkah sederhana sebagai berikut:

  1. Pertama, adalah “Meminta” (“Ask”).
    Secara metaforis hal ini disebut sebagai meminta apa yang diinginkan kepada semesta dan dilakukan dengan mengetahui secara detil apa yang diinginkan serta memvisualisasikannya ke dalam pikiran.
  2. Kedua, adalah ”Percaya” (”Believe”).
    Langkah ini dilakukan dengan melibatkan tindakan, pembicaraan, dan pemikiran seakan-akan manusia sudah menerima apa yang ia minta. Bahkan untuk memulainya, manusia haruslah berpura-pura sebagaimana ia sudah mendapatkannya.
  3. Ketiga adalah ”Menerima” (”Receive”).
    Langkah ini melibatkan perasaan seperti yang dirasakan saat keinginan tersebut telah terwujud, yaitu rasa syukur dan bahagia karena sedang menerima apa yang diharapkannya.

Lebih lanjut lagi, ”The Secret” menjabarkan dalam proses pengharapan, manusia tidaklah perlu menemukan dan memikirkan bagaimana caranya itu akan dapat terwujud namun menyerahkannya saja pada Semesta (Universe).

Seperti yang telah saya ungkapkan di atas, terlepas dari hal yang mana sebenarnya ide ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru, menurut hemat saya ”The Secret” sangat memberikan kontribusi positif dalam pembentukan diri dan pengembangan motivasi yang mengarahkan manusia untuk tidak pernah berpikir untuk berputus asa dalam menjalani hidup ini. Namun seperti layaknya sebuah ide, pemahaman tentang apa yang termuat dalam ”The Secret” sangat rentan sekali untuk disalahtafsirkan (bahkan sebuah kitab suci pun dapat menimbulkan tafsiran yang salah bagi sebagian orang). Penjabaran ”The Secret” yang metaforis dapat menimbulkan persepsi yang berbeda-beda (kalau saya tidak boleh menyebutnya dengan istilah ”keliru”). Berikut beberapa catatan dan opini pribadi saya sehubungan dengan itu:

Pertama, kegiatan visualisasi diri yang dianjurkan ”The Secret” dalam langkah pertama yaitu ”Meminta” (”Ask”) sama seperti arah motivasi manusia dalam kajian ilmu Neuro Linguistic Programming / NLP (ilmu untuk memasukkan kata-kata ke dalam pikiran manusia) yaitu ”gaining pleasure” (mencari kesenangan). Namun masih terdapat satu hal lagi arah motivasi manusia yang tidak diungkap, yaitu ”avoiding pain” (menghindari kesengsaraan).

Bagi beberapa kalangan, hal ini mungkin membingungkan saat ”The Secret” menyatakan bahwa Hukum Tarik-menarik tidak memperhitungkan kata ”jangan” atau ”tidak” atau ”bukan”, sehingga ketika manusia mengatakan kata-kata penolakan, kata-kata inilah yang diterima oleh Hukum Tarik-menarik.

Pendapat tersebut sesungguhnya benar adanya, dan diyakini pula dalam NLP yang mana memahami bahwa pikiran bawah sadar manusia tidak mampu memfilter kata ”jangan”, ”tidak”, ataupun ”bukan”. Namun dalam pembangunan motivasi manusia, kegiatan ”avoiding pain” merupakan arah tindakan yang tetap berguna, bahkan bagi sebagian orang lebih efektif untuk dilakukan.

Lalu bagaimanakah yang terjadi saat dalam seminar dan pelatihan motivasi, sering dilakukan kegiatan meditasi atau hipnoterapi yang juga menitikberatkan kegiatan ”avoiding pain”? Sebenarnya tidak ada yang salah ataupun bertentangan dalam hal ini, dengan catatan ”avoiding pain” dilakukan terlebih dahulu pada sesi awal kegiatan meditasi atau hipnoterapi tersebut, baru sesudahnya penitikberatan pikiran dialihkan ke kegiatan ”gaining pleasure”. Sehingga tindakan ”avoiding pain” tidak mengendap dalam pikiran bawah sadar manusia dan segera digantikan oleh ”gaining pleasure”, sehingga kembali bersesuaian dengan Hukum Tarik-menarik yang diharapkan.

Kedua, ”The Secret” tidak mengungkap secara jelas proses pengharapan yang layaknya diwujudkan pula dengan tindakan realistis untuk meraih harapan yang diinginkan. Penjabaran yang menyatakan bahwa manusia tidaklah perlu menemukan dan memikirkan caranya, mengundang potensi untuk ditafsirkan tidak adanya ”tindakan” (action) dari masing-masing individu yang melakukannya.

Seperti yang diungkapkan oleh pakar motivasi Anthony Robbins mengenai pencapaian pribadi lewat bukunya ”Unlimited Power” sedianya harus terdapat sebuah lingkaran tak terputus yang terbentuk lewat proses ”Kepercayaan” (Belief), Potensi (Potent), Tindakan (Action), dan Hasil-hasil (Results) yang akan menumbuhkan lagi kepercayaan tersebut.

Meskipun proses Tindakan (Action) yang seharusnya menjadi proses wajib tersebut tidak dimuat dalam ”The Secret”, bukan berarti “The Secret” tidak menganjurkannya. Terlebih lagi meskipun manusia tidak perlu memikirkan cara bagaimana itu dapat terwujud, bukan berarti manusia tidak perlu mengusahakannya. Sebagai catatan, definisi langkah kedua yaitu ”Percaya” (”Believe”) yang telah disebutkan di atas adalah melibatkan tindakan, pembicaraan, dan pemikiran seakan-akan manusia sudah menerima apa yang ia minta. Patut digarisbawahi secara jelas kata ”tindakan” untuk tidak menyesatkan kita dalam hal ini.

Ketiga, langkah ”Percaya” (”Believe”) dalam “The Secret, apabila tidak dipahami dengan baik bahkan dapat menimbulkan efek kontradiktif dari pemikiran bawah sadar manusia itu sendiri dan mengakibatkan kegagalan. Menurut Michael J. Losier, seorang trainer dan praktisi Neuro Linguistic Programming / NLP dalam bukunya yang berjudul ”Law of Attraction”, Hukum Tarik-menarik akan selalu merespon gerakan yang didasari oleh perasaan subjek pelaku, bukan oleh kata-kata yang diucapkan. Maka subjek pelaku perlu menyadari pula getaran pikiran yang ditimbulkan dari kata-katanya, apakah merupakan getaran yang menimbulkan nuansa positif bagi pikiran, ataukah getaran yang sebaliknya menimbulkan nuansa negatif.

Oleh karenanya, meskipun teknik afirmasi (mengucapkan kata-kata positif untuk membangun diri) tetap penting pula dan merupakan bagian dari teori NLP, sedianya patut diperhatikan pula bahwa sebuah penegasan / kata-kata (afirmasi) positif pun mampu memberikan getaran yang negatif kepada subjek pelaku. Sebagai solusinya, Michael J. Losier menganjurkan untuk menambahkan kata-kata: ”Saya sedang dalam proses…”

Penegasan Michael J. Losier tersebut seakan-akan tidak mendukung adanya kegiatan ”berpura-pura” yang dianjurkan dalam ”The Secret”. Kata-kata ”sedang dalam proses…” akan melemahkan kegiatan untuk ”berpura-pura seakan-akan pelaku sudah mendapatkannya”.

Menurut pendapat saya pribadi, meskipun hal ini tetap saja dapat diperdebatkan, tidak ada yang bertentangan dalam kedua ide tersebut. Ide Michael J. Losier diungkapkan sebagai solusi saat teknik afirmasi tersebut mengalami pertentangan dari pikiran bawah sadar si pelaku, sementara kegiatan afirmasi sendiri sebenarnya dilakukan untuk merekayasa pikiran bawah sadar manusia. Apa yang terjadi saat pikiran bawah sadar manusia menolak secara serta-merta afirmasi yang diberikan? Michael J. Losier lebih memberikan saran untuk melakukan tindakan persuasif terhadap pikiran bawah sadar dengan menstimulasi perlahan-lahan; sementara stimulasi tersebut dititikberatkan oleh ”The Secret” melalui langkah ketiga, ”Menerima” (”Receive”), yang mana subjek pelaku haruslah melibatkan perasaan seperti yang dirasakan saat keinginan tersebut telah terwujud. Perasaan yang dilibatkan ini, yaitu rasa syukur dan bahagia, akan membuka pikiran bawah sadar manusia untuk menerima afirmasi yang diberikan.

Keempat, kalimat bahwa hukum tarik-menarik tidak pernah meleset dan tidak terkecuali dapat menimbulkan pemikiran bahwa apapun yang akan kita pikirkan pasti terlaksana. Sadar ataupun tidak, pernyataan ini dapat menimbulkan sikap fanatisme berlebihan dari pelaku dan bahkan ekspetasi yang berlebihan pula.

Hal yang patut mendapat catatan dan perlu dijadikan dasar pemikiran adalah pernyataan lebih lanjut dari ”The Secret” lewat kalimat Dr Joe Vitale: ”Saya tidak memiliki buku aturan yang mengatakan bahwa mereka akan membutuhkan waktu 30 menit atau 3 hari atau 30 hari. Ini adalah soal penyelarasan Anda dengan Semesta sendiri.”

Ini selayaknya memberikan makna yang sama yang selalu didengung-dengungkan oleh banyak motivator: ”Dalam menjalani hidup ini, sebenarnya Anda tidak pernah gagal. Masalahnya hanyalah waktu.

Terakhir, patut dicermati pula pernyataan dalam bab 9 ”The Secret” berjudul “The Secret to the YOU” (“Rahasia Anda”) yang memuat definisi “Universe” (Semesta) yang dihubungkan secara keilahian dengan individu manusia sendiri. Hal ini menjadi filosofi terdalam yang menyangkut eksistensi manusia dan hubungannya dengan Semesta, dan tentu saja cukup rentan saat ditubrukkan secara harafiah ke religi masing-masing.

Saya tidak membahas ini secara mendalam karena hanya akan mengundang perdebatan dan polemik tiada akhir; namun saya pribadi merasakan tidak ada hal yang perlu menjadi kontroversi dalam pembahasan bab ini, bahkan menurut pengamatan (sementara) saya terhadap sudut religi manapun. Malahan, ”The Secret” saya anggap mampu menggambarkan perwujudan manusia dan hubungan dinamisnya dengan causa prima Pencipta secara cerdas dan filosofis tanpa harus bersinggungan secara keras dengan kepercayaan masing-masing.

Namun bagaimanapun juga, hal yang seperti ini tetap saja potensial untuk menjadi kontroversi. Saran saya, pembaca, pergunakanlah akal sehat dan nurani jernih saat mempertimbangkan filosofi ”The Secret” pada bab ini. Apabila ternyata itu tidak bersesuaian dengan hati Anda, tinggalkanlah saja bab ini dan Anda tetap dapat memperoleh manfaat tanpa harus mengindahkan filosofi yang tidak bersesuaian tersebut.

Semoga bermanfaat – Salam Sukses Selalu!

Go Blog Kwadrat..!!!

SESUNGGUHNYA ORANG BODOH ITU TIDAK ADA, YANG ADA ADALAH ORANG YANG TIDAK MAU BELAJAR.

SESUNGGUHNYA ORANG PINTAR ADALAH ORANG YANG IKHLAS MENERIMA KEBODOHAN DIRINYA, SEHINGGA MEMUNCULKAN RASA INGIN TAHUNYA DAN MENGGIATKAN DIRINYA UNTUK TEKUN MENUNTUT ILMU DEMI MEMINTARKAN DIRINYA.

Menururt KH. Muhammad Ma’shum (Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah), terdapat perbedaan mencolok antara bodoh dan goblok. Bodoh adalah orang yang belum tahu, sedangkan goblok adalah orang yang sudah tau tapi tidak mau mengerjakan.

SEDANGKAN ORANG YANG SUNGGUH-SUNGGUH BODOH ALIAS GOBLOG KUADRAT ADALAH ORANG BODOH YANG SOMBONG ALIAS SOK TAHU PADAHAL ASLINYA TIDAK TAHU, SEHINGGA TIDAK MERASA PERLU UNTUK MENAMBAH ILMU DAN PENGETAHUANNYA. PLUS SANGAT SUKA MEMPERTONTONKAN KEBODOHANNYA DI TEMPAT UMUM. SEMACAM DI FESBUK, TWITTER, ATAU DI DUNIA NYATA.

Ciri orang goblog kuadrat adalah, ketika dia tidak mengetahui akan sesuatu hal dan urusan. Bukannya dia dengan rendah hati bertanya kepada orang yang lebih dulu tahu, akan tetapi justru dia malah memperolok-olok orang yang lebih tahu dan membodoh-bodohkan orang lain tentang hal yang tidak diketahuinya tersebut….

Menjadi orang pintar sesungguhnya suatu anugerah yang luar biasa, namun kalau kita mau jujur sebenarnya tidak ada manusia yang bodoh karena bodoh adalah identik karena ketidak mengertian kita tentang satu hal sementara orang lain telah mengetahui hal itu. Jadi sesungguhnya orang pintar juga tadi nya tidak tahu namun karena usahanya untuk tahu baik dengan cara sendiri, bantuan orang lain atau cara-cara lain baik sengaja maupun tidak sengaja sehingga yang tadinya tidak mengerti jadi mengerti. Kesimpulannya orang pintar pun tadinya bodoh.

Oleh karena itu, seyogyanya kita yang mengerti haruslah membimbing orang yang belum mengerti bukan menghakimi mereka dengan sebutan BODOH. Jadi sebenarnya dalam hal ini orang pintarlah yang bodoh karena dia tidak mampu membuat orang yang tidak mengerti jadi mengerti. Kepintaran sejati adalah bagaiamana kita mampu memberikan kepintaran yang kita punya ke orang lain bukan kita merasa pintar karena telah lebih tahu dari orang lain.

Inilah perbedaan orang bodoh dan pintar ala bob sadino

Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda-beda dan menerjemahkan perjalanan hidupnya pun tak akan sama kedalam petuah-petuah kata yang bermakna. Namun bob sadino , yang sering disapa Om Bob ini memiliki pendapat yg fenomenal tentang orang bodoh dengan orang pintar dalam memulai Bisnis/Usaha .
  1. Terlalu Banyak Ide.
    Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya
  2. Miskin Keberanian untuk memulai.
    Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang “bodoh” sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang “pintar” telalu banyak pertimbangan.
  3. Telalu Pandai Menganalisis.
    Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.
  4. Ingin Cepat Sukses.
    Orang “Pintar” merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang “bodoh” merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.
  5. Tidak Berani Mimpi Besar.
    Orang “Pintar” berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang “bodoh” tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.
  6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi.
    Orang “Pintar” menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang “Bodoh” berpikir, dia pun bisa berbisnis.
  7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai.
    Orang “Pintar” yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang “bodoh” tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.
  8. Maunya Dikerjakan Sendiri.
    Orang “Pintar” berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”, sedangkan orang “bodoh” menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.
  9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan.
    Orang “Pintar” menganggap sudah mengetahui banyak hal, dan suka bicara banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan (Closing). Orang “bodoh” berpikir simple, “yang penting produknya terjual”.
  10. Tidak Fokus.
    Orang “Pintar” sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang “bodoh” tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.
  11. Tidak Peduli Konsumen.
    Orang “Pintar” sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang “bodoh” ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya, sehingga dia sangat peduli dengan kepuasan pelanggan dan sangat senang menerima saran dari pelanggan.
  12. Abaikan Kualitas.
    Orang “bodoh” kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas itu keliru, maka dia akan segera memperbaikinya. Sedangkan orang “pintar” sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.
  13. Tidak Tuntas.
    Orang “Pintar” dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang “bodoh” mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.
  14. Tidak Tahu Pioritas.
    Orang “Pintar” sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang “Bodoh” ? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas
  15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas.
    Banyak orang “Bodoh” yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang “Pintar” malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,
  16. Mencampuradukan Keuangan.
    Seorang “pintar” sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.
  17. Mudah Menyerah.
    Orang “Pintar” merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang “Bodoh” seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.
  18. Melupakan Tuhan.
    Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan “TUHAN”. Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.
  19. Melupakan Keluarga.
    Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga
  20. Berperilaku Buruk.
    Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diats kakinya sendiri.

8 Bidang Kesuksesan

FORMULA SUKSES DARI ZIG ZIGLAR
Anda dilahirkan untuk menang, tetapi untuk menjadi PEMENANG, Anda harus meRENCANAkan untuk menang, berSIAP untuk menang, dan berHARAP untuk menang.

Kesuksesan adalah upaya untuk memaksimalkan kemampuan yang ada dalam diri Anda.

Anda tidak dapat menapak tangga kesuksesan dengan memakai baju kegagalan.

Pikiran positif, akan membantu Anda melakukan sesuatu dengan lebih baik daripada pikiran negatif.

Orang yang memiliki hubungan yang baik di rumah akan menjadi lebih efektif di bidang pemasaran.

Jika Anda ingin menanggapi sebuah tujuan, Anda harus melihat tujuan itu ada dalam pikiran Anda sebelum Anda secara aktual tiba pada tujuan itu.

Jika Anda dapat bermimpi akan suatu hal, Anda bisa mendapatkan hal itu. Anda akan mendapatakan semua hal yang Anda inginkan dalam hidup jika Anda bisa membantu orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Saya percaya, menjadi sukses berarti menjaga keseimbangan antara kehidupan bisnis dengan kehidupan dalam keluarga.

Tujuan yang dirancang dengan tepat, sama dengan separuh keberhasilan yang telah diraih.

Apakah anda setuju dengan Formula sukses di atas…??
Apakah anda berminat untuk meraih sukses di segala bidang kehidupan anda..?
Apakah anda cukup mempunyai kesiapan mental dan keberanian untuk meraih sukses…?
Apakah anda betul-betul ingin sukses…?
Apakah anda ingin menginstal formula sukses tersebut ke dalam diri anda dan menjadikan sukses sebagai nama tengah diri anda…??

Jika anda setuju dengan formula di atas, maka tentu anda juga setuju bahwa anda sangat perlu untuk untuk menginstal formula di atas agar menjadi program sukses di alam bawah sadar anda sehingga kesuksesan betul-betul menjadi bagian dari hidup anda.

Bila anda sangat setuju dan sangat menginginkan sukses terjadi dalam hidup anda, maka anda perlu untuk meluangkan waktu sejenak, meluangkan sedikit tenaga serta biaya untuk menginstal program sukses tersebut ke dalam diri anda melalui pelatihan ini :

Quantum Mind Technology
FORMULASI KEAJAIBAN ALAM BAWAH SADAR & ENERGI KESADARAN QUANTUM
Untuk meningkatkan performa Personal Power Anda  serta untuk melakukan Therapy Restructuring Pikiran Bawah Sadar serta Medan Energi Aura anda, membongkar segala mental block penghambat sukses anda serta membersihkan segala aura gelap yang menghambat anda dalam meraih kesuksesan yang sejati.

QUANTUM MIND TECHNOLOGY
WORKSHOP DAHSYAT YANG AKAN MELEDAKKAN
POTENSI DIRI & KESUKSESAN ANDA

Workshop berbasis Terapi & Pemberdayaan Potensi diri ini secara khusus
di Desain dengan tujuan untuk membantu peserta pelatihan mengalami Transformasi Kehidupan secara Holistik dan Transendental.
ILMIAH, ALAMIAH, ILAHIAH

JADWAL KELAS PRIVATE :
WAKTU : TIAP HARI (HARAP JANJIAN DULU VIA SMS)
TEMPAT : NAQS DNA HYPNO NLP CENTER, SOHO OFFICE, Jl. Ketintang Baru III No. 79 Surabaya
PENDAFATARAN KE 081231649477

Tujuan pelatihan secara spesifik meliputi :

  1. Membantu peserta pelatihan menemukan dan menghancurkan berbagai mental block atau program pikiran yang selama ini menghambat keberhasilan mereka.
  2. Mengajarkan berbagai teknik terapi diri (self-therapy) yang secara klinis telah teruji mampu dengan sangat cepat membantu seseorang untuk mengenali dan menghancurkan mental block penghambat sukses di segala aspek kehidupan.
  3. Peserta pelatihan mampu melakukan self-therapy dengan efektif, cepat, dan permanen.
  4. Meningkatkan dan mengembangkan kesadaran (Mind Expansion and Ascension)
  5. Mengaktifkan dan memperkuat The Law of Attraction dalam diri untuk meraih keberhasilan, khususnya pada aspek finansial (menjadi Money Magnet).
  6. Meningkatkan kecerdasan Emosi dan Spiritual
  7. Menemukan missing link yang menjadi kunci keberhasilan di segala aspek kehidupan (Holistic Success Magnet)

Berbagai teknik reprogramming / restructuring program pikiran bawah sadar (subconscious) yang diajarkan di workshop luar biasa ini merupakan teknik-teknik pilihan yang selama ini digunakan dan menjadi andalan saya, dalam membantu sangat banyak orang berubah dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara cepat dan permanen.

Keajaiban Dunia Quantum & Dunia Kesadaran mempunyai ribuan manfaat. Mulai dari memperbaiki memori, meningkatkan inteligensi, menstabilkan hormon tubuh, menstabilkan kesehatan fisik dan psikologis, mengurangi stress, menghindari gangguan jiwa dan depresi, mendatangkan kesejahteraan & keberlimpahan, dll. Bahkan Deepak Chopra dari California seorang guru New Age berani mengatakan bisa merubah protein di tingkat DNA yang dengan begitu akan merubah dan memutasi kromosom dari genetik kita.

DEFINISI SUKSES SEJATI
Meski sukses telah menjadi kebutuhan mutlak setiap manusia toh tidak semua orang memiliki pandangan yang sama tentang arti kesuksesan. Ada yang menganggapnya sebagai kekayaan. Kelompok ini umumnya mencurahkan hidupnya untuk menumpuk harta. Mereka melihat uang sebagai simbol kesuksesan. Itulah sebabnya mereka menjadi serakah dan amat mendewakan uang. Uang menjadi oksigen yang mutlak diperlukan bagi kehidupan mereka.

Sayangnya orang-orang seperti ini hidupnya hampa. Mereka umumnya cepat curiga terhadap orang lain. Amat sulit bagi mereka untuk berpikir positif terhadap orang lain. Kalau ada yang mencoba dekat, mereka lantas berpikir, “Jangan-jangan orang ini mau mengambil harta saya.” Seorang Mahaguru kebijaksanaan pernah berkata orang yang menomorsatukan harta tidak akan menemukan arti hidup yang sejati. “Sebab di mana hartanya berada, di situlah pula hatinya berada,” demikian nasihat Sang Mahaguru.

Saya tidak memungkiri bahwa kekayaan -khususnya uang- penting bagi hidup. Siapa sih yang tidak butuh uang? Sebuah lembaga keagamaan dan lembaga sosial pun butuh uang untuk kegiatan operasionalnya. Mana bisa kita mendirikan tempat ibadah tanpa uang yang merupakan sumbangan dari orang lain? Uang memang penting tapi uang bukan segalanya. Uang adalah sarana untuk membuat hidup kita makin berarti. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Selain kekayaan, ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenangan hidup. Kelompok ini tidak suka macam-macam. Sebagian bahkan cenderung pasif dan menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat. Sikap seperti ini juga merupakan sebuah pilihan dan kita tidak bisa mengatakan itu keliru.

Ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenaran. Mereka rela menempuh jalan panjang yang menanjak demi popularitas. Terkadang perjalanan panjang ini sangat melelahkan sehingga beberapa memilih jalan pintas dengan mempraktekkan cara-cara kurang terpuji, seperti (maaf) menjual diri. Sudah bukan rahasia lagi kalau tidak sedikit penyanyi atau bintang film yang pernah tidur dengan produsernya. Tidak semua dari mereka yang mengambil jalan ini. Saya sendiri kenal dengan banyak artis yang tetap mempertahankan kehormatannya daripada ditukar dengan popularitas.

Paham bahwa kesuksesan identik dengan ketenaran biasanya hanya terbukti kebenarannya pada tahap awal. Lambat-laun, seiring makin meningkat popularitas, banyak hal-hal tertentu terjadi yang pada akhirnya membuat seorang tokoh publik (public figure) terpaksa menolak paham ini. Misalnya dengan hilangnya privacy yang bersangkutan karena setiap gerak-geriknya senantiasa diawasi masyarakat lewat pers. Terkadang saya sendiri amat iba melihat bagaimana kehidupan seorang artis “diobok-obok” secara berlebihan oleh media massa. Pihak media selalu mengatakan bahwa apa yang disajikannya adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu pembaca atau penonton. Mungkin ada benarnya juga. Yang pasti, jelaslah sudah bahwa kesuksesan tidak identik dengan ketenaran.

Selanjutnya ada juga yang mendefiniskan kesuksesan dengan kesehatan yang prima. Terhadap definisi ini terkadang saya mengajukan pertanyaan reflektif, bukankah ada begitu banyak orang dengan kesehatan yang amat prima namun hidupnya kosong? Mereka sama sekali tidak berkarya dan berusaha menjadikan hidupnya lebih berarti.

Jadi, apa sih definisi sukses yang tepat? Saya tidak berpretensi menyebut diri sebagai pakar kesuksesan karena saya pun masih terus belajar dan mencari apa arti sebuah sukses sejati. Yang pasti, saya pernah membaca satu definisi tentang sukses yang tampaknya cukup menarik untuk kita simak bersama.

Menurut motivator terkenal, Zig Ziglar, sukses sejati mencakup delapan bidang kehidupan, yakni:

  1. Kebahagiaan, 
  2. Kesehatan, 
  3. Keuangan (kemakmuran), 
  4. Keamanan, 
  5. Kualitas persahabatan (mempunyai banyak sahabat), 
  6. Hubungan keluarga yang baik, 
  7. Pengharapan akan masa depan, dan 
  8. Kedamaian pikiran

Itulah sebabnya kita sering mendengar orang berkata bahwa orang kaya belum tentu sukses, namun orang yang sukses pasti kaya secara material dan spiritual.

Meski demikian, sukses bukanlah sebuah tujuan akhir; sukses adalah sebuah perjalanan. Success is not a destination; success is a journey! Ya, sukses adalah sebuah perjalanan! Jika kita telah berhasil meraih sebuah impian, kita toh tetap harus meneruskan perjalanan. Akhir dari perjalanan itu adalah ketika kita menutup mata dan kembali ke hadirat-Nya. Motivator dan pakar kepemimpinan, Dr. John C. Maxwell selalu menegaskan agar dalam perjalanan sukses itu kita senantiasa melakukan apa yang harus kita lakukan. Intinya, tempuhlah perjalanan sukses dengan benar dan hargailah prosesnya bukan hasil akhir. Bagaimana menurut Anda?

BAHAN BAKAR SUKSES
Kumpulan kata mutiara bisnis sebagai motivasi dan landasan membangun bisnis. Kata-kata bijak tentang bisnis dan usaha. Baca dan dapatkan inspirasinya di bawah ini:

Jangan takut untuk meminta terlalu tinggi ketika menjual atau menawar terlalu rendah ketika membeli. (Warren Buffett)

Saya melakukan investasi pertama pada usia sebelas tahun. Sebelumnya saya hanya menyia-nyiakan waktu. (Warren Buffett)

Peraturan No.1 : Jangan rugi, Peraturan No.2 : Jangan pernah lupa peraturan No.1. (Warren Buffett)

Anda tidak dibayar karena waktu, tetapi Anda dibayar karena nilai yang Anda bawa ke hadapan waktu. (Jim Rohn)

Waktu lebih berarti daripada uang. Anda dapat mendapatkan lebih banyak uang, tetapi Anda tidak dapat mendapatkan lebih banyak waktu. (Jim Rohn)

Jika Anda bekerja untuk tujuan Anda sendiri maka tujuan itu akan bekerja untuk Anda. Nilai terbesar dalam hidup tidak terletak pada apa yang Anda dapat, tetapi pada Anda mau jadi apa. (Jim Rohn)

Jangan membawa kebutuhanmu ke market place, tetapi bawalah keahlianmu. Jika Anda merasa badan tidak enak, sampaikan ke dokter, bukan ke paranormal. Jika Anda memerlukan uang, pergilah ke bank dan bukan ke dukun. (Jim Rohn)

Tujuan kepemimpinan yang baik adalah membantu orang-orang agar melaksanakan sesuatu dengan baik dan juga membantu mereka yang telah melaksanakan sesuatu dengan baik agar lebih baik lagi. (Jim Rohn)

Orang yang sukses selalu mencari kesempatan untuk menolong sesama, sedangkan orang yang gagal selalu bertanya, “Apa yang aku dapat dari kesempatan itu.” (Brian Tracy)
Orang yang sukses adalah mereka yang memiliki kebiasaan sukses. (Brian Tracy)

Keluarlah dari zona nyaman Anda. Anda hanya dapat tumbuh kalau Anda ingin merasakan keadaan tak nyaman, saat Anda mencoba sesuatu yang baru. (Brian Tracy)

Anda dapat menjamin masa depan Anda dengan menginvestasikan 3% pendapatan Anda dalam usaha pengembangan diri Anda. (Brian Tracy)

Komunikasi adalah keahlian yang dapat Anda pelajari. Hal itu sama dengan keahlian mengendarai sepeda atau mengetik. (Brian Tracy)

Semua orang yang sukses adalah orang-orang yang memiliki mimpi yang besar. Mereka membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan, kemudian mereka bekerja setiap hari untuk mencapai tujuan yang telah mereka miliki dalam pikiran mereka. (Brian Tracy)

Kunci kesuksesan adalah dengan memusatkan pikiran kita pada apa yang diinginkan dan bukan pada apa yang kita takuti. (Brian Tracy)

Kesuksesan adalah pengoptimalan suatu kelebihan kegagalan adalah akumulasi dari segala kekurangan. (Cheng Yen)

Uang bukan hanya satu-satunya jawaban, tetapi uang dapat membuat suatu perubahan. (Barack Hussein Obama)

Jika Anda ingin sukses, berpikirlah seperti orang-orang sukses dan jika Anda ingin bahagia berpikirlah seperti orang bahagia. (Dr. Ibrahim Elfiky)

Jangan takut dengan kesalahan. Kebijaksanaan biasanya lahir dari kesalahan. (Paul Galvin)

Terlalu banyak orang memikirkan keamanan dibandingkan dengan peluang. Meraka kelihatan lebih takut akan kehidupan daripada kematian. (James F. Byrnes)

Visi bisa jadi adalah kekuatan terbesar kita. Ia selalu membangkitkan daya dan kesinambungan hidup; Ia membuat kita memandang masa depan dan memberi kerangka tentang apa yang belum kita ketahui. (Li Ka-shing)

SEMOGA BERMANFAAT
EDI SUGIANTO, CHt CI MNLP
FOUNDER NAQS DNA