Archive for the ‘Meditasi NAQS’ Category

Memaafkan Itu Menyehatkan & Memuliakan

Ketika ada sahabat yang lebih muda melakukan hal yang aku anggap salah bagiku, maka aku akan maklum dengan perbuatannya. Dalam hati aku kan berkata,”Maklum anak muda, belum matang dan belum luas pengalamanannya. jadi maklumlah bila masih sering salah dalam bersikap & berkata.” Dengan demikian, aku akan dengan sangat ringan untuk memaafkannya……

Dan bila ada sahabat yang lebih senior dariku melakukan hal yang aku anggap salah bagiku, maka aku akan maklum dengan perbuatannya. Dalam hati aku kan berkata,”Maklum sudah tua, jadi sudah mulai mudah lupa.” Dengan demikian, aku akan dengan sangat ringan untuk memaafkannya……

Memaafkan tidak berarti melupakan….
Karena bila dilupakan, kewaspadaan kita kan jd hilang….

Memaafkan sebenarnya adalah upaya untuk menyembuhkan nyeri dan sakit yg ada di hati kita sendiri….

Karena..
Kita tiada kuasa untuk mengubah orang lain, atau peristiwa yg telah berlalu itu. Tetapi kita punya kuasa untuk mengubah suasana hati kita sesuai dengan kehendak kita.

Masa depan masih panjang…
Masih banyak tantangan dan rintangan yang perlu ditaklukkan…
Buat apa membebani diri dengan masa lalu, yang memberati langkah kita menata hari depan yang lebih indah………..

Songsong hari esok yang lebih cerah…
Dengan penuh riang dan gembira……..

SALAM SUKSES UNTUK ANDA…

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Surah al-A’raf [7]:199)

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

“…dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At Taghaabun, 64:14)

“Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu yang termasuk perbuatan yang mulia.” (Qur’an 42:43)

“Allah tidak akan menambah kemaafan seseorang, melainkan dengan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (Hadits riyawat Bukhari dan Muslim)

MEDITASI CINTA KASIH DAN MEMAAFKAN
Banyak penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa meditasi baik untuk memberikan ketenangan pikiran. Dari segi kesehatan, meditasi membantu menurunkan tekanan darah, menormalkan detak jantung, menjaga kestabilan hormon stres (adrenalin dan kortisol).

Hasil penelitian Institutional Nation of Health , USA bahwa meditasi mampu menyembuhkan kanker. Bukan melalui pengobatan namun melalui meditasi. Meditasi mampu merangsang peningkatan sistem kekebalan tubuh yang mampu menyembuhkan penyakit kanker.

Meditasi adalah kegiatan untuk memasuki alam bawah sadar kita. Pada saat kita menyelami pikiran bawah sadar kita mengalami proses peningkatan kesadaran. Semakin dalam menyelam melalui alpha, tetha, delta, dan seterusnya, kita akan bisa mencapai puncak kehidupan spiritual. Di situ kita bisa menemukan tujuan hidup kita yang sebenarnya

Manfaat Meditasi

  1. Mampu untuk melepaskan ketegangan serta tidak mudah stress / putus asa ( dengan meditasi kita akan terbiasa melakukan unsur self management. Mengumpulkan seluruh permasalahan. Melihat prioritas dari masalah dan menyelesaikan masalah sesuai tenaga dan waktu yang ada. )
  2. Meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian dalam menghadapi pelbagai masalah ( Dengan meditasi model tertentu dengan bantuan obyek lilin akan sangat membantu kepercayaan diri )
  3. Memupuk pikiran untuk berpikir secara positif ( dengan meditasi kita akan selalu berpikiran secara baik. Memandang segala sesuatu baik yang benar ataupun salah melalui sudut pandang yang positif )
  4. Menguatkan daya ingat ( meditasi mengajarkan untuk melatih konsentrasi sehingga daya tangkap otak akan meningkat dari sebelumnya).

TATA CARA :

  1. Silahkan ambil posisi yang paling nyaman untuk anda, bisa sambil duduk ataupun berbaring.
  2. Tarik nafas dengan perlahan dan hembuskan dengan perlahan, lakukan senyaman mungkin. Dan Niatkan serta izinkan diri anda, semakin lama semakin merasa nyaman dan santai. TERSENYUMLAH….
  3. Niatkan untuk memohon kesembuhan & pemulihan diri pada Tuhan, atas apapun masalah anda. Berdoalah sesuai dengan cara yang paling nyaman dan pas menurut anda sendiri.
  4. Kemudian Izinkan Cahaya Ilahi meresap ke dalam diri anda, mulai dari ubun-ubun di atas kepala anda, lalu sebarkan ke seluruh tubuh anda. Ulangi 3 kali.
  5. Kemudian di dalam ruang mata batin (Layar Mental) anda, hadirkan satu persatu orang-orang yang menurut anda telah bersalah atau menyakiti hati anda. Kemudian Ucapkan affirmasi berikut ini ke setiap orang yang anda hadirkan satu persatu :
  6. Saya memaafkan anda dengan tulus dan sepenuh hati. Saya membebaskan dan melepas semua ikatan energi negatif antara diri saya dan anda. Mulai saat ini, apa yang pernah terjadi di antara kita, beserta semua muatan emosi negatifnya, selesai sampai di sini. Saya mendoakan semoga anda hidup bahagia dan damai. Sekarang saya telah bebas, anda juga bebas, dan semua menjadi baik di antara kita. Semoga anda hidup bahagia dan damai.
  7. Setelah di rasa cukup, biasanya ditandai dengan helaan nafas lega. Maka akhiri sesi Meditasi  anda.

Berapa kali meditasi & afirmasi ini perlu diucapkan? Bergantung pada masing-masing orang. Ada yang melakukan satu kali, dua kali, tiga kali, atau berkali-kali. Yang penting adalah setelah selesai mengucapkan afirmasi pikiran dan perasaan kita tenang dan damai. Bila selanjutnya kita membayangkan wajah orang yang pernah menyakiti kita dan sudah tidak ada lagi perasaan negatig maka saat itu berarti kita telah berhasil memaafkan orang itu.

TERAPI MAAF + IKHLAS
by. Krishnmurti

Kita tidak tahu pesan Alam Bawah Sadar kita
Tubuh kita sering mengkomunikasikan sesuatu pada kita, namun kita tidak tahu. Alam bawah sadar kita mengirimkan pesan untuk kita dalam rupa rasa sakit, tapi kita obati rasa sakit tersebut, kita “paksa” untuk hilangkan rasa sakit itu dengan berbagai obat. Padahal alam bawah sadar kita memunculkan rasa sakit, karena berawal dari rasa marah yang belum terselesaikan, tapi kita “save” di ulu hati. Rasa benci kita “simpan” di pencernaan.

Karena kita “tidak atau belum” pernah belajar cara alam bawah sadar kita berkomunikasi dengan kita, yaaa makin bingunglah kita saat mengalami sebuah rasa yang nggak nyaman dalam diri kita ini. Strategi yang kita miliki, hanyalah menelan obat pereda rasa sakit atau Pain Killer, yang akhirnya kitapun ikut jadi “Killer” atau pembunuh untuk diri kita sendiri he he he…

Rasa Sakit adalah Pesan Alam Bawah Sadar
Jika kita setuju dan meyakini bahwa rasa sakit adalah pesan dari alam bawah sadar kita, maka jauh lebih baik kita intropeksi ke dalam diri dan bertanya ke dalam diri, apa maksud alam bawah sadar kita dengan adanya sakit tersebut.

Ini akan sangat membantu penyembuhan dari dalam diri, dari pada kita mencari penyebab rasa sakit yang kita alami tersebut, di luar diri kita. Karena memang alam bawah sadar manusia sangat jenius, sangat pandai, sangat pintar, sangat kreatif. Tuhan sungguh telah memberikan rahmat yang luar biasa dalam tubuh manusia ini.

Baiklah, saya akan berbagi ide yang sangat sederhana, bagaimana kita “menyembuhkan” diri sendiri dari berbagai rasa sakit, dengan cara berkomunikasi langsung ke alam bawah sadar kita.

Berikut ini tahapan Terapi Diri Maaf + Ikhlas:
Sebelum Anda melakukan teknik terapi “Maaf + Ikhlas” ini, yakinkan diri Anda bahwa begitu mudahnya teknik ini, sehingga Anda sendiri bisa melakukannya, bahkan sangat mudah juga Anda ajarkan ke orang lain yang sekiranya membutuhkan.

1. Sentuh dengan telunjuk + jari tengah
Pada bagian tubuh yang sedang dirasa sakit, mungkin kepala bagian belakang, leher, dada, perut, kaki atau bagian manapun, sentuhlah dengan jari telunjuk dan jari tengah Anda, boleh gunakan tangan kiri, boleh gunakan tangan kanan. Bebas saja, ikuti pilihan hati Anda, karena itu tangan Anda sendiri he he…

Mengapa harus dengan 2 jari ini?
Nah, kalau ini sungguh saya juga tidak tahu he he, sungguh. Namun, seringkali tiba-tiba ide muncul begitu saja dalam benak saya, saat menghadapi sebuah situasi di lapangan. Mungkin karena niat saya yang kuat untuk membantu, mungkin… Sungguh saya “belum” tahu mengapa sentuhan paling jitu, “harus” dengan jari telunjuk dan jari tengah. Jadi, maaf saya belum punya jawaban yang “ilmiah”, yang menurut saya tidaklah terlalu penting mengapa.

2. Katakan “Maaf”
Bernafaslah lebih perlahan, makin perlahan sampai sangat perlahan, sebelum melakukan tahap ke dua ini. Lalu, lanjutkan dengan mengatakan maaf.

Ya, katakan maaf pada bagian tubuh yang dirasa sakit, yang Anda sentuh dengan jari telunjuk dan jari tengah tadi. Sampaikan dengan sungguh-sungguh. Boleh diucapkan, boleh dalam hati. Jangan keras-keras, nanti disangka “edan” oleh tetangga he he…

Katakan maaf, karena selama ini kita tidak memahami apa maksud pesan yang ingin disampaikan oleh alam bawah sadar kita sendiri, melalui rasa sakit itu. Sehingga pesan itu terabaikan. Sekali lagi katakan maaf dengan sungguh-sungguh.

Contoh:
“Maaf ya leher yang sakit, saya mengabaikanmu selama ini”
“Maaf ya pundak yang sakit, saya tidak memahami maksud rasamu selama ini”
“Maaf ya mata yang perih, saya tidak memahami pesanmu selama ini”
“Maaf ya perut, saya salah makan yang tidak sesuai dengan kebutuhanmu hari ini atau selama ini”
“Maaf ya kaki, saya bekerja terlalu keras hari ini”

Boleh gunakan kalimat lain yang bergaya bahasa Anda sendiri, seperti bicara dengan teman saat kecil, seperti bicara dengan seorang sahabat.

Lalu, amati bagian tubuh yang Anda sentuh tersebut, bagaimana rasanya sekarang? Amati dan amati saja. Setelah itu, lanjutkan ke langkah berikutnya…

3. Bertanggung Jawablah
Sambil terus menyentuh bagian tubuh yang sakit, katakan pada bagian yang sakit tersebut bahwa: “Aku bertanggung jawab atas rasa sakit kamu”.

Bukanlah tidak akan ada asap, jika tidak ada api. Bagaimana bisa ada buah, jika kita tidak menanam sebuah bibit. Di dunia ini ada hukum sebab-akibat. Bertanggungjawablah pada “Sebab”-nya. Mungkin sebuah keputusan yang keliru di masa lalu, mungkin sebuah marah yang belum terselesaikan. Mungkin, sebuah kekecewaan yang tersimpan.

Kuncinya adalah mengambil tanggung jawab dari rasa sakit tersebut. Bahwa kita pernah salah, bahwa kita pernah keliru, bahwa kita pernah kotor di masa lalu…

Lalu, amati bagian tubuh yang Anda sentuh tersebut, bagaimana rasanya sekarang? Amati dan amati saja. Setelah itu, lanjutkan ke langkah berikutnya…

4. Terima atau lepaskan dengan ikhlas
Nah, sekarang ada 2 pilihan. Tanya ke alam bawah sadar Anda apakah sakit ini adalah bagian yang harus diterima, cukup seperti bertanya: “Apakah rasa sakit ini adalah bagian yang harus aku jalani?”.

Jika terasa ada jawaban “ya” dari dalam diri Anda, maka:
Tariklah nafas panjang yang dalam, sebagai sarana menerima rasa sakit yang Anda sentuh tadi dengan ikhlaaas… Lakukan beberapa kali sampai benar-benar terasa ikhlas. Tahapan ini dikombinasikan dengan doa-doa yang sesuai dengan iman keyakinan Anda, tentulah sangat membantu.

Pilihan ke 2, bila sakit itu bukanlah milik kita, mungkin dapat “kiriman kado” he he… Ya, sudah lakukan saja:
Buanglah nafas yang panjang, sebagai sarana melepaskan rasa sakit yang Anda sentuh tadi ke alam semesta yang demikian luasnya. Kata alam semesta bisa Anda ganti menjadi: Tuhan, Allah atau sebutan lainnya yang selaras dengan iman keyakinan Anda. Terus lakukan beberapa kali sampai benar-benar terasa ikhlas untuk dilepaskan. Diiringi dengan doa akan makin mantaaap…

Sekarang, amati lagi bagian tubuh yang Anda sentuh tersebut, bagaimana rasanya sekarang? Amati dan amati saja. Setelah itu, lanjutkan ke langkah berikutnya…

5. Berterimakasih
Nah, ini bagian yang terpenting dalam teknik terapi diri ini yaitu berterimakasih pada alam bawah sadar Anda. Ya, berterimakasihlah dengan sangat sungguh-sungguh. Lakukan seperti Anda ngomong: “Terima kasih ya, terima kasih…” pada bagian tubuh yang Anda sentuh tadi. Boleh dilanjutkan dengan berdoa sesuai iman Anda.

Baik juga setelah sesi terapi “Maaf + Ikhlas” ini selesai dilakukan, Anda tidur sejenak, tidurlah jika tubuh Anda ingin Anda tidur. Tidurlah…

Oh ya, jangan lupa untuk melepaskan sentuhan jari Anda dari bagian rasa sakit di tubuh Anda tadi, setelah terapi ini he he…

Sakit bagian tubuh apa saja yang bisa sembuh dengan teknik terapi ini?
Sungguh sangat banyak cerita tentang keberhasilan ide sederhana ini. Saya agak sungkan untuk membagikannya karena seperti “Kok, bisa ya?”. Biarlah Anda sendiri yang memetik manfaatnya. Rasakan sendiri saja. Buktikan sendiri saja.

Semoga ide terapi “Maaf + Ikhlas” ini dapat melengkapi koleksi terapi diri untuk Anda sendiri, maupun untuk orang lain. Mungkin saja, ide terapi ini belum pas untuk sebuah situasi sakit tertentu, tidak apa-apa juga. Anda bisa kombinasikan dengan ide terapi diri lainnya. Ini hanyalah salah satu ide pelengkap saja. Yang siapa tahu berguna dan berhikmah…

Harapan Akhir Cerita
Karena seringkali saya mendapat ilham dengan tiba-tiba dan gratis dari DIA, maka artiklel inipun bebas untuk di-copy dan disebarluaskan, agar makin banyak orang yang bisa mendapat manfaatnya.
Ya, Allah terima kasih atas begitu banyaknya berkah yang saya terima selama hidup ini, semoga dengan tulisan ini, berkah itu terus tersebarkan…

Meditasi Jawa Serat Wedhatama

www.keajaibanhati.com [Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 13-14]

13
Tan samar pamoring Sukma,
sinukma ya winahya ing ngasepi,
sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning wahana,
tarlen saking liyep layaping ngaluyup,
pindha pesating supena,
sumusuping rasa jati.

14
Sajatine kang mangkono,
wus kakenan nugrahaning Hyang Widi,
bali alaming ngasuwung,
tan karem karamean,
ingkang sipat wisesa winisesa wus,
mulih mula mulanira,
mulane wong anom sami.

Terjemahan bait 13
Tidak lah samar sukma menyatu
meresap terpatri dalam keheningan semadi,
Diendapkan dalam lubuk hati
menjadi pembuka tabir,
berawal dari keadaan antara sadar dan tiada
Seperti terlepasnya mimpi
Merasuknya rasa yang sejati.

Sebenarnya saya agak bingung juga apa itu pengertian sukma dan apa bedanya dengan jiwa, apabila ruh itu ditangan Tuhan (sejatinya manusia tiada mengetahui ruh melainkan sangat sedikit) maka jiwa adalah pertemuan antara jasad dan ruh, didalam terminal tasawuf islam jiwa itu adalah nafs. Lalu apakah sukma itu? menurut pengertian sementara saya sukma itu adalah badan halus dari kita sedangkan jiwa lebih mengacu ke kesadaran kita.

Apabila kita lanjutkan dari bait sebelumnya maka manunggaling kawula dan gusti atau bersatunya sukma dan Gusti maka itu bukanlah hal yg semu (Tan samar pamoring Sukma) apabila kita paham tentang konsep manunggaling kawula dan Gusti, konsep ini saya ulas di artikel sebelum ini.

Maka “sukma” Tuhan akan meresap dan terpatri didalam keheningan kita bersemedi (sinukma ya winahya ing ngasepi), lalu “sukma” Tuhan itu apa? ini hanya istilah saja dari sifat2 ketuhanan yg diturunkan ke diri kita untuk kita endapkan didalam sanubari terdalam (sinimpen telenging kalbu).

Apabila sifat2 ketuhanan kita resapi dan kita endapkan maka itu akan menjadi pembuka tabir (pambukaning wahana) atau menjadi kacamata baca yg Qur’ani untuk membaca alam disekitar kita. Kacamata baca yg Qur’ani tentu beda dengan kacamata baca menggunakan nafsu syahwat, apabila menggunakan nafsu syahwat maka sekeliling kita akan kita baca sebagai sesuatu yg menggairahkan utk kita miliki sendiri, kita aku sepihak maka yg terjadi adalah perampokan, pencurian, korupsi, pemerkosaan dsb. tapi apabila kita menggunakan kacamata baca yg Qur’ani maka sekeliling kita akan terlihat sangat indah, segala sesuatunya bermanfaat, berhakekat dan berhikmah, sungguh jauh dari syahwat untuk memiliki secara sepihak apalagi mengaku aku sebagai milik pribadi terhadap yg bukan hak kita, maka kita akan punya perilaku demuwe (seolah olah memiliki tapi tidak pernah merasa memiliki) dan akibatnya adalah kita akan menjadi lebih memelihara lingkungan sekitar kita.

Untuk bisa bermeditasi mencapai keheningan yang sejati maka salah satu kearifan budaya jawa mengajarkan untuk “angon angen lumantar angin” atau angan2/imajinasi itu kita angon (kendalikan) melalui angin atau nafas. Nah nafas itu sebenarnya kunci dari meditasi, dengan nafas kita akan merasa dekat dengan kematian, mengapa? ada istilah menghembuskan nafas terakhir maka yg terjadi adalah Allah menghentikan nafas kita, tanpa kita sadari Allah lah yg menarik nafas dan mengeluarkannya dari hidung/mulut kita, tapi apabila kita sadar bahwa kita sedang bernafas maka kitalah yg mengambil alih nafas itu, silahkan dibuktikan.

Untuk itu maka langkah awal sebelum kita masuk ke keheningan sejati, kita atur dulu nafas kita. Kunci dari nafas yg baik adalah kita tetap menyerahkan nafas kita kepada Allah dan kita sadar akan itu, maka pusatkan perhatian kita pada pergantian antara menarik dan mengeluarkan nafas, antara itu adalah titik henti nafas kita atau keadaan setimbang, resapilah titik henti itu maka lama2 nafas kita menjadi halus, ketika nafas sudah halus maka Allah telah mengambil alih nafas secara kita sadari, lalu kita akan masuk ke keadaan sadar dan tidak (tarlen saking liyep layaping ngaluyup), keadaan ini mirip ketika kita terkantuk kantuk mau tertidur, apabila kita tidur maka tidak sadar tapi kalau layap liyeping ngaluyup maka kita akan tersadar didalam ketidak sadaran, tapi ini semua dengan catatan kita tidak takut untuk masuk lebih jauh, apabila takut maka bubar semuanya dan terbangun kembali.

Apabila kita sudah masuk ke tahapan sadar dari ketidak sadaran maka selanjutnya adalah meng angon atau mengendalikan segala penampakan yg kita lihat, semua penampakan itu adalah ilusi didiri kita dan bisa kita kendalikan sesuka kita, apabila kita ingin melihat wanita cantik tinggal kita bayangkan saja maka akan terbentuk wanita cantik, tapi tujuan kita bukan itu, keadaan ini seperti mimpi tapi bisa kita kendalikan secara sadar (pindha pesating supena), maka dari itu kita kendalikan angan2/ilusi kita supaya untuk sadar bahwa tubuh kita sedang tidak sadar dan lalu siapakah yg menyadari bahwa kita sedang tidak sadar? apabila kita mencapai ini maka kita sedang menuju rasa jati (sumusuping rasa jati).

Terjemahan bait 14
Sebenarnya keadaan itu merupakan anugrah Tuhan,
Kembali ke alam yang mengosongkan,
tidak mengumbar nafsu duniawi,
yang bersifat kuasa menguasai.
Kembali ke asal muasalmu
Oleh karena itu,
wahai anak muda sekalian…

Melanjutkan dari bait 13, keadaan bahwa kita sadar kalau kita tidak sadar adalah anugerah Tuhan dan wajib untuk kita syukuri (Sajatine kang mangkono, wus kakenan nugrahaning Hyang Widi) lalu tahap selanjutnya adalah meniadakan segala ilusi/angan2 dan berbagai macam penampakan, segala sesuatu yg ada kita tiadakan dan kita nol kan, apabila sudah berhasil kita nol kan maka kita sudah masuk ke rasa sejati atau telenging rahsa (bali alaming ngasuwung) yg tenteram dan terbebas dari nafsu duniawi yg bersifat saling kuasa menguasai, saling aku mengaku, saling milik memiliki (tan karem karamean, ingkang sipat wisesa winisesa wus).

Maka dari itu kita akan tahu asal kita yaitu kosong seperti sebelum alam semesta diciptakan, yg ada adalah diri yg bersaksi atas kekosongan (sejatine ora ono opo2 sing ono kuwi dudu/sing kondho) maka kita telah berpulang segala kepemilikan dan ego pribadi kepada Yang Maha Memiliki (mulih mula mulanira).

Ini sangat penting untuk dilakukan para orang muda (mulane wong anom sami) supaya bisa membebaskan ruh yang terkurung didiri kita oleh ego dan nafsu kita supaya kita menjadi satrio piningit dan berkesadaran ruhani (satrio piningit pinandhito) yang diberi petunjuk oleh Allah (sinisihan wahyu) untuk melakoni segala sesuatunya karena Allah tanpa mengharapkan imbalan apapun (tapa ngrame, sepi ing pamrih rame ing gawe).

Tapi yg terpenting dari laku meditasi diatas adalah untuk bisa mewujudkan keadaan suwung kedalam dunia nyata dan tidak hanya ketika bermeditasi, ketika bermeditasi maka keadaan suwung itu hanya berlaku sesaat, maka perlu kita lakukan terus menerus supaya keadaan suwung di meditasi berlanjut ke keadaan nyata, apabila keadaan suwung di dunia nyata maka hati kita menjadi benar2 ikhlas karena Allah, inilah tujuan dari meditasi diatas.

Artikel By. Kang Tono [Blog : http://kanktono.blogspot.com%5D
Image by diDDI AGePhe [http://prabbu999shatmata.com]

Meditasi Melatih Kekuatan Pikiran

KEKUATAN PIKIRAN
Telah lama diteliti bahwa selama hidupnya, manusia hanya menggunakan kurang dari 10% potensi diri yang tersembunyi di dalam otak. Bahkan sebagian besar manusia menggunakannya di bawah bilangan 5%. Lalu kemana yang 90% ? Jawabannya adalah potensi diri tersebut menunggu untuk digali. Dua dekade terakhir, penelitian tentang potensi diri manusia mengalami peningkatan yang signifikan.

Semakin banyak metode-metode up to date dengan hasil penelitian yang mengungkap potensi diri dengan cara pengembangan potensi otak manusia. Bagaimanakah hubungan antara potensi diri atau potensi otak ini dengan kehidupan anda ? Pada realitasnya keduanya mempunyai hubungan yang erat sekali. Hal ini berarti, kemampuan anda untuk mengoptimalkan daya otak anda akan sangat membantu anda untuk meraih target kesuksesan anda.

Dapat dibayangkan besarnya prestasi apabila manusia mampu mendayagunakan potensi diri yang lebih besar lagi, hingga mencapai 50 % nya saja. Sebab biar seberapapun kemajuan dan kedahsyatan potensi manusia seperti contoh di atas, kenyataannya bagian yang 90% potensi masih terpendam di dalam diri dan dibiarkan sia-sia begitu saja. Maka tugas masing-masing kita adalah bisa membuka, menggali, mengenali, mengembangkan, lalu memanfaatkan potensi diri lebih baik daripada hari ini. Bukan untuk mengejar kepentingan pribadi, melainkan untuk menggapai kebaikan yang lebih utama, yakni menghayati makna berkah bagi alam semesta, dengan berprinsip memanfaatkan hidup kita agar berguna bagi sesama, seluruh makhluk, dan lingkungan alam. Apabila prinsip ini Anda terapkan dalam lembaga terkecil keluarga, niscaya keluarga anda akan harmonis, tenteram, selamat, sejahtera, dan selalu kecukupan rejeki. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala. Terlindung dari segala kefakiran ; fakir kesehatan, fakir harta, fakir ilmu, fakir hati nurani, fakir budi pekerti.

MEDITASI
Meditasi bukanlah sebuah ritual keagamaan tertentu ataupun praktek pemujaan. Meditasi juga bukan untuk menarik energi atau kekuatan dari mahkluk ghaib ataupun sarana berkomunikasi atau berhubungan dengan semacam jin atau setan. Meditasi sama sekali tidak ada hubungannya dengan klenik ataupun ilmu-ilmu perdukunan lainnya.

Belajar meditasi merupakan bagian dari latihan mengendalikan pikiran, mempertajam pikiran dan meningkatkan kepekaan terhadap suasana sekitar. Meditasi adalah salah satu cara seseorang agar lebih mengenal diri sendiri termasuk sisi baik dan buruk. Keseimbangan ini melahirkan perasaan tenang, damai, sabar dan bahagia. Secara medis meditasi juga dapat menyehatkan dan menyembuhkan luka batin, trauma berkepanjangan, masa lalu yang suram, kalutnya pikiran. dll..

Meditasi bukanlah pengosongan pikiran, melainkan memusatkan pikiran pada satu objek. Misalnya, memperhatikan tarikan dan hembusan nafas, dll….

Ada dua macam meditasi, yaitu meditasi diam dan meditasi bergerak. Intinya, seseorang dapat dikatakan dalam keadaan meditasi apabila gelombang pikirannya berada dalam tingkat theta ( frekuensi gelombang otaknya berada antara 4-8Hz ).

Saat meditasi, suasana hening dapat menekan produksi hormon adrenalin biang pemicu kecemasan menjadi hormon epinefrin yang meredakan stress.

Dengan semakin meningkatnya hormon epinefrin aliran darah juga menjadi lancar, tekanan darah turun, beban jantung berkurang. Kondisi seperti ini otomatis membuat sistem kekebalan tubuh meningkat. Dengan meningkatnya kekebalan tubuh maka kesehatan organ-organ tubuh pun meningkat.

EFEK MEDITASI
Pada saat kita berada dalam situasi panik, gagap, gugup, tidak percaya diri, kalut, atau beban pikiran yang terlalu banyak, akan membuat katub RAS mengunci rapat, sehingga memungkinkan pikiran anda justru mengalami jalan buntu. Sebaliknya pada saat anda melakukan meditasi, kemudian mencapai kondisi relaksasi (gelombang alpha), maka katup RAS akan membuka, menjadi celah untuk masuk dan keluarnya arus data dari alam pikiran bawah sadar menuju alam pikiran sadar, dan sebaliknya dari alam pikiran sadar menuju alam pikiran bawah sadar. Perhatikan anak panah berwarna orange adalah proses masuknya data ke dalam alam pikiran bawah sadar. Sebaliknya anak panah berwarna hitam adalah proses keluarnya data dari alam pikiran bawah sadar ke alam pikiran sadar.

Gelombang otak pada frekuensi bheta dan alpha berada di level alam pikiran sadar. Sedangkan frekuensi theta dan delta disebut sebagai alam pikiran bawah sadar. Sekali lagi, bukan berarti tidak adanya kesadaran otak/pikiran. Melainkan disebut alam bawah sadar, karena kesadaran delta dan theta belum mampu dipahami oleh kesadaran alpha dan betha (pikiran sadar). Fungsi alam bawah sadar merupakan stockphile atau memory card yang menampung dan menyimpan “bahan-bahan” jadi hasil olahan pikiran sadar yang sudah terseleksi oleh RAS (reticular activating system). Sedangkan pikiran sadar berfungsi sebagai “mesin produksi” bahan “olahan jadi” tersebut. Tugas pikiran sadar adalah memberi pemaknaan, lalu disaring mana yang dianggap memiliki nilai/value untuk dimasukkan ke dalam alam bawah sadar. Misalnya anda memaknai suatu yang hanya sekedar “keyakinan” tetapi Anda anggap sebagai kebenaran faktual, maka RAS anda akan menginstalnya ke dalam alam pikiran bawah sadar. Lalu tanpa anda sadari pola pikir dan perilaku anda akan diwarnai oleh makna/nilai yang tersimpan dalam alam pikiran bawah sadar.

Sekilas Materi untuk LOKAKARYA KUANTUM HUSADA YOGYAKARTA.
Minggu, 05 February 2012….

Meditasi Sang Buddha

PIKIRAN
Pikiran dapat diibaratkan seperti selembar daun yang tenang, dedaunan itu akan bergoyang ketika ada hembusan angin menerpanya. Demikian pula dengan Pikiran kita, ia akan bergoyang karena adanya pengaruh rangsangan indera-indera kita. Ketika kita tidak menuruti rangsangan dari indera-indera kita atau kita tidak peduli lagi terhadap pengaruh-pengaruh itu, maka pikiran tidak akan bergoyang.

Banyak metodae, cara atau tehnik untuk membuat pikiran itu menjadi tenang dan terkonsentrasi ( yang pada kenyataannya pikiran kita ini selalu dalam keadaan bergerak dan liar), namun semakin banyak kita membaca teori-teori dari sekian banyak penulis tentang Meditasi, biasanya kita akan semakin bingung untuk mempraktikannya.

Dalam hal ini saya memberanikan diri untuk menulis sebagaimana apa adanya berdasarkan Praktek meditasi yang selama ini saya pergunakan sehari-hari berdasarkan Sabda-sabda Sang Buddha yang saya terjemahkan menurut pengertian dan pemahaman saya pribadi. Oleh sebab itu, jika anda hendak menemukan tuntunan meditasi yang sistematis pada tulisan saya ini, saya yakin anda akan kecewa, sebab orientasi saya dalam hal ini adalah pada PRAKTIK.

Sabda-sabda Sang Buddha tentang Meditasi:
” Bagi seseorang yang masih belajar dan belum menjadi penguasa dari pikirannya sendiri,
tapi tetap bercita-cita agar damai dari ikatan-ikatan,
demi kebaikan dirinya sendiri,
baginya aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih menolong daripada
memperhatikan dengan ketat pikirannya sendiri .”
(itivuttaka : 9 )

” Karena pikiran yang sesat, seseorang menjadi sesat
Karena pikiran yang murni, seseorang menjadi murni “
( Samyutta Nikaya III : 151 )

” Aku tidak mengetahui sesuatu yang paling tak dapat bekerja
selain pikiran yang tak dikembangkan.
Sebenarnya, pikiran yang tak berkembang adalah sesuatu yang tak dapat bekerja.
Aku tidak mengetahui sesuatu yang paling bekerja
selain pikiran yang dikembangkan.
Sebenarnya, pikiran yang berkembang adalah sesuatu yang dapat bekerja “
( Anguttara Nikaya I : 4 )

Pikiran yang tak disiplin harus dapat dikendalikan , seperti dikatakan Sang Buddha :
” Sangatlah menakjubkan, melatih pikiran itu.
Bergerak lincah, meraih apa yang dikehendakinya.
Sangat baik memiliki pikiran yang terlatih baik,
Karena pikiran yang terlatih baik akan membawa kebahagiaan.
Sulit ditangkap dan sangat licik,
Pikiran meraih apa yang diinginkan.
Oleh karenanya para bijaksana menjaga pikirannya,
Karena pikiran yang terjaga akan membawa kebahagiaan.”
( Dhammapada : 35-36 )

” Semua penyatuan pikiran adalah samadhi (konsentrasi) “
( Dhammadina- Siswi Sang Buddha )
( Majjhima Nikaya I : 301 )

” Apa konsentrasi itu ?
Adalah pemusatan dari kesadaran dan semua yang menyertainya
secara merata dan sempurna pada satu titik “
( Visuddhimagga IV : 55 )

Banyak yang bertanya tentang pelaksanaan meditasi itu yang harus dikerjakan Samatha bhavana atau Vipassana bhavana terlebih dahulu ?

Walaupun tidak mutlak demikian, namun saya menyarankan bahwa Samatha bhavana-lah yang pertama-tama didahulukan untuk dikerjakan sebelum mencoba mengembangkan kesadaran/kemawasan ( Vipassana bhavana ). Karena dengan melatih Konsentrasi pada satu titik dengan obyek perhatian pada pernapasan, hal ini akan menimbulkan Kesadaran pada Pernapasan (anapanasati) serta ketenangan pada pikiran /mental, sehingga tentunya akan memudahkan untuk pemusatan pikiran berikutnya.

Dalam hal ini Sang Buddha menggambarkan manfaatnya sebagai berikut :
” Pemusatan pikiran yang tekun pada masuk dan keluarnya napas, bila dipupuk dan dikembangkan, adalah suatu kedamaian dan suatu yang istimewa, suatu yang sempurna dan pula suatu cara hidup yang menyenangkan. Tidak hanya itu, juga akan menghalau pikiran-pikiran jahat tak terlatih yang timbul dan membuatnya hilang seketika. Bagaikan, ketika bulan terakhir dari musim panas, debu dan kotoran beterbangan, lalu hujan deras yang turun tiba-tiba menenangkan dan menurunkannya ke bumi seketika.” ( Samyutta Nikaya V : 321 ).

PERSIAPAN

  • Carilah tempat yang anda anggap cocok untuk bermeditasi yaitu tempat dimana kita bisa menyendiri tanpa gangguan, adalah yang terbaik.
  • Waktu : tergantung pada suasana dan kecenderungan pribadi masing-masing, dapat dilakukan pada pagi/ dini hari atau pada malam hari.
  • Siapkan bantal tipis sebagai alas ( kalau saya menggunakan lembaran karet sandal berukuran 60 Cm x 60 cm yang telah dimasukkan ke sarung bantal dari kain , agar disaat duduk ber-sila posisi badan tetap stabil, berbeda dengan bantal yang berisi kapuk atau spon/karet busa, yang menurut saya kurang stabil ).
  • Duduklah pada posisi kaki dilipat (bersila), kedua telapak tangan diletakkan diatas pangkuan dengan posisi badan yang tegak. ( kalau membungkuk, pinggang kita akan mudah terasa capai, karena berat badan tertumpu kedepan ).

LAKUKAN

  • Lakukan pembacaan mantra pembersihan tubuh, mulut dan tempat ,seperti biasa yang anda lakukan ( hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan disaat pikiran kita sedang berkonsentrasi penuh ).
  • Duduklah secara rileks……serileks mungkin, kemudian pejamkan mata.
  • Tempelkan lidah anda ke langit-langit mulut….lalu perhatian dipusatkan ke ujung hidung dan mulai mengamati gerakan masuk dan keluarnya napas. Tidak perlu menghitung…hanya mengamati nafas anda saja, Kita tidak perlu memperhatikan berapa panjang atau pendek, keras atau lemahnya pernafasan , biarkan nafas anda keluar dan masuk secara wajar….
  • Amati jalannya pernafasan yang masuk melalui ujung hidung, kebagian dada dan ke daerah perut. Dan pada saat mengeluarkan nafas, permulaan dari daerah perut, menuju ke dada dan akhirnya melalui ujung hidung. Kita secara terus menerus mengamati tiga tempat ini supaya pikiran menjadi tenang, tujuannya adalah untuk membatasi aktivitas mental/pikiran sedemikian rupa hingga kesadaran dan mawas diri dapat timbul dengan mudah.
  • Selanjutnya jika sudah terampil mengamati tiga tempat jalan pernapasan ini, kita dapat mulai berkonsentrasi hanya pada ujung hidung saja, Tugas kita cukup sederhana, kita tidak perlu mengikuti pernafasan lagi, tapi kita cukup menimbulkan kesadaran pada ujung hidung dan memperhatikan pernapasan itu keluar dan masuk pada satu tempat. jagalah kesadaran ini terus-menerus….tidak ada lagi yang harus dikerjakan, selain bernapas.

GANGGUAN

  • Bila perhatian mulai beralih terhadap gangguan dari luar, misalnya suara berisik ataupun gigitan nyamuk ataupun gangguan dari dalam diri sendiri, misalnya Khayalan, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran, kaki kesemutan dll. sebaiknya anda bersabar dan kembali mengalihkan perhatian ke pernapasan, kita harus senantiasa berteguh hati dan tetap menjaga kesadaran ini….., beberapa pengaruh mental yang lemah dapat timbul dari waktu ke waktu dan kesadaran kita memegang peranan penting……,Demikianlah konsentrasi dan kesadaran akan hadir pada saat yang sama.
  • Lakukan meditasi ini sedikitnya 30 menit setiap hari dan anda dapat menambahnya setiap anda merasa telah ada kemajuan dalam menenangkan pikiran.

Nah…….sampai disini, silahkan anda melakukan dan mengalaminya sendiri.
Jika suatu saat, anda dalam ber-meditasi mendapatkan suatu fenomena-fenomena tertentu, HARAP SHARING DISINI YA…….SEBAB ADA BEBERAPA HAL YANG SENGAJA TIDAK SAYA SAMPAIKAN DISINI, karena saya tidak menginginkan anda terpengaruh oleh tulisan saya mengenai fenomena-fenomena tersebut. Biarlah anda sendiri yang mengalaminya secara alami , demikian pula apa yang dialami pada setiap orang didalam ber-meditasi tidaklah selalu sama.

Bagi para Meditator pemula, silahkan anda menanyakan hal-hal yang anda kurang paham dan yang anda temukan dalam PRAKTEK nanti.

Bagi para Meditator yang sudah ahli, saya mohon sudilah kiranya memberikan bimbingan dan petunjuknya lebih lanjut.

Selamat Bermeditasi dan semoga sukses !!

BY. TANHADI

Meditasi dan Gelombang Otak

Meditasi:Timur Bertemu Barat
Meditasi adalah jalan pintas untuk mencapai pencerahan. Ini kata para guru spiritual. Meditasi, dalam banyak tradisi, memang sangat dianjurkan. Terutama dalam Buddhisme.

Ada dua jenis meditasi, pertama Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenangan, dan yang kedua adalah Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang.

Ada pandangan yang berbeda di kalangan pengajar meditasi. Ada yang mengatakan bahwa seseorang harus melakukan dan mahir meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu. Baru setelah itu mereka masuk ke meditasi Vipassana Bhavana. Ada juga yang mengatakan bahwa untuk mencapai pencerahan tidak perlu dengan melakukan meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu tapi langsung meditasi Vipassana Bhavana.

Meditasi Samatha Bhavana adalah pemusatan konsentrasi atau perhatian pada objek tertentu, misalnya napas. Ada empat puluh objek yang bisa digunakan untuk menditasi. Napas hanya salah satunya.

Tujuan dari meditasi ini adalah untuk melatih pikiran sehingga terkendali dan akhirnya diam dan hening.Saat kondisi pikiran benar-benar terpusat sangat kuat, hening, diam, dan tercerap sepenuhnya pada objek meditasi maka pada saat itu meditator mencapai kondisi jhana.

Sedangkan meditasi Vipassana Bhavana adalah meditasi perhatian penuh, introspeksi, observasi realitas, kewaspadaan objektif, dan belajar dari pengalaman setiap momen. Inti dari meditasi ini adalah mengamati segala proses mental atau fisik yang paling dominan pada saat sekarang Dengan kata lain, menyadari, mencatat, ingat ketika lenyap.

Saya tidak dalam posisi untuk mengatakan mana atau siapa yang benar. Apakah perlu Samatha dulu baru Vipassana ataukah tidak perlu Samatha tapi langsung Vipassana? Yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini adalah apakah sebenarnya yang terjadi dalam pikiran seseorang yang melakukan meditasi, baik itu Samatha maupun Vipassana, ditinjau dari riset di barat, dengan mengukur pola gelombang otak.

Saat belajar kepada Anna Wise, satu hal yang sangat mencerahkan saya adalah saat Beliau berkata, “Meditation is a state of consciousness, a spesific brain-wave pattern, not a technique”. Anna juga berkata bahwa, “There is state of consciousness and content of consciousness”.

Wow… ini sungguh suatu pencerahan luar biasa. Anna Wise sampai pada kesimpulan ini setelah mengukur, dengan menggunakan Mind Mirror, begitu banyak pola gelombang otak orang, termasuk para master dan guru meditasi Zen.

Dari pengukuran Anna Wise didapat satu data yang sangat menarik yaitu semua master dan guru meditasi itu punya gelombang otak yang sama. Pola ini disebut dengan pola Awakened Mind (AM) yang terdiri dari beta, alfa, theta, dan delta dengan komposisi yang pas. Beta di sini adalah low beta dan hanya sedikit saja, karena hanya digunakan untuk menyadari, mengetahui, mencatat.

Alfa berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Theta adalah pikiran bawah sadar dan delta adalah pikiran nirsadar.

Kita tetap membutuhkan beta, walaupun hanya sedikit saja, untuk bisa mengetahui atau menyadari apa yang sedang kita alami. Bila tidak ada beta maka kita sama sekali tidak akan tahu atau ingat yang terjadi atau alami saat meditasi.

Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Samatha dan Vipassana?

Meditasi Samatha, bila dilihat dari pola gelombang otak, bertujuan untuk meng-OFF-kan gelombang beta. Beta adalah gelombang pikiran sadar dan berkisar pada kisaran frekuensi 12-25 Hz. Gelombang ini aktif bila kita berpikir, memberikan penilaian (judgement) atau memberikan makna pada sesuatu, mengkritik, membuat daftar, menganalisa, atau berbicara pada diri sendiri (self talk).

High Beta, frekuensi di atas 25 Hz berhubungan dengan stress dan kecemasan. Semakin aktif high beta seseorang maka semakin “liar” pikirannya. Pikiran akan lari ke sana ke mari, melompat dari satu hal ke hal lain, tidak bisa diam, sulit atau hampir tidak mungkin untuk dikendalikan. Kesulitan ini yang dialami oleh semua meditator pemula.

Banyak orang menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk belajar mendiamkan pikirannya mereka namun tidak berhasil. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti bermeditasi karena tidak merasakan manfaat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat seseorang mahir meng-OFF-kan pikirannya? Ini semua bergantung pada waktu dan teknik yang digunakan. Umumnya, untuk meng-OFF-kan pikiran sadar, orang menggunakan objek napas.

Pikiran dilatih untuk diam dengan cara difokuskan pada napas. Dan pada saat pikiran lari ke objek lain maka pikiran ditarik kembali ke napas dan demikian selanjutnya sampai dicapai kekuatan konsentrasi yang sangat tinggi.

Sulitnya meditator mendiamkan pikirannya, selain karena aktifnya high beta, juga disebabkan tubuh yang tegang. Posisi duduk yang tidak tepat, apa lagi kalau sampai melakukan postur full lotus, membuat otot paha dan tubuh menjadi begitu tegang sehingga adalah tidak mungkin untuk bisa mencapai kondisi pikiran yang rileks.

Masih berdasar riset Anna Wise, untuk bisa merilekskan pikiran, menurunkan beta dengan cepat, bisa dilakukan dengan merilekskan tubuh terlebih dahulu. Ada teknik spesifik yang Beliau kembangkan untuk bisa mendiamkan pikiran dalam waktu yang sangat singkat.

Saat seseorang telah mampu meng-OFF-kan pikiran sadarnya (gelombang beta) maka pada saat itu ia telah masuk ke kondisi meditatif yang sangat dalam. Jadi, meditasi sebenarnya adalah gelombang otak yang terdiri dari alfa, theta, dan atau tanpa delta. Di sini tampak jelas bahwa beta tidak dibutuhkan untuk meditasi. Justru beta perlu dihilangkan.

Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Vipassana?

Dari pengalaman saya pribadi adalah cukup sulit atau bahkan tidak mungkin bisa melakukan pengamatan pada bentuk-bentuk pikiran, perasaan, atau sensasi fisik yang muncul saat pikiran sadar masih sangat aktif. Apalagi jika yang aktif adalah high beta.

Jelas sangat sulit melakukan pengamatan jika piranti yang digunakan untuk melakukan pengamatan atau observasi, yaitu pikiran sadar, masih sangat aktif dan sibuk sendiri.

Yang diamati dalam meditasi Vipassana, khususnya pada aspek bentuk-bentuk pikiran dan perasaan yang muncul, sebenarnya berasal dari pikiran bawah sadar dan nirsadar.

Dari pikiran bawah sadar biasanya muncul memori atau ingatan mengenai kejadian tertentu, yang berasal dari pengalaman di kehidupan saat ini, dan biasanya berisi muatan emosi dengan intensitas yang tinggi, baik positif maupun negatif.

Jadi, saat memori ini muncul, baik dalam bentuk gambar atau film, maka sebenarnya pada saat yang sama emosi yang berhubungan dengan memori ini juga aktif. Sedangkan dari pikiran nirsadar akan muncul memori dan emosi yang berasal dari kehidupan lampau.

Itulah sebabnya adalah sangat penting bagi seorang meditator untuk tidak masuk ke dalam pengalaman itu, karena biasanya mengandung emosi yang intens, dan cukup hanya mengetahui, menyadari, mencatat, dan mengingatnya ketika lenyap atau hilang.

Meditator tidak larut ke dalamnya. Akan sangat riskan bila meditator masuk ke dalam pengalaman itu, terutama jika pengalaman itu mengandung emosi negatif yang intens, misalnya akibat dari trauma masa lalu.

Jika sampai terjadi hal ini maka meditator akan mengalami kembali kejadian atau pengalaman itu. Istilah teknisnya revivification dan akan berdampak negatif pada kondisi mental dan emosinya.

Kemampuan untuk bisa menjadi pengamat (observer) dan tidak masuk ke dalam objek yang diamati hanya bisa dicapai bila pengendalian diri kita baik dan juga pikiran sadar (baca: beta) tidak terlalu aktif dan tidak memberikan penilaian atau penghakiman.

Saat kita mampu melihat atau hanya menjadi pengamat maka kita telah mampu melakukan disosiasi sehingga tidak dipengaruhi emosi yang melekat pada suatu memori. Saat kita mampu tenang hanya menyadari, mencatat, dan mengingat kejadian atau pengalaman yang muncul, maka kita akan tahu dan sadar bahwa kita bukanlah pengalaman atau emosi kita. Pengalaman atau emosi itu muncul dan tenggelam/hilang. Dan saat kita memberi jarak atau memisahkan diri dari pengalaman atau emosi itu maka mereka tidak bisa mempengaruhi diri kita.

Banyak yang berpikir, “Jika tidak ada beta, lalu bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan insight atau mengerti?”

Insight atau kebijaksanaan yang sesungguhnya berasal dari theta atau pikiran bawah sadar. Kedalamam meditasi ditentukan oleh kedalaman theta yang berhasil kita capai. Theta adalah tempat terjadinya koneksi spiritual paling dalam. Saat seseorang berada dalam deep theta maka ia akan merasakan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan yang luar biasa.

Pikiran bawah sadar mempunyai proses berpikir sendiri yang terpisah dari pikiran sadar. Jadi, saat kita bermeditasi Vipassana, saat pikiran sadar yang tidak terlalu aktif, maka informasi atau insight yang berasal dari pikiran bawah sadar akan naik, melalui jembatan alfa, ke pikiran sadar (beta) dan kita menyadari atau tahu (ingat) informasi ini.

Jadi, yang dilakukan oleh meditator yang bertahun-tahun melakukan meditasi Samatha sebenarnya adalah persiapan untuk awakening atau pencerahan. Para meditator ini biasanya, setelah bertahun-tahun berlatih meditasi, berhasil mengembangkan pola gelombang otak Awakened Mind.

Namun meditasi Samatha, walaupun telah lama dilakukan, walaupun telah berhasil mencapai pola Awakened Mind, tidak mampu memfasilitasi pencapaian pencerahan.

Mengapa? Karena meditasi Samatha sebenarnya adalah cara untuk mencapai kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik. Kondisi kesadaran ini selanjutnya perlu ditindaklanjuti dengan melatih meditasi Vipassana karena Vipassana sebenarnya adalah content-based meditation atau meditasi berdasarkan isi.

Yang dimaksud dengan isi, selain sensasi fisik yang dirasakan, juga adalah konten dari pikiran bawah sadar dalam bentuk-bentuk pikiran dan emosi yang muncul, dirasakan, atau dialami pada saat meditasi berlangsung, pada momen here and now.

Contoh yang paling populer adalah koan dalam meditasi Zen. Saat seorang master Zen bertanya pada muridnya, “Bagaimana bunyinya bila tepuk tangan dilakukan hanya dengan satu tangan?”, maka pada saat itu sang master memberikan pertanyaan yang tidak bisa dijawab bila si murid hanya menggunakan pikiran sadar atau beta.

Saat berpikir keras untuk menemukan jawabannya maka pikiran murid yang terlatih akan begitu fokus, dan ini sebenarnya adalah meditasi Samatha, akan mendapatkan pemahaman atau pengetahuan, yang berasal dari pikiran bawah sadarnya, yang mampu memfasilitasi tercapainya pencerahan.

Ini bukan meditasi dengan “pikiran kosong”. Sebaliknya, ini adalah meditasi dengan konten yang sangat spesifik yang dilakukan oleh praktisi dengan kondisi pikiran yang telah disiapkan dengan sangat baik dan hati-hati sekali, dengan menggunakan teknik yang spesifik.

Pembaca, setelah membaca sejauh ini, jika anda bermeditasi, teknik mana yang akan anda gunakan? Samatha atau Vipassana? Semua saya kembalikan pada diri anda sendiri. Saat bermeditasi kenalilah diri anda sendiri. Anda akan tahu apakah anda akan langsung ke Vipassana ataukah perlu melatih Samatha dulu.

Dan yang paling penting adalah anda perlu belajar di bawah bimbingan seorang guru meditasi yang berpengalaman. Hanya duduk dan memperhatikan napas memperhatikan pikiran belum tentu bisa disebut meditasi. Meditasi, seperti yang didefinisikan oleh Anna Wise adalah kondisi kesadaran spesifik bukan sekedar teknik.

Jika anda telah melakukan meditasi sekian lama namun belum bisa masuk atau mengalami kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik itu maka meditasi anda bisa dibilang belum berhasil.

Anna Wise pernah membantu seorang kliennya, seorang meditator. Keluhan klien ini adalah walaupun ia telah meditasi Samatha selama 12 tahun non stop, setiap hari 1 jam, ia masih belum bisa masuk ke kondisi meditatif yang dalam.

Saat dilihat pola gelombang otaknya, dengan menggunakan Mind Mirror, tampak bahwa selama 12 tahun meditasi klien ini tidak bisa mendiamkan pikirannya. Hal ini tampak dari high beta yang sangat aktif saat ia melakukan meditasi.

Dengan teknik yang spesifik Anna berhasil membantu klien ini mendiamkan pikirannya sehingga menjadi tenang dan hening dalam waktu yang relatif singkat. Sungguh sayang bila ketekunan selama 12 tahun ini ternyata tidak berbuah hasil seperti yang diinginkan.

Selamat bermeditasi……….

PUSTAKA : http://www.adiwgunawan.com

NB. MEDITASI DALAM TERMINOLOGI ISLAM :
Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenangan ► TADZAKKUR (DZIKRULLAH)
Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang ► TAFAKKUR (PERENUNGAN & KONTEMPLASI)

Mengukur Kedalaman Meditasi & Rileksasi

Mengalami dan Memahami Kondisi Meditasi

Saya sering mendapat email dari rekan dan pembaca buku yang mengatakan bahwa mereka, setelah mendengar CD audio relaksasi, tidak bisa konsentrasi. Mereka menanyakan mengapa mereka sulit konsentrasi dan merasa kecewa karena tidak bisa merasakan dan mendapat manfaat meditasi. Saat saya menanyakan, “Sudah berapa lama anda berlatih diri?”, jawaban yang saya terima cukup menjelaskan kondisi mereka, “Saya sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak.”

Benarkah demikian sulit bagi seseorang untuk melakukan meditasi? Mengapa ada yang mudah dan mengapa ada pula yang merasa sulit masuk ke kondisi meditatif yang dalam?

Pembaca, di artikel sebelumnya, Meditasi: Timur Bertemu Barat, saya telah menjelaskan tujuan meditasi ditinjau dari perspektif timur dan barat. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan secara spesifik apa saja yang perlu diperhatikan, dilakukan, dan dialami saat melakukan meditasi.

Meditasi bertujuan untuk mengendalikan dan menguatkan pikiran. Pikiran sama seperti otot. Perlu latihan yang konsisten untuk bisa membuat pikiran menjadi kuat. Pikiran dilatih dengan cara difokuskan pada satu objek meditasi. Umumnya orang menggunakan napas sebagai objek.

Pembaca, jika misalnya anda tidak pernah berlatih fitness atau body-building, dan tiba-tiba ingin menguatkan otot tubuh anda, apa yang akan anda lakukan? Apakah langsung berlatih ataukah anda akan mencari pelatih yang berpengalaman yang bisa membimbing anda dengan benar? Sudah tentu kita perlu dibimbing oleh seorang pelatih berpengalaman. Peran pelatih sangat penting agar kita tidak salah berlatih yang justru akan kontraproduktif . Dengan bimbingan yang benar kita dapat mencapai hasil yang maksimal dalam waktu yang singkat.

Pertanyaan selanjutnya, “Berapa ukuran atau berat beban yang anda gunakan sebagai beban awal latihan?” Apakah langsung beban yang berat ataukah anda menaikkan beban secara bertahap seiring dengan lama dan intensitas latihan anda? Apa yang akan terjadi bila anda “bernafsu” ingin membesarkan dan menguatkan otot-otot tubuh anda secepatnya dan langsung menggunakan beban yang berat (sekali)? Bagaimana hasilnya? Saya jamin, jika ini yang anda lakukan, maka tubuh anda akan cidera karena tidak kuat.

Pembaca, melatih otot tubuh membutuhkan waktu, cara, intensitas, dan konsistensi agar dicapai hasil yang maksimal. Tidak bisa dilakukan asal-asalan dan kita berharap bisa memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan indah. Dalam hal ini yang perlu disadari dan diperhatikan adalah bahwa otot akan tumbuh, berkembang, dan menjadi kuat bila dilatih dengan cara yang benar dengan mengikuti proses alamiah pertumbuhan otot. Kita tidak bisa memaksa otot berkembang dengan kecepatan yang kita inginkan. Semua ada waktunya.

Sama seperti otot, pikiran juga perlu dilatih. Melatih pikiran sebaiknya juga dengan bimbingan seorang pelatih berpengalaman dan dengan takaran latihan yang sesuai. Meditasi adalah suatu skill yang perlu dilatih dan diasah setiap hari. Semakin sering kita berlatih maka semakin kuat “otot-otot” pikiran kita. Kuatnya “otot” pikiran tampak dalam bentuk pengendalian yang bisa kita lakukan pada pikiran. Saat pikiran diarahkan untuk konsentrasi dan memegang objek maka pikiran bisa memegang objek dengan kuat dan lama. Pikiran tidak lari ke mana-mana, liar tidak terkendali.

Untuk pemula, biasanya pikiran akan lari tak terkendali. Kita perlu menundukkan dan mengendalikannya. Ini yang dikenal dengan istilah “taming the monkey mind” atau menjinakkan pikiran yang liar seperti seekor monyet. Jangan salah baca ya, monkey mind bukan donkey mind.

Satu hal yang sering tidak dimengerti dan bahkan tidak diindahkan kebanyakan orang yaitu relaksasi pikiran atau meditasi membutuhkan tidak saja upaya, namun terlebih lagi adalah kepasrahan dan keikhlasan. Semakin kita bernafsu maka pasti semakin tidak bisa. Salah satu hukum pikiran berbunyi, “Bila berhubungan dengan pikiran bawah sadar dan fungsi-fungsinya, semakin besar upaya sadar yang dilakukan, semakin kecil respon pikiran bawah sadar.”

Relaksasi pikiran atau meditasi adalah proses yang didominasi pikiran bawah sadar dan nirsadar. Saat seseorang bermeditasi maka gelombang otak yang dominan adalah alpha, theta, dan atau tanpa delta.

Kembali kepada kasus yang saya ceritakan di awal artikel. Pernyataan, “Saya sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak”, dengan pemahaman dari apa yang telah saya sampaikan sejauh ini, perlu diubah menjadi, “Saya baru mencoba dua atau tiga kali, Pak”.

Banyak juga yang bertanya, “Pak, saya kok nggak merasa deep?” Biasanya saya akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengecek kedalaman relaksasi yang ia capai. Ternyata banyak yang telah masuk sangat dalam, sangat rileks, baik secara fisik maupun pikiran, namun mereka tidak menyadari hal ini karena tidak punya acuan.

Nah pembaca, untuk membantu anda mengerti kedalaman relaksasi pikiran dan fisik saat meditasi, berikut adalah Subjective Landmark atau acuan yang disusun oleh guru saya, Anna Wise. Biasanya kami menggunakan Mind Mirror untuk melihat dan mengukur relaksasi pikiran dan ESR Meter untuk mengukur relaksasi fisik. Namun, bila tidak ada Mind Mirror dan ESR Meter, kami cukup menggunakan Subjective Landmark. Hasilnya sama valid.

Subjective Landmark ini hanya sebagai acuan namun bukan harga mati. Artinya, pengalaman subjektif setiap orang belum tentu sama. Namun secara umum, saat seseorang melakukan relaksasi pikiran atau meditasi, ia akan mengalami hal-hal yang disebutkan di Subjective Landmark.

Cara membaca Subjective Landmark adalah dengan melihat Level, Pengalaman/Sensasi Subjektif, ESR, dan EEG.

Penjelasannya sebagai berikut. Level menunjukkan kedalam relaksasi. Semakin besar angkanya berarti semakin dalam. Level dimulai dari angka 0 (nol) sampai 6 (enam).

Pengalaman/Sensasi Subjektif adalah apa yang kita alami atau rasakan baik di pikiran maupun di fisik. Gunakan pengalaman yang disebutkan di skala ini untuk mengetahui anda berada di level mana.

ESR Meter adalah alat ukur yang mengukur relaksasi fisik dan menggunakan skala Lesh. Semakin kecil angka di ESR Meter berarti semakin rilek fisik kita. Dengan menggunaakn ESR Meter diketahui bahwa relaksasi fisik saat seseorang tidur berkisar antara 13 – 17. Sedangkan bila dengan meditasi bisa mencapai antara 0 – 5. Hal ini menjawab mengapa walaupun telah cukup tidur orang sering merasa lelah dan tidak segar saat bangun. Sebaliknya orang yang sering meditasi membutuhkan lebih sedikit tidur dan tubuhnya juga lebih sehat dan segar.

EEG adalah pengukuran dengan menggunakan Mind Mirror. Nah, karena anda tidak punya ESR dan EEG maka yang perlu diperhatikan adalah Pengalaman/Sensasi Subjektif.

Berikut adalah Subjective Landmark:
Level : 0
Pengalaman/Sensasi Subjektif:

  • Mungkin mengalami kesulitan untuk mendiamkan pikiran atau pikiran melompat ke sana ke mari tidak terkendali.
  • Perasaan gatal, tidak fokus, tidak perhatian.
  • Perasaan “Mengapa saya melakukan hal ini?”.
  • Mulai rileks.
  • Perasaan mulai “tenang”

ESR: 25 – 20
EEG:

  • Beta berkesinambungan, sering bersamaan dengan lonjakan gelombang-gelombang yang lain.
  • Kemungkinkan alfa muncul sesekali.

Level : 1
Pengalaman/Sensasi Subjektif:

  • Kondisi “kabur”.
  • Perasaan kurang nyaman.
  • Sesasi seperti orang yang dibius/dianestesi.
  • Kadang merasa pusing.
  • Pikiran dipenuhi dengan kegiatan sehari-hari – sebagai penghindaran terhadap keheningan dalam diri.
  • Perasaan akan energi yang tercerai-berai.
  • Sensasi hanyut menuju tidur atau tertarik keluar dari tidur.

ESR: 20 – 26
EEG:

  • Beta yang sudah agak berkurang, tetapi masih ada.
  • Alfa yang muncul sesekali tetapi lebih kuat.

Level : 2
Pengalaman/Sensasi Subjektif:

  • Energi yang tercerai berai mulai menyatu.
  • Mulai merasakan ketenangan dan rileksasi.
  • Gambar mental yang sangat jelas muncul secara tiba-tiba.
  • Kilas balik kenangan masa kecil.
  • Gambar dari masa lalu yang “lama” dan “baru”.
  • Perhatian tidak terlalu terpusat.
  • Perasaan berada di antara dua kondisi.
  • Kondisi transisi.

ESR: 16 – 14
EEG:

  • Beta berkurang
  • Alfa semakin kuat – bisa bersifat sinambung
  • Teta (frekwensi rendah) muncul sesekali

Level : 3
Pengalaman/Sensasi Subjektif:

  • Perasaan stabil yang lebih kuat.
  • Kondisi yang pasti.
  • Sensasi tubuh yang menyenangkan: merasa mengapung, ringan, bergerak, berguncang.
  • Gerakan ritmik yang muncul sesekali.
  • Gambar yang semakin banyak dan lebih jelas.
  • Meningkatnya kemampuan mengikuti imajinasi terbimbing.

ESR: 14 – 11
EEG:

  • Beta sangat berkurang.
  • Alfa sinambung
  • Kemungkinan teta yang lebih sinambung dengan peningkatan frekwensi dan/atau amplitudo

Level : 4
Pengalaman/Sensasi Subjektif:

  • Kesadaran yang sangat kuat terhadap pernapasan.
  • Kesadaran yang sangat kuat terhadap detak jantung, aliran darah, dan sensasi tubuh lainnya.
  • Perasaan kehilangan batas-batas tubuh (tidak lagi bisa merasakan keberadaan tubuh fisik).
  • Perasaan mati rasa di tungkai (lengan dan kaki)
  • Perasaan diri dipenuhi oleh udara.
  • Perasaan tubuh menjadi sangat besar atau sangat kecil.
  • Perasaan tubuh menjadi sangat berat atau sangat ringan.
  • Kadang berpindah antara kesadaran internal dan eksternal.

ESR: 11 – 8
EEG:

  • Beta yang sangat berkurang
  • Alfa sinambung
  • Teta meningkat

Level : 5
Pengalaman/Sensasi Subjektif:

  • Kondisi kesadaran yang sangat tinggi.
  • Perasaan puas yang mendalam.
  • Sangat sadar/waspada, tenang, dan tidak melekat/terpisah dari keadaan sekeliling.
  • Perasaan “lepas” atau hilang dari lingkungan dan atau tubuh.
  • Bila menginginkan maka gambaran mental yang muncul adalah sangat-sangat jelas.
  • Perasaan kondisi kesadaran yang meningkat, yang tidak terdapat pada level sebelumnya, 0 – 4.
  • Perasaan pengalaman puncak, luar biasa, pengalaman “ah-ha”, pemahaman intuitif.
  • Kinerja tinggi

ESR: 8 – 5
EEG:

  • Penguasaan beta yang sangat baik – mulai dengan tidak adanya pikiran hingga pikiran-pikiran kreatif
  • Alfa sinambung
  • Teta sinambung

Level : 6
Pengalaman/Sensasi Subjektif:

  • Cara baru (berbeda) dalam merasakan sesuatu
  • Pemahaman intuitif terhadap masalah sebelumnya, seakan melihat dengan level kesadaran yang lebih tinggi.
  • Sensasi dikelilingi oleh cahaya.
  • Perasaan kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
  • Sensasi semuanya tidaklah penting selain kondisi yang dialami saat itu.
  • Mengalami kebahagiaan yang luar biasa.
  • Mengalami ketenangan yang tak terlukiskan.
  • Perasaan akan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai alam semesta.

ESR: 5 – 0
EEG:
Empat pola yang mungkin terjadi:

  1. Pikiran yang terbangunkan (beta, alfa, teta, delta)
  2. Meditasi optimal (alpha, teta, delta)
  3. Sangat sedikit aktifitas listrik otak
  4. Pikiran yang berkembang (pola The Awakened Mind, meliputi beta, alfa, teta, dan delta

PUSTAKA : http://www.adiwgunawan.com

PEJAMKAN MATA DAN TERBANGLAH

Pejamkan Mata dan bukalah mata hatimu, karena perjalanan spiritual tidak akan tertembus melalui panca indrawi. Apabila rasionalisme mencapai puncak eksistensi dalam pencarian kebenaran, maka puncak eksistensi itu hanyalah awal dari perjalanan baru spiritual … demikianlah rasionalisme tidak mampu menggapai perjalanan tahap lanjut menuju Allah, karena perjalanan tahap lanjut itu bukan berjalan, bukan juga berlari selayaknya aktivitas jasmani, melainkan terbang seperti layaknya perjalanan spiritual pada umumnya.

Siapa yang hanya hendak mengandalkan rasionya dalam mengenal Tuhan dan tidak mengandalkan Qalbunya, maka dia telah mereduksi kemanusiaannya. Itu persis seseorang yang ingin menikmati musik dengan matanya atau persis seseorang yang ingin berjalan dengan kepalanya. Dan, cahaya Ilahi itu hanya bisa diperoleh melalui pembersihan hati.

Cahaya Allah yang berupa sifat-sifat Allah yang suci dan mulia bersinar di dalam hati sanubari manusia, memperteguh keyakinan sehingga si hamba mendapat kesejukan dan kenikmatan dalam jiwanya. Merasakan kesejukan dan kelezatan iman dalam jiwa akan menumbuhkan ketenangan yang sangat diperlukan oleh jiwa yang resah gelisah. Jiwa akan menjadi sakinah dan mutmainnah setelah mendapat sinar yang menerangi hidup manusia lahir dan batin. Ketenangan jiwa yang mendapat sinar dari Allah Swt. akan memberi kekuatan, keteguhan dalam mempertahankan hidup suci dalam ketaatan, serta memperkokoh (istiqamah) mempertahankan keimanan dan keyakinan.

Saat bertawajjuh (Meditasi), pada awalnya, dalam pandangan mata terpejam, pedzikir akan melihat berbagai hal, misalnya padang rumput yang luas, laut yang luas, cahaya, tulisan ‘Allah’, dan lain-lain. Semua penglihatan tersebut adalah penglihatan yang masih baur (belum terfokus). Pada tahap tertentu, dimana pikiran berhasil difokuskan, maka yang nampak adalah ‘sesuatu yang bermakna’ (tidak bisa diceritakan karena bersifat rahasia dan khas).

Dengan memejamkan kedua mata ini
Kunikmati Degup jantung berpacu dalam Lautan Dzikrullah
Perlahan hentakannya Menggetarkan hati ini
Bermain dengan pikiran dalam kesendirian
Cahaya hadir dalam pejaman tanpa beban

Kunikmati udara lembut mengalir melalui hidung ini
Cahaya semakin benderang dalam kegelapan itu
Bukan Hampa…..
hanya ruang seluas samudera tak berbatas

Menarik ujung bibirku untuk tersenyum dalam ruang kosong itu
tanpa beban……merangkulku

Sejenak kurebahkan tubuh ini menikmati indahnya Kesendirian
Berjalan mengarungi Dunia pikiranku
Terpana jiwaku berlari lepas tanpa beban
hilang lah sudah segala himpitan dalam pejaman mata
menikmati hadirnya cahaya dalam kegelapan

Aku menari diawan putih…….
Terbang dan berputar, dalam lembut dunia kesendirian
Indah memejamkan mata
melepaskan jiwa ini menikmati alamnya

Warna warni kehidupan berputar silih berganti
Kuberjalan perlahan dalam Ruang jiwaku
Tak kutemukan Api disana
Sirna dalam pejaman mata
hanya ketenangan dan tarian hati

Ah,,,, Indah sekali ruang dalam jiwa ini
terbuai aku dalam pesona irama jiwa
mengalir lembut dalam helaan nafas kedamaian
Seperti pohon menari indah dan bernyanyi
terbuai dalam kedamaian jiwa

Menikmati ruang dalam jiwa dalam seribu makna
Bukan dunia kesepian, hanya sejenak ingin menari
Melepaskan seluruh jiwa ini dari kelelahannya
bermain di dunia nyata jiwa
Alam jiwa yang sangat luas,
yang hanya dapat dilihat oleh hati

Indah sekali dunia jiwa….
Gelombang keindahan berputar membawa setiap pikiran
Menderu dalam terpaan kehangatan
Lepas dalam tarian jiwa

Aku tahu……….
Duduk menikmati pejaman mata dalam kesendirian
Melepas segala beban dan kesedihan
Lepas dan menari.. berputar,,, bernyanyi
Melayang.. jauhhh
jauhh dan semakin jauh
indah dan semakin indah

Aku menari dalam emosi jiwa, dalam pajaman mata
Bebas dan lepas…….
seperti burung melayang tinggi…..
jauh kesamudera luas jiwa ini
bernyanyi berputar dan berkelana bersama indahnya hati
hembusan kehangatan jiwa berputar dan bergelombang

Perlahan kubuka pejaman mata ini
Masih kunikmati Indahnya tarian jiwa
hanya senyuman hati mengalir dalam darah
tak ada lagi beban yang menahan Gemuruh hati
meski tak lagi memejamkan mata
Jiwaku masih menikmat nikmat Ruang luas samudera itu

Ketika kelelahan, tekanan, kejenuhan, kesedihan, bahkan beban yang terasa begitu berat menghimpit jiwaku, maka aku duduk dengan tenang, memejamkan mata, dan menikmati setiap cahaya yang hadir dalam jiwa, melupakan segalanya. Hanya menari mengikuti nyanyian hati. Aku tahu perlahan beban itu hilang, entah kemana, dan aku akan membuka mata dengan tersenyum, dalam kelegaan, dalam kedamaian. Hanya satu kalimat yang terucap di bibir hatiku *ILAHI ANTA MAQSUDI WA RIDLOKA MATHLUBI*. Jiwaku aku akan terus melangkah melewati badai, kerikil tajam, peluh, kegagalan dan meraih mimpi hanya dengan nyanyian jiwa dan tetap berjuang dalam *ILAHI ANTA MAQSUDI WA RIDLOKA MATHLUBI*. Bukankah jalan itu masih terlalu panjang untuk dilalui, mengapa harus menyerah seakan jurang menanti di depan? Tak perlulah terpuruk dalam segala kegagalan, tak perlu lah terpuruk dalam segala kesalahan, karena masih ada cahaya jiwa membawa kita terbang meraih setiap mimpi dan harapan, meski harus melalui badai dan kerikil itu. Bukankah kekuatan jiwa jauh melebihi badai dan kerikil tajam?

Jika ingin menangis, biarkanlah dia mengalir disana, dan biarkan di pergi membawa segala kesesakan di dalam dada. Tak perlulah ditahan dan dipendam, karena air akan mengalir kesungainya, Kemudian *TERSENYUMLAH* dan *TAK PERLU MENGELUH*

SEHAT BUGAR DENGAN MEDITASI
Bermeditasi selama 15 menit setiap hari, dapat membantu meningkatkan energy dan melindungi diri dari terpaan stress yang dapat berujung pada timbulnya penyakit.

Stres adalah bagian dari hidup dan menyerang kita dalam pelbagai situasi. Misalnya pada waktu kita terjebak macet, berhadapan dengan masalah pekerjaan, persoalan rumah tangga, dsb. Stres merupakan suatu reaksi alamiah ketika sistem saraf simpatetik (sympathetic nervous system – SNS) dalam tubuh menjadi aktif sehingga tubuh melepas hormon stres (adrenalin dan kortisol). Ketika Anda menghadapi situasi yang krusial, maka level SNS menjadi aktif mengakibatkan tekanan darah naik dan tekanan jantung menjadi cepat. Biasanya level adrenalin, kortisol, tekanan darah dan detak jantung akan kembali normal ketika situasi tersebut telah lewat. Ketika menghadapi situasi yang serius, hormon stress cenderung meningkat dan bertahan lebih lama pada level ini. Hal demikian mengakibatkan tekanan darah naik dan detak jantung menjadi tidak teratur sehingga timbul penyakit baru seperti insomnia, maag, sakit kepala, bahkan penyakit yang lebih serius seperti diabetes dan stroke.

Meditasi mengajarkan kita untuk membantu mengendalikan “arus lalu lintas” pikiran kita. Tugas kantor, kenangan, bayang wajah seseorang, semua berlalu lalang campur aduk dalam otak kita tanpa dikendalikan. Meditasi adalah suatu proses guna memperlambat fluktuasi pikiran kita. Meditasi akan membantu kita mencapai ketenangan dan kedamaian. Pikiran pun akan lebih fokus. Ini erat kaitannya dengan stres, karena stres seringkali disebabkan oleh ketidakmampuan kita mengontrol pikiran.

Banyak penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa meditasi baik untuk memberikan ketenangan pikiran. Dari segi kesehatan, meditasi membantu menurunkan tekanan darah, menormalkan detak jantung, menjaga kestabilan hormon stres (adrenalin dan kortisol).

Hasil penelitian Institutional Nation of Health , USA bahwa meditasi mampu menyembuhkan kanker. Bukan melalui pengobatan namun melalui meditasi. Meditasi mampu merangsang peningkatan sistem kekebalan tubuh yang mampu menyembuhkan penyakit kanker.

Meditasi adalah kegiatan untuk memasuki alam bawah sadar kita. Pada saat kita menyelami pikiran bawah sadar kita mengalami proses peningkatan kesadaran. Semakin dalam menyelam melalui alpha, tetha, delta, dan seterusnya, kita akan bisa mencapai puncak kehidupan spiritual. Di situ kita bisa menemukan tujuan hidup kita yang sebenarnya

Esensi Meditasi

  1.  Hening ( silence ) : dimana pikiran secara sadar telah terhenti sepenuhnya dari dunia di luar diri
  2. Diam ( Stilness ) : berhentinya aktivitas fisik atau paling tidak melambatnya irama aktivitas fisiologis
  3. Sendiri ( Solitude ) : Dapat dilakukan sendiri, tanpa pengaruh dari orang lain.
  4. Memasuki Frekwensi Khusus.

Manfaat Meditasi

  1. Mampu untuk melepaskan ketegangan serta tidak mudah stress / putus asa ( dengan meditasi kita akan terbiasa melakukan unsur self management. Mengumpulkan seluruh permasalahan. Melihat prioritas dari masalah dan menyelesaikan masalah sesuai tenaga dan waktu yang ada. )
  2. Meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian dalam menghadapi pelbagai masalah ( Dengan meditasi model tertentu dengan bantuan obyek lilin akan sangat membantu kepercayaan diri )
  3. Memupuk pikiran untuk berpikir secara positif ( dengan meditasi kita akan selalu berpikiran secara baik. Memandang segala sesuatu baik yang benar ataupun salah melalui sudut pandang yang positif )
  4. Menguatkan daya ingat ( meditasi mengajarkan untuk melatih konsentrasi sehingga daya tangkap otak akan meningkat dari sebelumnya).