Archive for the ‘Kultivasi N-AQS’ Category

Kebangkitan INTI NAQS

Reiki NAQS adalah sebuah revolusi di bidang spiritualitas yang dapat membantu meningkatkan spiritualitas seseorang dengan cara yang mudah dan cepat. Karena energi spiritual yang diberikan adalah bukan hasil karya cipta manusia, namun merupakan sebuah Energi Ilahiah yang berasal dari Sumbernya langsung yaitu Tuhan itu sendiri.

Bola Energi Alam Semesta

Energi ini merupakan energi asal mula dan sumber kejadian makhluk hidup dan alam semesta. Di awal penciptaan alam semesta, Tuhan menciptakan sebuah Bola Energi Awal yang di sebut Telur Jagad (ANTIGA) dan ada yang menyebutnya dengan Nur Muhammad. Bola Energi ini kemudian memancar dalam sebuah spektrum cahaya (Energi) yang mempunyai getaran dan frekwensi yang berlapis-lapis. Dan terciptalah Alam Semesta dengan tingkat spektrum energi yang bertingkat ( 7 lapis langit dan 7 lapis bumi). Dan lapisan yang terluar (Kulit/Residu) atau paling bawah dari spektrum energi ini adalah Dunia Fisik (Alam Materi) tempat kita berada saat ini.

Nur Muhammad adalah Inti Energi alam semesta, baik alam makrokosmos maupun alam mikrokosmos. Inti dari sel dan atom, yang keberadaannya masih belum bisa dideteksi oleh tekhnologi modern. Sehingga masih tergolong dimensi alam ghaib, karena baru diketahui secara metafisik.

Walaupun asal kejadian kita adalah dari Energi Awal ini, tidak serta merta kita bisa merasakan keberadaan tingkat tertinggi dari Hirarki Spektrum Energi ini. Karena sedemikian kuatnya lapisan mantel hijab duniawi kita yang diakibatkan oleh tertutupnya kesadaran kita.

Kesadaran manusia sejak lahir telah terbiasa dengan alam materi, nalurinya telah mengajarkannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya. Inilah kesadaran primitive manusia. Kesadaran untuk menyadari adanya kekuatan yang lebih tinggi dan lebih besar dari dirinya diperoleh ketika dia telah dewasa.

Filosofi Alif Laam Miim ( الم )

Perlu digaris bawahi bahwa, Filosofi ini adalah sekedar tafsiran menurut bahasa kami, Arti yang sebenarnya hanya Tuhanlah yang Maha Tahu.

Simbol ini adalah landasan filosofi dari Reiki NAQS. Menggambambarkan anatomi struktur alam semesta dan hubungan antara manusia, alam semesta dan Tuhan. Alif melambangkan eksistensi Tuhan. Dan lingkaran bulat mim, melambangkan inti semesta atau Nur Muhammad. Inti ini mempunyai dua sayap, yaitu ke atas menjangkau langit. Dan ke bawah menjangkau bumi.

Lam adalah sayap mim yg menjangkau ke langit. Mim tanpa lam maka hanya bersifat duniawi. Namun ketika lam ditempelkan dg mim, maka mim bisa menjangkau langit. Lam adalah simbol pemusnahan sifat material semesta yg terungkap dalam kalimah la ilaha ilallah dan la haula wala quwwata illa billah.

Dalam literatur lain dijelaskan juga bahwa “Alif” adalah Allah, “Lam” adalah JibriL dan “Mim” adalah Muhammad.Atau “Alif” misalnya dari kata Allah, “Lâm” dari kata “Lathif”, “Mîm” dari “Majid”(www.mail-archive.com/gorontalomaju2020@yahoogroups.com/msg05376.html)

MAKNA LAM 

Hakikat Penghambaan
Bila Nur Muhammad adalah inti orbit dari Dzat Materi maka Nur Allah adalah inti orbit dari Nur Muhammad. Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikan-Nya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Hakikat penghambaan adalah tetapnya manusia di dalam garis edar orbit yang sebenarnya. Yaitu berpusat kepada inti orbitnya. Sebagaimana partikel atom yamg mengorbit pada inti atom, ketidakpatuhan terhadap hukum ini menyebabkan kehancuran dan terurainya susunan partikel sel. Orang yang mengingkari (kafir) terhadap realitas ini maka dia tidak lebih daripada berusaha untuk mempersulit dirinya sendiri dan terjebak pada suatu perbuatan yang sia-sia.

Hakikat Kepasrahan
( لاَ ) Lam Alif dalam kalimah La Ilaha Illallah dan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh. Menunjukkan adanya huruf Alif yang mensifati huruf Lam, ini artinya bahwa daya kepasrahan manusia tak akan ada artinya bila tanpa petunjuk dan hidayah dari Tuhan. Semua tekhnik dan metode buatan manusia yang ditujukan untuk mememperoleh keadaan pasrah dan berserah diri (Rileksasi dan Meditasi) tidak akan membawa hasil yang maksimal, bila tanpa adanya campur tangan Tuhan di dalamnya.

Laa adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Ustâdz Hammâd Abû Mu’âwiyah @www.scribd.com/doc/12771717/Makna-Sebenarnya-Dari-Kalimat-Tauhid-La-Ilaha-Illallah)

 Filosofi Alif Lam Ro’ الَر

Risalah ( الَر )
Tanpa adanya pertolongan dari Tuhan, maka mustahil manusia dapat menemukan kembali jalan untuk kembali. Oleh karena itulah Tuhan menurunkan para nabi dan Rasul sebagai penyampai risalah petunjuk bagi umat manusia. Untuk memberikan peringatan, mengingatkan kembali kepada manusia tentang hakikat jati dirinya.

Tanpa adanya Risalah petunjuk Tuhan maka manusia akan berada di tempat kegelapan, mereka akan tetap di alam primitive mereka. Sedangkan Nuraninya menuntut dia untuk mencari jawab atas Kekuatan Rahasia dibalik alam semesta.  Maka merekapun mencari-cari di sekitarnya apa yang patut mereka jadikan sesembahan, maka terjadilah animisme dan dinamisme, penyembahan terhadap roh dan benda mati.

Ro’ mengandung makna Risalah dan Rasulullah (Utusan Allah, Sang Pembawa Risalah).
Tuhan kita memiliki nama Ar Rasyid atau Allah Yang Maha Tepat Tindakan-Nya. Kata ar-rasyid tersusun dari huruf ra’, syin, dan dal, yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata rusyd atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya. Dengan kesempurnaan ini, ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat. Susunan huruf ini melahirkan pula kata mursyid yang artinya memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi ada yang disebut mursyid, maka ia adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. ( QS. Ibrahim 14:1 )

Energi Ilahiah Nuurun ‘Ala Nuurin

Sekarang apa yang dibawa oleh Sang Pembawa Risalah..?

1. Cahaya & Kitab
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (QS. Al-Maaidah, ayat 15)

 Tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (QS-Asy Syuura 42; 52)

Bagi yang tidak mendalami konsep energi metafisika, maka cahaya ini di artikan sekedar sebagai sebuah petunjuk atau Hidayah yang datang dari Tuhan. Namun bagi kami para ilmuwan Metafisika, tidaklah berpandangan demikian.  Cahaya yang dimaksud itu adalah sebuah energi Ilahiah yang Sumber Cahayanya berasal dari Cahaya Abadi yaitu Nur Allah. Kesimpulannya, Tuhan menurunkan dua jenis kitab. Yaitu kitab yang tidak berhuruf dan kitab yang berhuruf. Kitab yang tidak berhuruf itulah Cahaya Ilahiah Nuurun ‘ala Nuurin.

Cahaya Ilahiah inilah yang menjadi sarana bagin seorang manusia  untuk mendapatkan akses kembali kepada inti dirinya yaitu Nur Muhammad. Menjadi jembatan penghubung antara lapisan terluar dari Spektrum Energi dengan Inti Energi.Cahaya Ilahiah ini adalah sebuah energi murni, di dalamnya terkandung semua kualitas terbaik dari 99 jenis Cahaya Alam semesta.Cahaya Ilahiah ini jugalah yang mempunyai kemampuan untuk memurnikan tubuh manusia. Oleh karena itulah energi ini sangat tepat digunakan untuk kultivasi energi.

2. Cahaya Al-Furqon
Dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia, Al-Furqan diartikan sebagai pembeda; yang membedakan antara hak dan batil. Pada beberapa buku tafsir dijelaskan bahwa Al-Furqan ini merupakan sifat yang mempunyai potensi atau kemampuan membedakan sesuatu secara terperinci sehingga ia dapat mengungkapkan dengan jelas rahasia yang tersembunyi di balik sesuatu itu. Kalau boleh dikatakan, dia bukan saja mampu membedakan hal yang sudah jelas, misalnya antara hitam dengan putih, tetapi dia mampu membedakan yang mirip atau samar bagi kita, karena semuanya sudah terungkap dengan jelas dan terperinci sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal dan terabaikan.

Untuk mendapatkan makna yang hakiki dari suatu kitab suci tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan nalar dan intelektual saja, tetapi lebih dari itu, ia memerlukan perenungan yang sangat dalam. Perenungan itu tidak bisa dilampaui manusia biasa, sekalipun ia seorang professor. Manusia yang mampu melampaui perenungan itu adalah orang-orang yang memiliki maqam yang sudah melampaui batas ambang tertentu. Sampai ke tingkat para Nabi yang memiliki nilai-nilai kesucian spiritual yang sangat tinggi. Merekalah yang bisa menembus alam tempat para malaikat berkumpul sambil bersujud dan bertasbih memuji kebesaran Penciptanya.

Dengan nilai spiritual inilah, kemampuan mengungkapkan rahasia-rahasia kitab suci yang kita sebut Al-Furqan ini dapat dicapai. Al-Qur’an mengungkapkannya dalam surat Al-Baqarah ayat 53

Dan ketika Kami (Allah) berikan kepada Musa Al-Kitab dan Al-Furqan, semoga kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah ayat 53)
Telah kami (Allah) berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan. (QS. Al-Anbiya: 48).

Kita mengetahui bahwa kitab yang diberikan kepada Nabi Musa as adalah kitab taurat. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kepada Nabi Musa pun diberikan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan isi Taurat tersebut secara benar dan dapat kita buktikan dengan melihat akhir ayat ini yang diakhiri dengan kata semoga kamu dapat petunjuk. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Nabi atau Rasul memerlukan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan risalahnya (yaitu kitab suci) secara benar dan hakiki

Ayat yang lebih spesifik lagi berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw, yaitu dalam ayat:

Dia (Allah) turunkan kepada engkau (Muhammad Saw) Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan haq yang membenarkan apa yang terdahulu dan Dia menurunkan Taurat dan Injil sebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS. Ali Imran: 3-4).

Dengan bergabungnya ketiga nilai ini (Nabi, Kitab Suci, dan Al-Furqan), maka sempurnalah nilai suatu kenabian. Ketiga nilai ini, kalau mau diperumpamakan, boleh jadi ia merupakan “jembatan” atau transmitter antara alam manusia dengan alam malakut; alam dunia dengan alam gaib. Sesungguhnya apabila umat manusia ingin diantarkan untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya, maka jembatan inilah yang akan membawa dengan selamat dalam perjalan kembali menuju Allah SWT.

Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa Al-Furqan merupakan kata kunci dalam pengungkapan semua ini. Dapat dikatakan dengan senjata Al-Furqan ini, siapapun dapat mengungkapkan segala rahasia apapun yang terkandung dalam risalah terakhir ini, baik yang terkandung dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah Saw itu sendiri.

Dengan kebijaksanaan Allah SWT dan keadilan-Nya, walaupun tidak ada lagi pengutusan seorang Rasul, Allah tetap menurunkan Al-Furqan ini sampai hari kiamat kepada orang-orang yang dikehendaki. Artinya, tidak sembarang orang mendapatkan keistimewaan ini. Hanya orang-orang tertentu yang maqamnya sudah mencapai tingkat para nabilah yang mampu. Orang-orang ini dikenal dalam Islam dengan manusia-manusia sica atau wali-wali Allah yang disebut dengan manusia “takwa” sebagaimana yang dinyatakan Al-Qur’an: Sesungguhnya wali-wali Allah tidaklah mereka itu merasa takut dan tidak pula mereka itu bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63).

Manusia takwa inilah yang berhak mendapatkan keistimewaan menerima Al-Furqan. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:  Hai orang yang beriman, jikalau kamu bertakwa kepada Allah, (Dia) akan menjadikan untuk kamu Al-Furqan. (QS. Al-Anfa: 29).

Tradisi Attunement
Di dalam praktek Spiritualisme Islam, Attunement atau penyelarasan getaran energi pribadi dengan Getaran Energi Ilahiah disebut dengan Tawajjuh. Yang dilakukan secara rutin seminggu sekali atau seminggu dua kali. Atau minimal 40 hari sekali. Jadi attunement tidak hanya dilakukan di saat pertama kali mengikuti Majelis Dzikir. Tradisi ini di dalam REIKI NAQS dilakukan dengan cara komunikasi jarak jauh via telfon atau bersilaturahmi langsung denngan pengasuh.

Perkembangan reiki dewasa ini sebenarnya telah jauh menyimpang dari konsep aslinya. Reiki sebenarnya adalah tradisi olah spiritual dari kaum Budhis Tibet. Dan attunement atau penyelarasan energi spiritual aslinya di sebut sebagai reiju, yang artinya “menerima energi/spirit”.  Reiju ini dilakukan oleh seorang Master atau siswa senior terhadap siswa yunior setelah menyelesaikan sebuah sesi latihan olah spiritual. Jadi REIJU tidak diberikan sekali seumur hidup, tetapi diberikan setiap selesai berlatih.

Sedangkan tradisi reiki modern memberikan Attunement hanya ketika terjadi kenaikan tingkat dan di saat pertama kali mengikuti reiki. Yang bila di hitung tidak lebih dari 3 kali. Kesalahan yang lain adalah, reiki modern lebih menitik beratkan pada praktek healing dan bukan pada praktek meditasinya itu sendiri.

Dari hal di atas, maka kualitas vibrasi getaran dari para praktisi reiki yang ada menjadi patut dipertanyakan. Benarkah itu sebuah energi Ilahiah ataukah hanya sekedar energi tenaga dalam saja..?

BIBIT CAHAYA IMAN
Di saat pertama kali siswa NAQS memperoleh attunement, bibit cahaya Ilahiah telah ditanamkan di dalam Qalbunya. Dan menjadi tugas siswa yang bersangkutan untuk merawat dengan baik bibit tersebut sehingga dapat tumbuh dan bertunas.

Ketika getaran Energi Ilahiah sudah mulai bisa ditangkap oleh kesadarannya, maka kejadian inilah yang disebut kelahiran  NAQS awal atau bibitnya telah bertunas. Namun intensitas getarannya masih lemah serta terkadang masih timbul tenggelam. Oleh karena itu siswa harus semakin rajin untuk melatih meditasi  dzikirnya sehingga getarannya semakin meningkat intensitasnya serta dapat terjaga selama 24 jam penuh.

Namun bagi siswa yang masih juga belum terlahir NAQS awalnya, tidaklah perlu bersedih hati dan berputus asa. Namun bersikaplah ikhlas menerima keadaan itu, serta serahkan sepenuhynya hal itu kepada Tuhan. Serta sering-seringlah berkomunikasi dengan pengasuh.

Lambatnya kelahiran NAQS AWAL itu biasanya disebabkan oleh adanya suatu penyakit di dalam diri, sehingga energi Ilahiah lebih fokus untuk menyembuhkan kesehatan dari siswa. Energi Ilahiah adalah sebuah energi murni yang bersifat belum terpolarisasi. Sehingga ketika dia masuk ke dalam tubuh, maka dia akan menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh serta menyeimbangkan kondisi kesehatan siswa secara holistik lahir dan batin.

SISTEM KULTIVASI
Inti dari Reiki NAQS adalah membangun sistem kultivasi di dalam diri manusia, yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan dirinya lahir bathin serta meningkatkan derajat spiritualitasnya. Oleh karena itu fokus dari REIKI NAQS adalah pada upaya latihan kultivasinya. Sedangkan untuk aplikasi penyembuhan bagi dirinya sendiri baru dapat di lakukan setelah NAQS awal telah muncul. Sedangkan penyembuhan untuk orang lain baru boleh dilakukan ketika telah berlatih Meditasi Kultivasi 1.

Secara keseluruhan, waktu yang dibutuhakan untuk menyelesaikan PELATIHAN REIKI NAQS adalah sekitar 3 minggu s/d 1 bulan. Yang untuk selanjutnya siswa dapat melanjutkan latihannya secara mandiri.

Reiki Tingkat Master saat ini belum dibuka. Karena energi kultivasi bukanlah energi tenaga dalam atau energi natural yang lainnya. Hanya siswa yang telah teruji kualifikasinya saja yang dapat mengikuti latihan tingkat master. Lagipula Reiki NAQS tidak menjadikan tingkatan sebagai sebuah tujuan. Namun berbuat dan berkarya yang terbaik bagi umat manusia demi terwujudnya sebuah dunia yang penuh Cinta Kasih dan perdamaian. Dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri mulai saat ini juga.

Langkah untuk menumbuhkan Kedamaian Diri :
1. Memaafkan diri sendiri dan orang lain.
2. Ikhlas menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya.
3. Mengembalikan semua urusan kepadaNya.
4. Pasrah sepenuhnya kepadaNya untuk perbaikan dari situasi dan keadaan yang dialami.
5. Bersabar dalam menjalani proses pemulihan diri.
6. Bersyukur untuk setiap kemajuan yang di alami, walaupun cuma sedikit.

“Bila perlu berusahalah tersenyum dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Ada saat-saat di mana kita harus pasrah dan tertawa. Humor dalam hidup ini sangat penting. Jangan lupa bahwa hal-hal sederhana ini dapat membantu Anda mempertahankan perspektif,” kata Dale Carnegie, pendiri Dale Carnegie & Associates.

LAMPIRAN :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الل
(La Ilaha Illallah)
Tidak ada Tuhan selain Allah

Makna La Ilaha Illallah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk Disembah/diibadahi selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah.

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
(lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh)
~ TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH ~

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:
(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah),
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,
(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan
(7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kalimat lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh?

Jawabannya, agar kita melepaskan diri kita dari segala apa yang kita merasa mampu untuk melakukannya, dan kita serahkan semua urusan kepada Allah. Sesungguhnya yang dapat menolong dalam semua aktivitas kita hanyalah Allah Ta’ala, dan ini adalah makna ucapan kita setiap kali melakukan shalat,

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. [al-Fâtihah/1:5].

Dan kalimat ini, adalah makna dari doa yang sering kita ucapkan dalam akhir shalat kita:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

“Ya Allah, tolonglah aku agar dapat berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu” [1].

Pada hakikatnya seorang hamba tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak akan mungkin duduk di majlis ilmu, melainkan dengan pertolongan Allah. Seorang guru tidak akan mungkin dapat mengajarkan ilmu yang bermanfaat, melainkan dengan pertolongan Allah. Begitupun seorang pegawai, tidak mungkin dapat bekerja melainkan dengan pertolongan Allah.

Seorang hamba tidak boleh sombong dan merasa bahwa dirinya mampu untuk melakukan segala sesuatu. Seorang hamba seharusnya menyadari bahwa segala apa yang dilakukannya semata-mata karena pertolongan Allah. Sebab, jika Allah tidak menolong maka tidak mungkin dia melakukan segala sesuatu. Artinya, dengan mengucapkan kalimat ini, seorang hamba berarti telah menunjukkan kelemahan, ketidakmampuan dirinya, dan menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat membutuhkan pertolongan Allah.

Semasa peristiwa Israk Mikraj, kepada Rasulullah S.A.W., Nabi Ibrahim A.S. bersabda, “Engkau akan berjumpa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH.

Bahkan Allah jugalah yang memperjalankan Rasulullah s.a.w. pada malam itu. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan daripadaNYa.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra:1).

[1]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1522), an-Nasâ`i (III/53), Ahmad (V/245), dan al-Hakim (I/173, III/273) beliau menshahîhkannya, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

KUNCI SUKSES MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

Manusia memiliki dua tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik, yaitu: Pertama, manusia sebagai hamba (‘abid), di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan; Kedua, manusia sebagai khalifah, di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dengan sesama mahluk. Tidak akan sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam menjalani tugasnya sebagai khalifah. Begitu juga sebaliknya, tidak akan sukses sebagai khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai hamba juga sebagai khalifah.

Tidak dibenarkan orang yang taat kepada Allah, sementara dia mengabaikan problematika sosial kemasyarakatan. Demikian juga, tidak dibenarkan orang yang selalu memperhatikan urusan sosial kemasyarakatan, sementara dia tidak pernah menjalin hubungan personal dengan Tuhannya. Islam menghendaki umatnya agar memiliki hubungan kepada Allah yang baik, juga memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Kekhawatiran Malaikat
Malaikat memberikan peringatan kepada kita bahwa sekufur apapun seorang manusia itu tidak akan pernah menjadi kafir mutlak. Sekufur apapun seorang atheis, pasti dalam jiwanya ada sisi-sisi ketuhanan. Oleh karena itu, malaikat tidak meragukan apakah manusia itu bisa berhubungan langsung kepada Tuhan atau tidak, karena itu sebuah kemutlakan. Akan tetapi, malaikat menyangsikan kemampuan manusia akan bisa sukses menjadi khalifah di muka bumi ini.

Allah Swt. menyatakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat di atas menjelaskan bahwa ketika Tuhan menyampaikan maksudnya akan menciptakan mahluk pendatang baru (manusia), maka Malaikat langsung merasa keberatan terhadap dua hal, yaitu: Pertama, bukankah manusia itu bisa menyebabkan perusakan lingkungan di muka bumi; Kedua, bukankah manusia itu bisa melahirkan pertumpahan darah antar sesamanya.

Ayat ini agaknya cukup relevan dengan kondisi saat ini. Bencana alam dan problematika sosial kemasyarakatam yang terjadi agaknya membenarkan kekhawatiran Malaikat itu. Kita baru saja menyaksikan peristiwa longsor dan banjir di sebagian wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, gempa bumi di sebagian pulau Bali dan Nusa Tenggara baru-baru ini, konflik yang tiada henti di propinsi Aceh, dan berbagai konflik etnis di sebagian daerah Indonesia lainnya beberapa tahun yang lalu. Semua itu sedikit banyak membenarkan apa yang disampaikan Malaikat di atas.

Kata Kunci Sukses
Bagaimana menciptakan manusia yang sukses, baik dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Ada sebuah statement yang seringkali dihafal dan dibaca oleh kita sebagai kata kunci untuk sukses, yakni lafadz bismillahirrahmanirrahim (basmalah).

Rasulullah bersabda, apapun yang akan kita lakukan hendaknya membaca basmalah. Bahkan, tidak hanya Rasulullah, para Nabi sebelumnya pun sangat akrab dengan basmalah. Ketika membuat perahu di atas bukit, di mana saat itu belum ada mesin, Nabi Nuh As. membaca basmalah, yakni bismillahi majraha wa mursaha, dan langsung perahu itu meluncur. Dalam riwayat lain disebutkan, pegangan tongkat Nabi Musa As. terdapat ukiran yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahim. Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa As. membaca basmalah. Begitu juga, yang digunakan oleh Nabi Sulaiman As. untuk menundukkan jiwa Ratu Balqis adalah basmalah, dan Ratu Balqis pun langsung takluk.

Intisari Basmalah
Jika kita melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah, berarti kita mengatasnamakan perbuatan kita kepada-Nya, jadi seakan-akan kita mewakili Allah. Ini sesuai dengan arti khalifah sendiri, yaitu representasi Tuhan di muka bumi. Satu-satunya mahluk yang diciptakan khusus untuk menjadi wakil (representasi) Tuhan di alam raya ini adalah manusia, bukan malaikat, jin, dan bukan pula mahluk lainnya. Itulah rahasia manusia sebagai ahsan at-taqwim, mahluk yang termulia.

Oleh karena itu, kita harus hati-hati setiap melakukan sesuatu. Sebab, apapun yang kita lakukan itu mengatasnamakan Allah Swt. Apapun yang kita lakukan hendaknya mengimplementasikan lafadz basmalah, misalnya dalam menentukan sebuah keputusan yang diambil. Jadi, bismillahirrahmanirrahim adalah satu kunci sukses yang diajarkan oleh agama kita, baik sebagai hamba (‘abid) maupun sebagai khalifah.

Dalam buku-buku tasawuf dijelaskan bahwa kandungan pokok al-Quran terdapat pada surat al-Fatihah. Pada surat itu, kalimat yang paling penting adalah bismillahirrahmanirrahim. Dalam kalimat itu, kata yang paling inti adalah ar-rahman dan ar-rahim. Dua kata tersebut berakar dari kata yang sama, yaitu rahima yang berarti “cinta kasih”. Dengan demikian, makna dibalik lafadz basmalah adalah “kerjakanlah semua perbuatan itu dengan penuh cinta kasih”. Sebab, di dalam “cinta kasih” pasti terkandung unsur keikhlasan, niat yang baik, ketenangan, tidak ada dendam, tidak ada pamrih yang berlebihan, dan tidak atas dasar motivasi yang berjangka pendek, tetapi mengupayakan yang abadi dan universal.

Allah ternyata menggunakan lafadz basmalah, tidak dengan sebutan lafadz-lafadz lain, seperti al-‘aziz, al-ghafar, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa dalam mengelola alam raya, sebagai konsekuensi sebagai khalifah, kita harus menyandarkan pada lafadz basmalah, yakni dengan penuh kasih sayang.

Kita seringkali tidak melandaskan pada kasih sayang dalam menentukan keputusan. Begitu melihat pohon raksasa di tengah-tengah hutan, yang terbayang dalam benak kita berapa meter kubik kayu yang bisa diambil dan berapa dollar yang bisa diraup jika diekspor, dengan tanpa pernah mempertimbangkan berapa banyak habitat hewan dan tumbuhan yang hidupnya tergantung pada pohon tersebut. Begitu pula ketika kita melihat hamparan tanah kosong daerah resapan air, yang terlintas di pikiran kita berapa kavling rumah yang bisa dibangun dan berapa juta yang didapat bila dijual atau disewakan, dengan tanpa pernah sedikitpun mempertimbangkan efeknya terhadap keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut, sehingga terjadi banjir suatu waktu karena tanah tidak lagi bisa meresapkan air hujan yang turun.

Inti bismillahirrahmanirrahim adalah bagaimana kita bisa menginternalisasikan sifat kasih sayang Tuhan dalam setiap perbuatan. Kenapa Tuhan tidak begitu saja menyiksa orang-orang yang kafir terhadap-Nya? Tiada lain, karena Tuhan lebih dominan menunjukkan diri-Nya sebagai Maha Penyayang daripada Maha Pembalas Dendam. Nilai inilah yang patut ditiru.

Akhirnya, posisi kita sebagai khalifah di muka bumi hendaknya berpegang teguh pada konsep basmalah. Sebuah konsep yang tidak saja meniscayakan sekedar ucapan biasa, tetapi implementasi dalam setiap perbuatan kita. Bârakallâhu lî wa lakum, wallâhu a’lam bishshawwâb.

Sumber :
Ditulis oleh Ustadz Nasaruddin Umar.

Evolusi dan Insan Kamil

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” [Q.S. al-Israa’ 17:70]

Sebagai makhluk yang sempurna berarti manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling berevolusi di muka bumi ini. Organisme yang paling mampu mengendalikan lingkungan dan organisme yang lain, serta paling mampu menjamin kelangsungan hidupnya dan paling mampu melakukan pelestarian dirinya. Pemahaman kita sekarang tentang evolusi merupakan hasil dari kenyataan bahwa kita telah berevolusi hingga sekarang dengan cara mengeksplorasi realitas fisik melalui panca indera. Melalui panca indera kita mengetahui bahwa setiap tindakan merupakan sebab yang berakibat.

Ketika lingkungan fisik dilihat hanya dari sudut pandang panca indera, kelangsungan hidup fisik tampak menjadi kriteria evolusi yang mendasar, karena tidak ada jenis evolusi lain yang dapat dikenali. Ketika persepsi dunia fisik terbatas pada persepsi panca indera, dasar kehidupan dalam arena fisik adalah rasa takut.

Kekuatan untuk mengendalikan lingkungan, dan semua yang berada pada lingkungan itu tampak menjadi esensial.

Kebutuhan pada kekuatan fisik menghasilkan suatu jenis kompetisi yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Kebutuhan itu mempengaruhi hubungan antar teman, antar kekasih, antar negara, antar ras, antar jenis kelamin. Kekuatan eksternal ini dapat diperoleh dan dapat pula menghilang.

Persepsi tentang kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal telah membentuk struktur kehidupan dan ekonomi kita. Uang merupakan simbol kekuatan eksternal. Orang yang memiliki uang terbanyak memiliki kemampuan terbesar untuk mengendalikan lingkungan beserta isinya. Pendidikan, status sosial, ketenaran dan barang-barang yang dapat dimiliki lainnya, jika dipandang dari pengertian peningkatan keamanan, merupakan simbol-simbol kekuatan eksternal. Rasa takut merupakan akibat dari cara memandang kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal.

Perebutan untuk memperoleh kekuatan eksternal merupakan inti semua kekerasan. Inti sekunder dibalik konflik ideologis, seperti kapitalisme melawan komunisme, konflik keagamaan dan geografis, serta konflik keluarga dan perkawinan, tak lain adalah kekuatan eksternal.

Dari dinamika ini, kita menemukan pemahaman kita sekarang tentang evolusi sebagai proses peningkatan kemampuan secara terus-menerus untuk menguasai lingkungan dan pihak lain. Definisi ini mencerminkan keterbatasan pemahaman dunia fisik hanya dengan menggunakan panca indera. Definisi itu mencerminkan perebutan kekuatan eksternal yang diakibatkan oleh rasa takut.

Fenomena munculnya aliran-aliran yang dianggap “sesat” belakangan ini mungkin merupakan pencarian manusia akan makna yang lebih mendalam atau mungkin juga hanya usaha-usaha alternatif manusia atau sekelompok manusia untuk memperoleh kekuatan eksternal. Manusia  yang menyatakan aliran lain yang memiliki kepercayaan yang berseberangan dengannya merupakan aliran sesat, juga tidak kalah sesatnya. Mereka semua tersesat dalam perebutan kekuatan eksternal. Jika kita masih menganggap diri kita lebih eksklusif, lebih suci, lebih berpengetahuan daripada orang lain maka kitapun masih tersesat.

Setelah melewati berbagai kebrutalan, baik antar individu maupun antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, sekarang menjadi jelas bahwa rasa tidak aman yang mendasari persepsi kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal tidak dapat disembuhkan dengan cara mengumpulkan kekuatan eksternal. Kita harus memperluas dan memperdalam pemahaman kita yang akan menuntun kita pada suatu jenis kekuatan lain, yaitu kekuatan cinta kasih, kekuatan yang tidak menghakimi apapun yang dihadapinya, kekuatan yang menghargai kebermaknaan dan tujuan dari segala rincian hal-hal terkecil yang ada di bumi.

Kekuatan cinta kasih berakar pada sumber terdalam dari keberadaan kita. Seseorang yang digerakkan oleh kekuatan ini tidak mampu menjadikan siapapun atau apapun sebagai korban, dan orang ini sedemikian kuat, sedemikian berkuasa, sehingga tidak pernah terlintas dalam kesadarannya untuk menggunakan kekerasan pada orang lain.

Bunda Theresa pernah berkata : “Kita tidak dapat melakukan hal-hal yang besar, yang dapat kita lakukan adalah melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar”. Kehidupan umat manusia telah dibentuk secara mengagumkan oleh kekuasaan dan cinta dari Dia yang bersedia “menyerahkan hidupnya” untuk orang lain. Karena itu Dia merupakan salah satu diantara spesies manusia yang paling berevolusi.

Transformasi, membawa pemahaman kita tentang evolusi dari evolusi fisik menjadi evolusi spiritual. Dengan bercermin pada pemahaman tentang evolusi yang baru dan lebih luas, pemahaman yang dapat memvalidasi kebenaran terdalam kita, kita dapat melihat arah dan arti evolusi itu dalam pengertian apa yang kita alami, apa yang kita hargai, dan bagaimana kita bertindak.

Kesadaran atau pencerahan adalah sebuah rahmat. Kita tidak dapat mengundang pencerahan itu. Bagaikan sedang kegerahan di dalam kamar, kita harus membuka jendela kamar kita agar angin sepoi-sepoi dapat masuk dan menyegarkan kita, tetapi kita tidak dapat mengundang angin itu untuk datang. Usaha yang dapat kita lakukan sekedar membuka jendela dan membiarkan angin itu masuk. Rahmat Ilahi bagaikan angin yang melimpah di alam semesta ini. Melaksanakan latihan spiritual, ibadah, ubudiyah dan kegiatan lain yang dianjurkan oleh-Nya adalah salah satu upaya untuk membuka jendela hati kita agar rahmat Allah dapat masuk.

Evolusi Spiritual Adalah Potensi Manusia yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk yang lain. Pohon dan tumbuhan, misalnya, adalah hampir tidak giat. Mereka termasuk kategori ‘kesadaran tertutup’. Namun, ketika kita mengamati mereka secara seksama, kita akan melihat bahwa mereka memiliki kesadaran yang terbatas. Jagadish Chandra Bose memberitakan bahwa tumbuh-tumbuhan memiliki kesadaran.44 Entitas hidup yang lain, seperti cacing atau ulat, serangga, dan binatang-binatang yang lain berada dalam “kesadaran mengkerut.’ Mereka tidak tertutup seperti tumbuh-tumbuhan, akan tetapi juga kesadaran mereka tidak berkembang sepenuhnya.

Manusia memiliki ‘bibit kesadaran Ilahiah yang masih kuncup’. Sebuah pucuk kuncup nampaknya mengkerut, namun ia berpotensi untuk menjadi sekuntum bunga mekar. Kesadaran manusia memiliki potensi yang serupa. Jadi, umat manusia memiliki kemampuan bawaan untuk mengembangkan kesadaran sampai batas hampir tak terhingga, hingga titik mengetahui Kebenaran Mutlak. Spesies yang lain tidak memiliki kemampuan khusus ini. Itulah sebabnya Allah mempermaklumkan bahwa bentuk kehidupan manusia adalah yang paling tinggi, Insan Kamil khususnya dimaksudkan bagi bentuk kehidupan manusia.

Kesadaran terus mengalami perkembangan dengan cara seperti ini karena tujuan kehidupan adalah untuk mencapai keadaan kesadaran Ilahiah. Jadi kehidupan adalah berbeda dengan badan-badan material yang ditempatinya. Dalam bentuk kehidupan manusia, ketika seseorang dengan tulus mulai bertanya tentang Allah, Kebenaran Mutlak, maka kesadaran spiritualnya yang seperti pucuk kuncup mulai mengalami perkembangan. Itulah keadaan kesadaran yang ‘mulai mekar.’ Ketika dia mempraktekkan disiplin-spiritual yang teratur sebagai hasil dari pertanyaannya, dia akan berkembang terus dan terus. Akhirnya, dia akan mencapai realisasi trancendental (keinsyafan rohani), kesadaran Tuhan yang sempurna, keadaan kesadaran yang ‘mekar sepenuhnya’.

Pengetahuan ilmiah untuk mencari Kebenaran Mutlak akan menjadi sebuah perjalanan spiritual. Albert Einstein pernah menyatakan, “Hal yang penting adalah bukanlah untuk berhenti bertanya. Keingin-tahuan memiliki alasan tersendiri atas keberadaanya. Orang tak dapat berbuat apa-apa kecuali kagum dan terpesona ketika kita merenungkan misteri kekekalan, kehidupan, struktur realitas yang mengagumkan. Cukup jika seseorang semata-mata berusaha untuk memahami sedikit saja dari misteri-misteri ini setiap hari.”

Evolusi Kesadaran Spiritual

Apabila kita amati, maka sebenarnya umat manusia mengalami evolusi kesadaran spiritual dalam rangka menuju pencerahan puncak, yaitu bersatu kembali dengan kesejatian. Untuk mudahnya, kita dapat membagi tahap evolusi kesadaran itu menjadi empat tahap, yaitu:

Tahap Pertama: Paradigma Dualistic.

  • Dalam tahap ini, kita memahami bahwa Tuhan adalah Yang Mahakuasa, pencipta alam semesta (kosmologi dan teologi).
  • Kita melihat segala sesuatu serba dua. Ada surga ada neraka, ada Tuhan ada iblis, Tuhan mahabaik tapi Tuhan menghukum, ada baik ada buruk, ada positif ada negatif, Tuhan memberi berkat tapi Tuhan menurunkan bencana dan musibah. Tahu Tuhan Mahacinta tapi mengatakan bahwa suatu bencana itu merupakan kehendak Tuhan.
  • Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.
  • Bila berbuat baik mengharapkan pahala, dan bila berbuat jahat akan disiksa.
  • Ego sangat kuat, ingin menang sendiri, masuk surga pun ingin duluan.

Tahap Kedua: Paradigma Semi-dualistic.

  • Dalam tahap ini kita masih memahami bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta semesta, Tuhan Mahabaik, dan yang tidak baik bukan dari Tuhan.
  • Di sini kita tidak lagi berpikir bahwa Tuhan mengadakan bencana. Banjir dan air bah kita mengerti sebagai akibat mekanisme alam, demikian pula gunung meletus dianggap merupakan fenomena alam semata.
  • Bila berbuat baik, kita mendapat pahala, tetapi perbuatan jahat akan diampuni Tuhan karena Tuhan Mahapengampun.
  • Termasuk juga pandangan untuk memilih jalan positif atau jalan negatif untuk mencapai persatuan dengan Tuhan.
  • Ego masih kuat.

Tahap Ketiga: Paradigma Non-Dualistic

  • Dalam tahap ini kita masih memahami bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta semesta, namun semuanya berada dalam satu kesatuan. Tuhan dan mahluknya adalah satu kesatuan.
  • Termasuk di sini adalah pandangan keesaan Tuhan dimana Tuhan mencakup segala-galanya. Jadi Tuhan menjiwai dan meresapi dunia. Tuhan hadir di setiap mahluk. Tuhan hadir di dalam alam yang fana ini. Tuhan berada di balik proses-proses lahir mati dan siklus daur-ulang. Di sini kita mulai bermeditasi merasakan harmoni dengan alam.
  • Manusia mulai bersifat belas-kasih, aku dan orang lain (mahluk lain) adalah sama. Tidak mau membunuh mahluk lain (ahimsa).
  • Ego masih ada tapi sudah tidak terlalu kuat.

Tahap keempat: Paradigma “Pure Non-Dualistic”

  • Tuhan adalah realitas sejati, dunia adalah realitas maya (mayapada)
  • Realitas sejati itu kekal, dunia maya itu fana (berubah-ubah).
  • Dunia fana ini adalah ciptaan manusia sendiri (maya, ilusi)
  • Tuhan “nothing to do” dengan dunia. Dunia ini sepenuhnya urusan manusia.
  • Adalah Ego yang menimbulkan keterpisahan manusia dari Tuhan dan Surga.
  • Tuhan Mahakasih dan Pengampun.
  • Segala perbuatan baik oleh manusia di dunia adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri.
  • Segala perbuatan buruk oleh manusia di dunia adalah menyakiti diri sendiri.
  • Seluruh alam semesta ini adalah kesatuan kemanusiaan (si Anak Manusia).
  • Untuk masuk Surga, Tuhan tidak memperhitungkan amal baik atau kejahatan manusia. (Maka itu orang bisa hidup di jalan positif atau negatif).
  • Juga kebijaksanaan dunia tidak berlaku sebagai tiket untuk masuk Surga.
  • Tiket masuk Surga adalah pertobatan (tidak mengharap pahala dan siksa) dan penghapusan Ego.
  • Untuk menghapus Ego, manusia harus mulai belajar melepaskan segala keterikatannya, terutama dengan praktek forgiveness (mengampuni, memaafkan, let it go).
  • Yang dimaksud suci di hadapan Tuhan bukanlah kita tidak punya dosa atau banyak berbuat baik. Suci berarti tidak ada ego lagi, sehingga kita tidak punya kepentingan atau keterlekatan apapun dengan dunia.
  • Selama kita masih mempertahankan Ego, maka selama itu pula kita masih memisahkan diri dari Tuhan dan Surga.
  • Dunia (alam semesta) ini sebenarnya merupakan tempat pelarian kita dari Hadirat Tuhan.
  • Masuk Surga berarti sudah rela meninggalkan dunia.
  • Orang yang masih hidup di dunia bisa saja sudah masuk Surga, seperti orang yang melangkah di ambang pintu. Satu kaki masih di dunia, dan kaki lainnya sudah menapak ke Surga.

Sekian dulu dan terima kasih.

Salam,

P.M. Winarno

NB
Perhatikan pembicaraan kita dengan orang lain. Apabila kita masih menggunakan kata “aku”, “saya” maka itu berarti masih ada si ego.
Cobalah berlatih menghilangkan ego ketika berinteraksi dengan orang lain. Gunakan kata “kita”.
Segera maafkan bila kita dibuat marah, benci, kecewa, dsb tanpa diminta. Demikian pula bila kita berbuat salah, segeralah minta maaf.

sumber: milis HDnet
iloveblue.com

Melatih Kepekaan Dan Ketajaman Matahati

Hati yang peka dan tajam adalah indikator kedekatan kepada Allah SWT. Maksud peka di sini adalah kita selalu mengaitkan dengan kehadiran Sang Maha Pencipta alam semesta di dalam setiap gerak langkah kita. Dengan selalu menghadirkan eksistensi-Nya, kita berharap Dia selalu membisikkan solusi apapapun kebaikan menurut cara-Nya.

Apakah sobat menginginkan kepekaan mata hati sehingga semua persoalan hidup bukanlah lagi menjadi hal berat bagi sobat? Hidup menjadi terarah dan sobat selalu mendapat bimbingannya setiap detik setiap saat. Rezeki dan keberkahan dunia akherat, demi Allah, akan diraih.

Caranya sangat mudah, sobat. Amalkan dan praktekan rahasia, yang saya ambil dari bukunya masterpiece Ippho Santosa “7 keajaiban Rezeki”. Sebaiknya sobat membaca buku ini. Jika belum punya silahkan bisa pinjam ke teman yang sudah memiliki. Pembahasannya unik, mencerahkan dan isinya banyak yang tidak pernah saya pikirkan, penyampaiannya enak dan luarbiasasa, ada keistimewaan tersendiri.

Baiklah, intinya ada usaha lahiriah dan batiniah. Dalam hal ini saya bahas sisi batiniah, saya hanya menyebutkan poin-poin intinya saja, karena penjelasan dan manfaat dahsyat ada di bukunya.

Seperti dikutifdalam halaman 111, hingga sekitar pada tahap pertengahan buku saya baca, bisa disimpulkan bahwa inilah yang mesti sobat amalkan.

Pemberian
– sedekah

Shalat
– shalat dhuha
– shalat tahajjud
– shalat taubat

Sikap
– tawakkal
– syukur
– sabar
– husnudzon

Perkataan
– zikir
– isrigfar
– shalawat

Perbuatan
– berbakti kepada orang tua
– menikah
– memiliki keturunan
– berhaji
– berumrah
– silaturahim
– ikhtiar
– berdagang

Semua poin-poin di atas memiliki keajaiban yang dahsyat dan luarbiasa. Saya yakin poin-poin tersebut tidak pernah masuk dalam daftar rencana yang harus sobat lakukan (baik rencana tersebut sekedar tuilisan bahkan niat sekalipun). Sebaiknya mulai saat ini kita tulis besar-besar daftar tersebut, dan tentunya mari kita amalkan secara berjamaah.

Hakikat Kultivasi Nafsu dan Ruh

Struktur manusia adalah struktur berbagai alam dan bagian-bagiannya. Tentu saja hal ini tidak dalam bentuk penampakannya, tapi lebih pada unsur-unsur penyusunnya, inter relasinya, dan mekanisme hukum yang berlaku di dalamnya dimana alam yang dimaksud tidak hanya meliputi alam fisik inderawi tapi juga alam-alam atas (alamul a’laa), termasuk alam malaikat. Semua ini adalah kalam ilahi yang bertutur tentang Dia SWT yang berada di balik semuanya.

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut rupa-Nya” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Untuk menjelaskan struktur insan yang kompleks ini maka Imam Al-Ghazali ra menggambarkan bahwa manusia itu adalah hewan yang mampu berpikir (hayyawan nathiq), maksudnya berjasmani seperti hewan, tapi juga mampu mencerap pengetahuan tentang Allah SWT sebagaimana malaikat. Perbedaan antara manusia dengan hewan adalah adanya tambahan unsur jiwa (an-nafs) yang membuat manusia mampu berpikir dan mewujudkan apa yang dipikirkannya (nathiq), baik dalam bentuk perkataan hingga perbuatan, sehingga bila saja binatang diberi jiwa (an-nafs) sebagaimana yang diberikan kepada manusia, tentu ia akan sanggup berpikir dan akhirnya mukallafah.

Struktur makhluq yang seperti ini oleh Imam Al-Ghazali ra dibagi dalam tiga aspek: Jiwa (an-nafs), Ruh dan Jasmani (jism).

Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan nafsnya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa tertawa. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin dan shalshal di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani bani adam terbentuk dalam rahim ibu melalui fase-fase nuthfah, ‘alaqah dan mudhghah. Meski begitu secara hakiki jasmani bani adam tetap berasal dari 4 unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.

Jika diperhatikan lebih jauh mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, maka akan ditemui persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos). Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan, tentu maka akan menemukan persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.

Kemudian adanya ruh membuat manusia mirip dengan hewan karena ruh yang dimaksud di sini adalah ruh yang juga dimiliki oleh hewan, yaitu ruh hewani. Dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah nafakh ruh (Ruh Jasmani). Ruh hewani ini adalah sesuatu yang bertempat, sehingga eksistensinya bisa dideteksi oleh ilmu kedokteran. Ia berjalan (mengalir) di seluruh anggota tubuh, pembuluh darah , urat nadi dan syaraf. Kehadirannya di suatu anggota tubuh, membuat bagian tubuh tersebut menjadi hidup. Apakah itu berwujud gerakan, sentuhan, menatap, mendengar, dan sebagainya. Ibaratnya seperti pelita yang beredar menelusuri suatu tempat yang penuh dengan lorong-lorong; tempat tersebut adalah ibarat tubuh. Bagian-bagian tubuh yang diibaratkan dengan lorong-lorong akan hidup ketika cahaya pelita menerangi lorong tersebut.Cahaya pelita itulah ibarat dari ruh hewani yang mengalir dan beredar di seluruh tubuh. Ruh tersebut tidak memberi petunjuk pada pengetahuan. Ia tak lebih daripada perangkat unik yang bisa mematikan badan, di mana misi Rasulullah Saw bukan ditujukan pada ruh tersebut. Ruh inipun bukanlah Ruh Amr yang dimaksud di Al-Israa’ [17]: 85.

Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh. Katakanlah: Ar-Ruh itu berasal dari Amr Rabbku, dan tidaklah engkau diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit. (Al-Israa’ [17]: 85)

Sehingga bisa dikatakan bahwa Imam Al-Ghazali meluruskan pemahaman sebagian umat Islam yang menyamakan makna Ar-Ruh dengan Nafakh Ruh (ruh hewani).

Ruh Jasmani
Nafakh Ruh /Ruh hewani/Ruh Indriawi adalah Hakikat Jiwa/Nafs dan Dzat Hidup

Ruh Jasmani merupakam cikal bakal kehidupan, artinya ruh jasmani inilah yang menyebabkan makhluk hidup dapat hidup. Ruh Jasmani adalah tingkatan lapis terluar dari Ruh yang berkaitan erat dengan diri jasmani manusia. Oleh karena itu bersifat materi (Aradh). Nafsu dan Ruh dalam perkembangannya mempunyai perkembangan yang sangat saling terkait namun tumbuh secara terpisah sendiri-sendiri.

Kekuatan jiwa (aradh) itu dibedakan menjadi dua, yaitu motorik (penggerak) dan kognitif. Sementara kognitif sendiri terbagi menjadi dua, yaitu luar dan dalam. Kognitif luar adalah seperti mendengar, melihat, membaui, meraba dan sebagainya. Adapun kognitif dalam terdiri dari tiga macam:

1. Imajinasi (khayaliyyah), yang bertugas merekam segala bentuk yang pernah ditangkap oleh indera.

2. Fantasi (wahmiyyah), yang mampu memahami berbagai makna (pengertian). Kekuatan ini akan merekam pengertian (makna) dari segala bentuk yang direkam oleh khayaliyyah.

3. Pikiran (fikriyyah), yang berfungsi menyusun beberapa bentuk, antara yang satu dengan yang lainnya.

Dari gambar tersebut terlihat bahwa kognitif luar itu melekat pada panca indera dan kognitif dalam itu melekat pada dimagh (otak). Yang menarik ternyata hampir semua kekuatan (aradh) tersebut juga dimiliki oleh binatang karena kambingpun bisa langsung mengerti bahwa anjing hutan adalah musuhnya, maka ia segera melarikan diri. Artinya hewanpun adalah makhluk yang berfikir. Karena itu jiwa (an-nafs) mestilah sesuatu yang derajatnya di atas kekuatan-kekuatan (aradh) tersebut, karena jiwa (an-nafs) merupakan pembeda antara manusia dan binatang yang perbandingannya sebagaimana dilukiskan pada gambar 1 di mana cahaya dengan sumbernya tetaplah sesuatu yang derajatnya berbeda.

Demikianlah, sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor pembeda manusia dengan binatang adalah pada zat jiwa itu sendiri, yaitu jiwa sebagai jauhar yang memiliki kemampuan untuk merespon atau memahami pengetahuan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Imam Al-Ghazali ra menyatakan bahwa jiwa jauhar ini bukanlah kekuatan-kekuatan tersebut, melainkan merupakan esensi yang sempurna dan tunggal yang tidak muncul selain dengan cara mengingat, menghapal, berpikir, membedakan dan mempertimbangkan sehingga dikatakan bahwa dialah yang menerima seluruh ilmu. Ia tidak bosan menerima gambaran-gambaran yang lepas dari materi. Semua bagian diri manusia berkhidmat kepada jauhar ini dan melaksanakan perintahnya.

Dalam hubungannya dengan jasad, jiwa jauhar ini (an-nafs) dikatakan memiliki dua jenis kekuatan, yaitu kekuatan yang bersifat amaliah (praktis) dan yang bersifat ilmiah. Adapun yang bersifat amaliah adalah kekuatan yang menjadi pusat penggerak manusia sehingga melahirkan karya dan cipta dalam wujud teknologi-teknologi manusia. Sementara yang bersifat ilmiah adalah yang mampu memahami materi ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak ada bentuk dan bendanya, di mana ilmu pengetahuan tersebut merupakan masalah-masalah yang bersifat universal, abstrak dan hanya dapat dipahami oleh akal.

Dalam kaitannya dengan aspek amaliah dan ilmiah inilah maka jiwa jauhar ini disebut juga dengan jiwa berpikir (nafs nathiqah) karena makna nathiq di sini tidak hanya meliputi kekuatan berpikir (ilmiah), tapi sampai pada kekuatan untuk mewujudkannya dalam bentuk gerak dan perbuatan (amaliah). Al-Qur’an menamai nafs nathiqah sebagai suatu paduan antara jiwa yang tenteram (nafs muthmainnah) dengan ruh Amri. Karena itu Imam Al-Ghazali ra menyatakan bahwa nafs nathiqah adalah jauhar yang hidup, aktif dan rasional.

Tingkatan Jiwa

Jiwa itu sesungguhnya berlapis-lapis dan bertingkat, sehingga istilah jiwa sebenarnya digunakan untuk mewakili/menggambarkan banyak aspek. Bila istilah jiwa ditujukan pada jiwa yang menjadi jauhar manusia (an-nafs), maka binatang dapat dikatakan tak memiliki jiwa tersebut. Tapi bila derajat pemahaman tentang jiwa ini diturunkan, maka binatang pun sebenarnya memiliki jiwa. Bahkan tenaga gas dan segala sesuatu yang dapat berkembang (seperti tumbuhan) juga dikatakan memiliki jiwa. Hanya saja derajat jiwa yang mereka miliki tidak cukup untuk membuat mereka mukallafah. Karena itu dalam tulisan ini, ketika jiwa disebut dalam bentuk isim ma’rifah an-nafs, maka itu menunjuk kepada jiwa jauhar. Sedangkan ketika disebut dengan nafs saja, maka itu menunjukkan kepada jiwa dalam seluruh derajatnya (jiwa secara umum).

Untuk memahami masalah ini lebih jauh, harus dipahami bahwa jiwa itu tumbuh. Ia berproses dari suatu kekuatan (kemampuan, potensi) menuju bentuk perbuatan. Jiwa hewani (an-nafs al-hayawaniyyah) melekat pada kesempurnaan suatu tubuh (jism) secara alamiah dimana pada derajat tersebut pemilik jiwa memiliki kemampuan untuk dapat merasa dan bergerak sehingga dikatakan bahwa jiwa hewani adalah tingkatan pertama dari munculnya suatu perbuatan. Karena itulah binatang dan manusia sama-sama memiliki jiwa jenis ini.

Penggerak indera pada binatang adalah melalui daya fantasi, yang fungsinya sama dengan daya intelektual yang ada pada manusia. Seekor binatang akan berperilaku sesuai dengan perilaku yang dikendalikan daya fantasinya ketika melihat sesuatu yang berbahaya. Kalau melihat sesuatu yang berbahaya, ia akan segera menghindar, dan tidak terlalu salah bila dikatakan bahwa ia punya daya rekam yang mampu merekam citra.

Jiwa manusia sendiri memang memiliki dua sisi. Satu sisi menuju alam ruh (alam tinggi, alamu’ a’la) dan sisi lain menuju alam bawah (rendah, alam materi) di mana dia diperintah agar memelihara dua sisi yang saling berseberangan ini. Dari sisi yang menuju alam tinggi ia mirip dengan malaikat dalam berbagai keutamaan dan ketekunan beribadat kepada Tuhannya. Sedangkan sisi yang menuju alam bawah membuatnya mampu berinteraksi dengan alam bawah yang terformulasi dari unsur materi (alam khalq). Penguasaan jiwa terhadap alam materi tersebut adalah melalui tubuh fisik (jism).

Berbagai alam tersebut memiliki tuntutannya masing-masing, yang sering saling bertolak belakang. Inilah yang membuat jiwa manusia cenderung bingung dalam menjalani kehidupannya di dunia. Masing-masing ingin dipenuhi secara adil sesuai dengan hukum keadilan Tuhan. Karena itu agar manusia pada akhirnya tetap bisa cenderung pada sisi yang tinggi, maka Allah memperkuatnya dengan akal agar dapat menerima apa yang disampaikan dari para malaikat dan Rasul-Nya, di samping juga sanggup memahami apa yang dikehendaki Tuhannya. Inilah kebijakan Tuhan (hikmah Ilahiyyah) yang menjadikan manusia itu istimewa.

Dua sisi tersebut kemudian membuat jiwa (an-nafs) memiliki dua kekuatan dasar, yaitu amaliah dan ilmiah. Kekuatan amaliah terkait dengan sisi yang menuju alam bawah yang sebagian besar bersifat inderawi, sedang kekuatan ilmiah terkait dengan sisi yang menuju alam atas karena dari sisi inilah turunnya pengetahuan yang tak terbatas. Terkait dengan hal tersebut, jiwa hewani sesungguhnya adalah representasi jiwa pada sisi yang menghadap alam bawah di mana dengan jiwa hewani tersebut manusia dan binatang dapat menghasilkan dan mensistemkan suatu gerakan atau perbuatan. Hanya saja pada binatang, mereka bergerak dan berbuat tanpa pengetahuan tentang sisi bagian atas sehingga binatang tidak mengerti tentang apa yang menjadi dasar gerakan (perbuatan) mereka. Perbuatan dan karya cipta mereka sepenuhnya dilakukan atas dasar wahyu yang diterima dari Allah swt.

“Dan Rabbmu mewahyukan kepada seekor lebah: Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon, dan di tempat-tempat yang dibikin (manusia).” (An-Nahl [16]: 68)

Sementara manusia bergerak dan berbuat atas dasar pengetahuan yang didapatnya. Bila sisi jiwa yang menghadap alam atas mampu menerima pengetahuan-Nya, maka dia akan berbuat dan berkarya atas dasar ilmu-ilmu tinggi itu. Bila tidak, maka manusia juga akan tetap berbuat, tapi atas dasar ilmu-ilmu rendah (pengetahuan duniawi). Karena itu Al-Qur’an sering menyindir mereka yang tak memiliki pengetahuan tentang alam-alam atas sebagai tak ubahnya dengan binatang, bahkan lebih rendah dari itu. Mereka tidak mengenal malaikat dan Tuhan penciptanya, tapi sangat mengenal dunianya.

“Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka (mampu) mendengar atau menggunakan ‘aqlnya?. Mereka itu tiada lain bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesatlah jalan mereka.” (QS. Al-Furqan:44).

Manusia dikatakan lebih sesat dari binatang karena meski binatang tak memiliki pengetahuan tentang alam-alam atas namun binatang berada dalam ketaatan yang mutlak kepada Sang Penciptanya. Mereka mendengar, melihat dan mengetahui kehendak Allah SWT atas diri mereka. Mereka tak akan pernah bergerak kecuali atas dasar ilmu Allah SWT yang sudah tercatat dalam suatu kitab, di mana Dia tak akan keliru atau lupa. Sedangkan manusia yang tak berpengetahuan tentang alam-alam atas, maka mereka justru terputus dari ketaatan kepada kehendak Allah SWT karena dengan apa mereka memahami kehendak Allah SWT atas diri mereka? Kalaupun mereka membangun suatu ‘ketaatan’, maka itu adalah atas dasar persangkaan yang dibangun di bawah kendali hawa nafsu dan syahwat.

Tujuh tingkat nafsu menurut ahli tasawuf

1. Nafsul Amarah
2. Nafsul Lawwamah
3. Nafsul Mulhammah
4. Nafsul Muthmainnah
5. Nafsul Radhiah
6. Nafsul Mardhiyah
7. Nafsul Kamilah

KULTIVASI JIWA
Jiwa yang telah dimurnikan akan menjadi sebuah jiwa yang abadi dan tidak mati.

Janganlah engkau sekali-kali mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki. (Ali ‘Imran [3]: 169)

Jati diri Ruh Indrawi yang berupa Inti Kehidupan (Dzat Hidup) inilah yang dikultivasikan dalam metode-metode kultivasi oleh agama bumi. Manusia yang telah mencapai kesempurnaan jiwa inilah yang disebut dengan avatar dan dewa. Jiwa mereka bersemayam di alam semesta pada level alam suci.

Di dalam dongeng-dongeng dari negeri tirai bambu sering diceritakan, bahwa hewan dan siluman sekalipun bila melatih metode kultivasi akan dapat mencapai kesempurnaan jiwa mereka menjadi berjiwa manusia yang hidup abadi.

Jati diri Ruh Indrawi inilah yang nantinya akan menempati surga-surga Allah di akherat nanti.

RUH QUDUS

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan Aku tiupkan di dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah mereka kepada-Nya dengan bersujud.(Al-Hijr [15]: 29)
Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya dari Ruh-Nya, dan Dia menjadikan kalian (memiliki) pendengaran, bashiirah, dan fu’aad, tapi sedikit di antara kalian yang bersyukur. (As-Sajdah [32]: 9)

Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh. Katakanlah: Ar-Ruh itu berasal dari Amr Rabbku, dan tidaklah engkau diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit. (Al-Israa’ [17]: 85)

Ruh Qudus inilah yang hakikat sifatnya berasal dari alam Ilahiah dan mempunya sifat-sifat keilahian.

Dalam kitab ‘Sirr al-Asrar’ yang berisi kumpulan ajaran Syaikh Abdul Qadir al-Jilani didapati keterangan bahwa pada awalnya manusia dicipta oleh Allah SWT di alam lâhût (alam dimensi ketuhanan). Manusia awal itu adalah manusia yang masih berwujud ruh (jiwa) yang sangat murni, yang disebut rûh al-quds.

Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Allah SWT dan didalamnya terkandung disain serta program-program (rencana-rencana) Allah, juga sifat-sifat Allah, yang sifatnya sangat misterius (sirri). Maka Ruh al-Quds disebut juga Sirr (rahasia).

Allah SWT adalah cahaya (QS an-Nûr 24). Ruh al-Quds yang dicipta langsung oleh Sang Cahaya pun mengandung cahaya yang sangat murni, yang memiliki tingkat radiasi sangat tinggi.

Dalam kitab itu juga dikatakan bahwa alam memiliki lapis-lapis dimensional yang berbeda:

1. Alam Lâhût, alam dimensi ketuhanan.
2. Alam Jabarût, alam ilmu, ketentuan, rencana dan takdir.
3. Alam Malakût, alam para malaikat, alam ruh, alam enerji.
4. Alam Mulki, alam fisik, alam nyata.

Ketika Rûh al-Quds akan diturunkan dari alam lâhût ke alam jabarût ia dibalut lebih dulu dengan lapisan Ruh as-Shulthâny. Sebab kalau tidak, radiasi cahaya Ruh al-Quds yang sangat murni dan teramat kuat itu akan membakar semua yang ada di alam jabarut. Ruh as-Sulthany adalah mantel (hijâb) bagi Ruh al-Quds. Ruh as-Shulthany disebut juga dengan Fuâd.

Lalu Ruh al-Quds (Sirr) yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fu’ad) diturunkan ke alam level-3, yaitu alam malakût. Namun alam malakut lebih materialized daripada alam-alam sebelumnya, dan apa yang ada di dalamnya akan mudah terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds meskipun sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany. Oleh sebab itu sebelum diturunkan ke alam malakut, Ruh al-Quds yang sudah dengan Ruh as-Sulthany, dibalut lagi dengan Rûh ar-Rûhâny. Ruh lapis ketiga ini disebut juga Qalbu.

Selanjutnya Ruh al-Quds (Sirr), yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fuad) dan Ruh ar-Ruhaniyah (Qalbu), diturunkan lagi ke alam level-4 yaitu alam mulki. Inilah alam kosmik yang sekarang dapat kita lihat secara visual dengan mata kepala kita. Alam kosmik wujudnya sangat lahiriah dan dapat dikenali secara empirik (terukur). Namun radiasi cahaya Ruh al-Quds, meski sudah dibalut dengan dua lapis ruh lainnya, masih terlalu tinggi bagi alam ini. Apa yang ada di alam mulki dapat terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds. Untuk itu, sebelum diturunkan ke alam mulki, Ruh al-Quds dibalut lagi dengan lapis ke-3 yaitu Rûh al-Jismâny yang untuk mudahnya sering disebut dengan Rûh saja. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel berikut ini.

TABEL TINGKATAN RUH

Alam Rûh (Nafs)
Lâhût Rûh al-Quds Sirr
Jabarût Rûh as-Sulthany Fu’ad
Malakût Rûh ar-Rûhâny Qalbu
Mulki Rûh al-Jismâny Rûh

KULTIVASI RUH

Berbeda dengan perjalanan Nafsu/Jiwa, Ruh sebagai bagian dari pancaran sifat-sifat Tuhan akan berusaha untuk kembali pada asal dirinya yaitu Tuhan.

انا لله وانا اليه راجعون
“Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.”
(Surah Al-Baqarah, ayat 156)

Lalu bagaimana perjalanan Ruh bisa dilakukan…?
Telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal Dia dgn Dia. Maksudnya jika Tuhan tidak berkehendak kita mengenal-NYA maka kita pun tidak akan bisa mengenal-NYA. Dan, kita mengenal-NYA pun maka hanya melalui Dia (walaupun kita tidak mau tetapi semua telah kehendak-NYA).

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya………….”. (QS. Al-Maaidah, ayat 15)

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).” ( QS. An Nisaa 4:174 )

Dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan…(Perjalanan Spiritual).( QS. Al Hadiid 57:28 )

Satu-satunya cara untuk bisa memperjalankan Ruhani kita di dalam evolusi spiritual hanyalah Cahaya Petunjuk yang datang dari Tuhan.

Pokok dari ajaran agama adalah mengajarkan kepada ummatnya tentang bagaimana berhubungan dengan Tuhan, cara mengenal-Nya dengan sebenar-benar kenal yang di istilahkan dengan makrifat, kemudian baru menyembah-Nya dengan benar pula. Apakah agama Islam, Kristen, Hindu dan lain-lain, semuanya mengajarkan ajaran pokok ini yaitu bagaimana seseorang bisa sampai kehadirat-Nya. Karena itu pula Allah SWT menurunkan para nabi/Rasul untuk menyampaikan metodologi cara berhubungan dengan-Nya, tidak cukup satu Nabi, Allah SWT menurunkan ribuan Nabi untuk meluruskan kembali jalan yang kadangkala terjadi penyimpangan seiring berjalannya waktu.

Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ Nur Muhammad adalah pancaran Nur Allah yang diberikan kepada Para Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dititipkan dalam dada para Nabi dan Rasul sebagai conductor yang menyalurkan energi Ketuhanan Yang Maha Dasyat dan Maha Hebat. Dengan penyaluran yang sempurna itu pula yang membuat nabi Musa bisa membelah laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati dan Para nabi menunjukkan mukjizatnya serta para wali menunjukkan kekeramatannya. Karena Nur Muhammad itu pula yang menyebabkan wajah Nabi Muhammad SAW tidak bisa diserupai oleh syetan.

Nurun ‘Ala Nuurin adalah ikatan spiritual yang sambung menyambung, rantai berantai sampai dengan rohani Rasulullah, karena pancaran yang terus menerus dan yang selalu disalurkan dari Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikanNya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Hanya dengan energi Nuurun ‘Ala nuurin inilah Ruhani kita dapat memulai proses kultivasinya. Dengan getaran energi suci inilah diri kita juga akan digetarkan sehingga mencapai ambang energi kuantum. Yang dapat meningkatkan kualitas dan derajat Ruh kita hingga mencapai derajat Ruhul Qudus.

Itulah kenapa dikatakan bahwa manusia yang menempuh jalan ini seakan-akan tidak butuh surga, Karena memang yang menjadi tujuan utama perjalanan spiritual mereka memang bukan surga. Akan tetapi kepada Dzat yang menciptakan surga yaitu Allah SWT.

Inilah Evolusi Spiritual di dalam Metode Kultivasi yang di ajarkan dari jalur Nabi Muhammad SAW. Yaitu perjalanan kembali kepada Tuhannya.

KULTIVASI NAFSU DAN RUH

Dengan menggunakan energi Nuurun ‘ala nuurin ini siswa Majelis NAQS akan dapat mengkultivasikan Tubuh Jasmani, Jiwa, dan Ruhaninya.

Metode Reiki Energi Kultivasi N-AQS adalah metode yang holistik, sehingga dapat mengkultivasikan keseluruhan struktur manusiawi yang ada di dalam diri kita. Inilah yang membedakan metode NAQS dengan Metode Kultivasi yang lain.

Metode kultivasi NAQS selalu menjadikan Tuhan sebagai titik sentral dan fokus dari fikiran, perbuatan, dan ucapan. Sedangkan metode kultivasi yang lain selalu menekankan alam semesta sebagai sentral dan topik pembicaraan. Metode NAQS membicarakan Tuhan sebagai sebuah identitas yang personal tanpa perlu mengait-ngaitkannya dengan alam semesta, sedang metode yang lain selalu mencari jawab tentang Tuhan dari alam semesta. Alam semesta bagi kita adalah tempat kita berkarya sebagai wujud bakti kita kepada Tuhan dalam konsep Pengabdian kepada Tuhan (Hamba Tuhan). Dan sebagai wujud ekspresi dan aktualisasi diri sebagai Khalifatullah Fil Ardh.

Kesimpulannya :

Ada dua potensi ruhaniah dalam diri kita, yaitu :
1. Ruh Insaniah/Nafsu/dzat hidup.
Potensi Ruh ini dapat diolah dg meditasi kultivasi oleh aliran manapun. Pencapaian kultivasi ini ada batasnya. Yaitu ketika telah mencapai Kesempurnaan jiwanya (NAFS).

2. Ruh Qudus / Ruh Ruhaniah dari Tuhan.
Potensi Ruh Qudus ini baru dapat di olah bila telah diberi Nur dari Tuhan, Nur inilah yg di bawa oleh para Nabi & Rasul. Setelah Nur ini ditanam, barulah metode kultivasi yg dilakukan bisa memproses potensi ini. Ketika bibit Nur ini telah bertunas dan hidup. Dia akan hidup abadi, karena hakikatnya memang datang dari Dia Yang Maha Hidup dan Maha Abadi.

Jadi Potensi Ruh Qudus ini tidak akan berkembang bila belum di pasangkan dengan Nur Ilahiah ini. Dan Proses Kultivasi Ruh ini tiada batasnya, berlangsung terus menerus hingga akhir hayat kita. Karena yang dituju adalah Dzat yang tidak terbatas, sedangkan hakikat diri kita adalah terbatas. Itulah kenapa dikisahkan bahwa nabi Muhammad yang sudah dijamin masuk Surga oleh Allah SWT, masih suka beristighfar setiap harinya.

Mengingat ini adalah sebuah perjalanan panjang, maka perlu dijaga keseimbangan dalam hidupnya. Janganlah meneggelamkan diri dalam kesibukan spiritual hingga melupakan urusan duniawinya. Karena hakikatnya Tak ada orang yg mampu bertahan di satu sisi utk waktu yg lama. Ketika dia telah mencapai titik jenuhnya, dia akan berayun ke arah kebalikannya. Bagaikan gerak bandul jam, begitulah dia adanya. Bergerak antara dua kutub ukhrawi dan duniawi. Langit dan bumi.

Oleh karena itu ketika kejenuhan datang menerpamu, dan disiplinmu menjadi kendor.
Itu tdk mengapa sahabat..
Ikuti aja arus..
System NAQS bila sudah jadi, dan manunggal dg dirimu. Akan bersifat auto generated. Dia akan tetap hadir menjagamu, di saat apapun. Dan jika tiba saatnya, kau akan dibangkitkan dari tidur hibernasimu. Fenomena ini juga terjadi pada mereka yg hidupnya berkutat pada kehidupan dunia. Dia nanti akan sampai pada titik jenuh, dan rindu dg Tuhannya.

Metode yang bisa mengkultivasikan Ruh secara otomatis juga bisa mengkultivasikan Jiwa, sedangkan metode yang hanya bisa mengkultivasikan jiwa belum tentu mampu mengkultivasikan Ruhnya.

Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL 2

Setiap agama mewajibkan umatnya untuk selalu menjalankan semua aturan main yang jelas, baku , dan bahkan cukup kaku yang tersusun pasti dalam apa yang disebut dengan “Kitab Suci” atau ayat-ayat qauliyah dari Tuhan. Pengakuan keimanan terhadap suatu agama menuntut sang pemilik iman untuk selalu menjadikan aturan main itu sebagai praktik hidupnya menuju Kehadirat-Nya.

Namun agama juga memberikan ruang yang lebih longgar ketika ia mengharap dari setiap umatnya untuk terus menggali dan mengeksplorasi alam semesta (makrokosmos) dan diri (mikrokosmos) yang merupakan ayat-ayat kauniyah dari Tuhan. Yang kedua ini tentunya bersifat lebih universal, karena semesta ini bukanlah monopoli satu keyakinan agama.

Para ilmuwan, terutama para fisikawan, percaya bahwa alam memiliki satuan fundamentalnya sebagai building block bagi struktur keseluruhan alam semesta. Mereka selalu menyebut satuan fundamental alam ini sebagai atom yang diyakini sebagai satuan terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Dengan demikian, mereka menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom. Mereka sama sekali tak memberikan ruang bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya, karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Namun penelitian-penelitian di bidang fisika quantum telah menggugat pandangan materialistik tersebut. Dikatakan bahwa dalam setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong nonmateri yang terbentang antara inti atom dan orbitnya.

Jadi, ketika kita berbicara tentang keilmiahan metode N-AQS, maka itu berarti kita sedang berbicara dengan sudut pandang yang menyatakan bahwa ternyata semesta tidak hanya berdimensi tunggal, namun di balik dunia materi ini terbentang dunia nonmateri yang lebih luas. Dan, N-AQS akan lebih banyak bermain di ranah tersebut.

Kembali kepada pembahasan ayat-ayat Tuhan yang qauliyah dan yang kauniyah. Dengan pemetaan yang jelas terhadap kapling keduanya, maka dapat saya katakan bahwa secara subtansi (begitu pun dengan detail praktiknya) metode N-AQS tidak dapat dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan agama. Sebagai metode pengembangan diri berbasis semesta, N-AQS tidak menyalahi aturan main agama mana pun. N-AQS juga bukan agama dan tidak terkait secara eksklusif dengan agama tertentu. Meskipun jika kita mau mencari basis teologisnya, maka kita dapat menemukan akarnya pada setiap agama, yang mana telah memberikan kita kesempatan untuk terus menggali dan mengungkap lebih jauh rahasia semesta dan diri kita sendiri dan mengembangkannya ke arah yang lebih positif agar kita dapat mengenal (makrifat) Tuhan dengan lebih baik. Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhanya.

Jelas sekali bahwa pengenalan diri secara sempurna dapat menjadi sarana untuk mengenal-Nya. Ini tentu terkait dengan hakikat manusia sempurna yang akan saya coba paparkan secara detail dari sudut pandang teologis mulai dari pembahasan struktur manusia, Insan Ilahi, dan Iblis sebagai musuh nyata. Selanjutnya, konsep-konsep yang saya sebut teologis tersebut akan saya bandingkan dengan konsep N-AQS sebagai wujud dari penggalian dan pengembangan diri dan ayat semesta.

Komposisi dan Struktur Manusia

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut citra-Nya” (H.R. Bukhari dan Ahmad)

Struktur manusia adalah struktur berbagai alam dan bagian-bagiannya. Tentu saja hal ini tidak dalam bentuk penampakannya, tapi lebih pada unsur-unsur penyusunnya, interrelasinya, dan mekanisme hukum yang berlaku di dalamnya di mana alam yang dimaksud tidak hanya meliputi alam fisik indrawi tapi juga alam-alam atas (dimensi halus).

Dalam garis besarnya, struktur manusia terdiri dari tiga aspek: Ruh, Jiwa/Nafsu, dan Jasmani.

Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan jiwanya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa beraktivitas. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin (tanah liat kering) dan shalshal (lumpur hitam) di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. (Q.S. Al-Hijr [15]: 28) Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani mereka terbentuk dalam rahim ibu melalui tahapan-tahapan nuthfah (sperma), ‘alaqah (segumpal darah) dan mudhghah (segumpal daging). (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 12-14) Meski begitu secara hakiki jasmani anak-cucu Adam tetap berasal dari empat unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.

Jika diperhatikan lebih jauh, mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, akan ditemukan persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan. Dengan begitu kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.
Kemudian manusia juga memiliki Ruh yang merupakan jauhar atau subtansi, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat mana pun dan juga tidak bertempat pada apa pun. Ruh adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah kematian tubuh di mana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan ruh tidak akan hilang dan tetap eksis.

Jadi, hakikat (jauhar) seorang manusia adalah ruhnya. Sesuatu itu disebut jauhar bila ia merupakan substansi dari bentuk-bentuk material. Tapi meski begitu, jauhar bukanlah bagian dari alam material, artinya jauhar itu tidak terdiri dari unsur-unsur materi.

Ruh sebagai jauhar/subtansi dan jasad sebagai jism/materi. Ruh yang memiliki kehendak dan pengetahuan, sedangkan jasad bisa menjadi alat bagi ruh untuk mewujudkan suatu kehendak di alam ciptaan/materi.

Tapi ketika ruh dilekatkan pada jasad, maka muncullah kekuatan-kekuatan diri seperti penglihatan, pendengaran, gerakan, pikiran dan sebagainya sejalan dengan proses pertumbuhan manusia. Kekuatan-kekuatan yang muncul kemudian inilah yang disebut dengan Jiwa, yang sering didefinisikan sebagai sifat dan aksiden yang mewujud seiring dengan bertemunya jauhar dan jism.

Pertemuan antara ruh dengan jasad ini sebenarnya adalah proses yang membutuhkan waktu di mana ruh yang melakukan eksplorasi terhadap jasad sehingga dari struktur alamiah jasad atau materi tersebut, ruh akan berusaha mencari suatu bakat ketika ia sanggup menguasainya. Proses alamiah yang bersifat material inilah yang menjadikan jiwa mamiliki dua sisi; positif dan negatif; yin dan yang. Satu sisi menuju alam ruh (alam tinggi, alamu’ a’la) dan sisi lain menuju alam bawah (rendah, alam materi) di mana dia diperintah agar memelihara dua sisi yang saling berseberangan ini. Dari sisi yang menuju alam tinggi ia mirip dengan malaikat bahkan bisa lebih tinggi dalam berbagai keutamaan dan kedekatan dengan Tuhannya. Sedangkan sisi yang menuju alam bawah membuatnya mampu berinteraksi dengan alam bawah yang terformulasi dari unsur materi (alam fisik). Penguasaan jiwa terhadap alam materi tersebut adalah melalui tubuh fisik (jism).

“Dan demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan (negatif) dan ketakqwaan (positif)-nya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams [91]:7-10)

INSAN KAMIL, ABDULLAH, & KHALIFATULLAH

Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan pada level Dzat adalah Absolut (mutlak) dan tidak mungkin kita pahami. Karena Dia beyond dimensi ruang dan waktu serta alam semesta (inilah yang dalam hadis qudsi Tuhan berfirman: “Aku adalah Harta Karun terpendam, dan aku cinta untuk dikenal, maka Kuciptakan Alam semesta”). Tuhan sebagai Dzat sangatlah tinggi. Dia tidak bisa dilukiskan bagaimana dan seperti apa. Dia hanya bisa diketahui secara negatif, yakni Dia tidak sama dengan apa pun selain-Nya. Dia berbeda dengan apa pun yang kita bayangkan. Hal ini karena, menurut para sufi, pada level tersebut, Tuhan belum lagi menjadi entitas (ghair muta’ayyan). Pada level ini, Tuhan bahkan belum bersifat personal dan belum punya kaitan apa pun dengan alam (bandingkan dengan konsep Impersonal God dalam Budha!).

Namun, pada level sifat atau tahap ta’ayun (proses menjadi entitas), Tuhan tidak lagi sebagai Dzat yang tidak dapat didekati, tetapi sudah bersifat personal dan bisa dikenal secara lebih positif. Konsep Tuhan pada tahapan inilah yang pada umumnya kita kenal, yaitu Tuhan yang memiliki identitas atau sifat-sifat tertentu.

Menurut para sufi, sifat-sifat Tuhan ini punya kaitan yang tak terpisahkan dengan alam, terutama manusia. Karena menurut mereka, sifat-sifat itu tidak lain daripada prototipe atau arketipe dari apa pun yang ada di alam semesta. Dia laksana bentuk terhadap materi atau jiwa, yaitu inti dari keseluruhan manusia. Apa pun yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan tersebut. Inilah makanya alam semesta disebut sebagai cermin, yang dengannya Tuhan melihat gambar diri-Nya.

Setiap tingkat eksistensi makhluk mencerminkan sifat-sifat tertentu Tuhan. Semakin tinggi tingkat suatu wujud semakin banyak sifat-sifat Tuhan yang dipantulkannya. Dan, semua ini berpuncak pada diri manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (ahsan at-taqwim) atau diciptakan dalam bentuk atau citra-Nya (ala shuratihi).

Seperti telah saya singgung sebelumnya, manusia disebut “mikrokosmos” karena pada diri manusia terkandung seluruh unsur kosmik, dari mulai tingkat mineral sampai tingkat manusia. Bahkan manusia juga mempunyai unsur spiritual, nonmateri. Apabila masing-masing tingkat wujud tersebut memantulkan sifat-sifat tertentu dari Tuhan, alam semesta secara keseluruhan merupakan cermin Tuhan, maka manusia yang memiliki unsur alam semesta berpotensi untuk memantulkan seluruh sifat-sifat ilahi.

Jadi, secara potensial manusia dapat mencerminkan sifat-sifat Tuhan, dan pencerminan itu bisa menjadi aktual saat manusia berhasil mengoptimalkan seluruh potensi kemanusiaannya. Manusia akan mampu memantulkan semua sifat-sifat Tuhan ketika ia telah mencapai tingkat kesempurnaannya, yakni ketika ia mencapai derajat “paripurna” atau insan kamil. Karena kemampuannya memantulkan sifat-sifat keilahian, ia disebut dengan KHALIFATULLAH. Dan ini sama sekali tidak berarti bahwa kita menaikkan derajat manusia menjadi Tuhan. Karena Tuhan tetap Tuhan dan Manusia tetap hamba-Nya yang harus menjalankan tugasnya sebagai wakil Tuhan di dunia.

Bagaimanakah proses kesempurnaan itu terjadi dalam diri manusia? Berikut saya akan coba memetakan prosesnya sesuai ajaran tasawuf yang saya tahu.

Dalam dunia tasawuf, dikenal konsep Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad (dalam setiap agama mungkin mempunyai istilah yang berbeda). Ia adalah ciptaan awal (yang pertama kali diciptakan oleh Allah). Kemudian dari percikan Nur inilah ruh (jauhar/subtansi) manusia berasal.

Ruh insani yang merupakan subtansi dari diri manusia ini berbeda dengan Ruhul Qudus. Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia paripurna (insan kamil) terdapat percikan  Nurun ‘Ala Nuurin ‘Cahaya yang berlapis-lapis,’ inilah yang disebut dengan Ruhul Qudus. Ruhul Qudus juga bukan malaikat Jibril as, seperti pendapat beberapa ahli tafsir selama ini. Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruhul Qudus. Sementara Ruhul Qudus inilah yang dalam Al-Qur’an disifati sebagai Ruh min Amr Rabbi, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab, perintah). Dalam agama Kristen disebut Roh Kudus.

Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruhul Qudus, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk mana pun juga. “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu (malaikat) tersungkur dengan sujud kepadanya.” (Q.S. Shad 38:72)

Para Nabi, sebagai orang pilihan, melewati proses pemurnian ini dengan sangat mudah karena bimbingan dan kehendak-Nya. Karena mereka memiliki misi khusus (risalah) dari Tuhan.

Sedang bagi manusia biasa yang tercipta melalui proses alamiah atas kehendak-Nya, juga diberikan perangkat untuk memperoleh anugerah menjadi KHALIFATULLAH. Ruhul Qudus ini baru akan hadir bila ruh insan dan jiwa telah sempurna berproses. Dalam Islam, kesempurnaan proses ini ditandai dengan terwujudnya Jiwa Hening (nafs al-muthmainnah) di mana ia telah ridha akan semua kehendak Allah dan Allah pun ridha denganya.

“Hai jiwa yang tenang/hening . Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba- Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]:27-30)

Saat manusia mencapai keridhaan inilah semua hijab antara dia dan Tuhan tersibak yang dengan mana ia bisa mengakses Kuasa Tuhan secara sempurna tahap demi tahap hingga pada tahapan di mana Tuhan ridha kepada manusia. Dan Tuhanpun menjadi kasih dan sayang kepadanya.

Fadzkuruni adzkurkum..” (Ingatlah aku, Aku akan mengingatmu, Qs. Al-Baqarah [2]:152). Itulah Dzikir Tuhan kepada hamba.

Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan melakukan ibadah-ibadah nawafil, hingga Aku mencintainya. Kalau Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia bermohon kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku akan melindungi dirinya” (HR. Bukhari).

Jadi, kurang tepat jika kita mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta secara mutlak. Karena manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah berproses  menyempurnakan jiwanya. Jika belum diproses maka kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak (lihat Q.S. Al-Furqon [25]: 44).

Pencapaian spiritual manusia hingga mencapai derajat Kesucian Ruhani (Ruhul Qudus) yang secara awam dikatakan sebagai ‘manunggaling kawulo gusti’, atau ‘penyatuan hamba dan Tuhannya’ yang sering dilabelkan pada kaum sufi di seluruh dunia. Hakikat sebenarnya tidaklah demikian, Padahal yang terjadi sebenarnya, adalah (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan pada derajat tertinggi dari kesucian makhluk sehingga sifat-sifat Tuhan tercermin dengan sempurna. Manusia dipenuhi dengan sifat-sifat yang terpuji (al-haqiqah al-Muhammad). Manusia yang sudah mencapai tingkatan ‘abdihi, hamba-Nya (ABDULLAH). Atau dalam istilah Quraish Shihab sebagai INSAN KAMIL.

Manunggaling kawulo gusti dalam artian penyatuan dzat hamba dengan Dzat Tuhannya, adalah sesuatu yang mustahil. Karena sebagai Dzat, Allah dan makhluk mustahil menyatu. Manusia dengan derajat kesempurnaannya ia tetap merupakan makhluk. Yang terjadi adalah manifestasi (tajalli) sifat-sifat Tuhan pada diri manusia.

Abdul Karim al-Jili dalam kitabnya al-Insan al-Kamil fi Ma’rifati al-Awakhir wa al-Awa’il mengatakan, apabila sifat Allah ber-tajalli pada diri hamba, maka hamba tersebut berenang dalam orbit (falak) sifat tersebut. Kalau sifat ilmu tuhan yang bertajalli pada diri hamba, maka ia akan dapat mengetahui objek-objek ilmunya itu secara komprehensif dari awal sampai akhir. Ia mengetahui sesuatu dari sudut kualitasnya, bagaimana keberadaanya, bagaimana akan jadinya. Mengetahui apa yang belum ada dan apa yang tidak akan ada sejauh belum ada… Jika yang bermanifestasi dalah sifat Tuhan “Al-Razaq”, Maha Pemberi Rezeki, maka pada diri manusia tercermin kuasa yang dapat “mempengaruhi” rezeki di dunia ini. Begitu seterusnya.

Jadi, KHALIFATULLAH dipercaya sebagai wakil Allah di alam semesta (khalifatullah fi al-ardh), selain sebagai segel alam semesta juga sebagai pintu bagi alam semesta untuk melihat Sang Pencipta, mengenal-Nya; kehadiran Keindahan dan Kekuasaan Ilahi yang membayang dalam diri Insan Ilahi merupakan jembatan rahmat (penolong) bagi alam semesta untuk berjalan mengenal-Nya, Insan Ilahi adalah tangan Kepemurahan- Nya (shurratur-Rahmaan) yang membawa seluruh alam semesta menjadi peningkat derajatnya. Inilah amanah yang diembankan kepada insan Ilahi yang dipercaya sebagai ruh dan cahaya kehidupan bagi seluruh alam semesta.

Iblis Sebagai Musuh Nyata

Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan- Nya (insan kamil) terdapat apa yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam Q.S. Shad [38]:72 tadi. Malaikat bukan sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapa pun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruhul Qudus) dalam jiwa seseorang.

Sementara Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruhul Qudus disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekadar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud.

Siapakah Iblis? Ia berasal dari bangsa jin yang telah mencapai tingkat kultivasi tinggi dan tinggal di surga. Ia bahkan dapat berkomunikasi langsung Allah. Namun karena kesombongan dan iri hatinya (Q.S. Shad [38]:76), ia jatuh pada level yang dikutuk Tuhan hingga hari pembalasan.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (Q.S. Jin [72]: 50)

Lalu Allah berkata kepadanya,'” Keluarlah dari surga! kamu itu makhluk yang terkutuk. Kutukan-Ku atasmu berlaku sampai hari pembalasan.” (Q.S. Shad [38]:77-78)

Lalu Iblis mengajukan permintaan kepada Allah agar dapat menggoda manusia sampai akhir zaman. Iblis pun diberi kesempatan untuk hidup sampai batas waktu yang telah ditentukan Allah. (lihat Q.S. Shad [38]: 79-81)

Iblis berkata: Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba- Mu yang mukhlashin (yang termurnikan) .” (Q.S. Shaad [38]: 82-83)

Dalam ayat lain diceritakan bahwa Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menghiasi (perbuatan) mereka di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba- Mu yang Mukhlash (termurnikan) di antara mereka. Allah Berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus, ‘kewajiban’ Aku-lah (menjaganya) . Sesungguhnya hamba-hamba- Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-Hijr [15]: 39-42)

Dari kisah pembangkangan Iblis di atas, kita tahu bahwa ia dan anak-cucunya telah diizinkan Tuhan untuk melakukan apa pun untuk dapat menyesatkan anak-cucu Adam. Dalam salah satu ayat di atas bahkan Iblis mengatakan bahwa ia akan menghiasi amal perbuatan manusia. Banyak orang yang secara lahiriahnya rajin melakukan ibadah dan amal shaleh, namun keterikatan hatinya telah memberikan peluang bagi Iblis dan anak-cucunya untuk masuk dalam relung hati dan jiwanya dan dalam jangka panjang kesadarannya akan dikuasai dan dikontrol oleh Iblis tersebut. Inilah yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut waswas.

Seperti pengakuan Iblis sendiri, bahwa ia tidak akan mampu mengganggu hamba-hamba Allah yang mukhlashin. Kata mukhlashin bentuk jamak dari mukhlash yang merupakan bentuk pasif (maf’ul) dari khalasha. Jika kita buka kembali kamus bahasa Arab, kita akan temukan arti khalasha adalah murni. Mukhlashin berarti orang-orang yang telah termurnikan. Kata mukhlashin juga dapat diartikan orang-orang terpilih.

Jadi, mukhlashin adalah orang-orang yang telah mencapai pemurnian di mana di dalam diri mereka terdapat percikan Nur-Nya. Karena itu, Ikhlas (dengan I besar) adalah kondisi (maqam) diri yang murni dari semua hal yang negatif, baik emosi negatif, dosa (karma negatif) maupun pengaruh Iblis (mungkin ini arti firman Allah di atas: “…kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.”). Konsep Ikhlas seperti ini berbeda dengan ikhlas (dengan i kecil) yaitu usaha seorang hamba secara sungguh-sungguh untuk menghilangkan apa pun yang mengikat hatinya, kecuali ridha-Nya. Ketika seorang hamba selalu berusaha untuk ikhlas dan Allah meridha-Nya, maka Allah sendiri yang akan memurnikanya (mukhlashin) dengan penganugrahan percikan Nur-Nya.

Intinya, manusia harus terus waspada agar tidak terkena godaan Iblis. Karena Iblis adalah musuh yang nyata bagi kita. Ia sudah berjanji untuk selalu berusaha sekuat tenaga menyesatkan anak-cucu Adam, agar mereka tidak pernah dapat mencapai “kemurniaan” (kesempurnaan) dan menjadi Manusia Ilahi. Karena di saat manusia mencapai kesempurnaan ini, Iblis tidak lagi mempunyai daya kuasa untuk menggodanya.

Manusia tidak diperbolehkan mempercayai Iblis dan keturunannya, apalagi menjadikan mereka sebagai sekutu. “Patutkah kamu mengambil dia (Iblis) dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 50)

Pintu masuk yang paling mudah diterobos iblis ialah keterikatan hati dan jiwa-jiwa negatif yang dominan. Karena itu, ikhlas (tidak ada keterikatan hati) adalah sangat penting dan merupakan syarat utama semua amal ibadah diterima oleh Allah.

Sistem Evolusi Spiritual Ilmiah

Fisika Newtonian (para pengikut Newton ) dan kaum positivis lainya menyatakan bahwa bagian terkecil yang menyusun alam alam semesta ini adalah atom, dan atom lebih dipandang sebagai partikel yang solid ketimbang gelombang ataupun superstring. Dengan demikian, orang menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Bagi mereka, tak ada tempat bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Akan tetapi pandangan alam semesta seperti itu kini telah ditinggalkan oleh ahli-ahli fisika modern. Pandangan bahwa atom adalah partikel telah ditentang dan teori baru bermunculan, seperti “teori gelombang” atau superstring oleh Stephen Hawking. Kepercayaan yang menyatakan atom sebagai elemen terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi sudah lama ditinggalkan, dan fisikawan baru membagi dunia atom ke dalam lima level, yaitu molekul, atom, inti (nucleus), hadron, dan quark. Atom sendiri terdiri dari nucleus (inti) dan orbit. Dalam inti terdapat dua jenis hadron, yaitu neutron dan proton yang keduanya itu terdiri dari quark-quark. Sedangkan pada orbit adalah elektron.

Yang terpenting dari teori ini adalah adanya ruang lebar yang merentang antara inti atom (nucleus) dan orbitnya (elektron). Dikatakan bahwa dalam potongan kuku kita terdapat jutaan atom, dan setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong yang terbentang antara inti atom dan orbitnya. Menurut Brian Haines dalam bukunya God’s Wishper and Creation’s Thunder, jika kita dapat memperbesar inti atom hingga terlihat sebesar kelereng, maka letak elektronya di orbit adalah sejauh 300 meter lebih. Itu artinya ada ruang kosong nonmateri yang merentang luas antara inti dan orbit atom. Jadi, bagian terbesar atom adalah nonmateri, ketimbang materi seperti klaim Newtonian.

Yang lebih menarik, seperti disebutkan Haines, bahwa seandainya kita bisa memadatkan seluruh atom yang ada di tubuh kita, dengan (misalnya) menarik elektron ke dalam inti atom, kita akan tereduksi menjadi hanya seukuran ujung pensil yang sangat lancip. Jika bumi kita dipadatkan seperti di atas, ia akan tereduksi menjadi seukuran kelereng.

Realitas quantum ini bagi saya merupakan kritik yang sangat signifikan bagi pandangan positivisme yang menganggap alam semesta ini tak lebih hanya materi, sehingga mereka kehilangan pijakannya. Mereka keliru dengan menganggap dunia yang luas ini hanya berdimensi tunggal dan itu materi. Kenyataannya adalah bahwa bagian terbesar dari semesta ini adalah nonmateri.

Nah, jika konsep ilmiah ala quantum ini diterima, maka kita akan dapat menerima keilmiahan metode N-AQS. Dalam metode N-AQS proses pencapaian kesempurnaan manusia dilalui secara alami dalam dunia quantum (nonmateri). Dengan energi yang sangat tinggi dan halus hingga mencapai triliunan level di bawah quark, evolusi spiritual manusia dapat dilakukan dengan sangat singkat.

Dalam konsep N-AQS, secara garis besar tubuh manusia juga terdiri dari tubuh fisik (jasmani), tubuh ruh (jauhar/subtansi), dan tubuh jiwa. Dengan energi yang spesifik, ketiga tubuh tersebut dimurnikan dari semua yang mengotorinya seperti, pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi negatif. Pemurniaan ini disebut dengan kultivasi atau evolusi spiritual.

Kultivasi ruh dalam tradisi Timur dilakukan dengan melatih kundalini. Dengan energi N-AQS yang sangat spesifik, tidak memerlukan untuk mengolah kundalini. Ketika Energi Nurun ‘Ala Nuurin telah mengkultivasi cakra mahkota, maka tabir atau hijab yang selama ini menghalangi diri kita dengan cahaya atau kuasa ilahi akan terbuka. Dengan terbukanya tabir tersebut, kita akan dapat mengakses kuasa ilahi untuk membantu memurnikan ruh kita (beberapa aliran reiki dengan salah kaprah menyakini bahwa energi atau kuasa ilahi ini dapat diakses hanya dengan membuka cakra mahkota. Karenanya, mereka dengan sangat mudah mengidentikkan energi reiki dengan energi ilahi, padahal hakikatnya tidak demikian). Saat ruh telah disempurnakan, saat itulah terjadi evolusi spiritual, di mana ruh kita mencapai tingkatan ruh suci.

TINGKATAN RUH

Alam Rûh (Nafs)
Lâhût Rûh al-Quds Sirr
Jabarût Rûh as-Sulthany Fu’ad
Malakût Rûh ar-Rûhâny Qalbu
Mulki Rûh al-Jismâny Rûh

Kultivasi berikutnya adalah jiwa. Sama dengan konsep jiwa dalam tradisi tasawuf dan teologi yang telah saya singgung di atas, N-AQS juga menyebut jiwa sebagai padanan karakter atau sifat . Manusia mempunyai jiwa atau sifat yang sangat banyak, ada yang positif dan ada yang negatif. Dengan mengembangkan jiwa positif (akhlaq terpuji) berarti kita sedang menyiapkan diri untuk menerima tajalli atau manifestasi dari sifat-sifat Tuhan. Sebaliknya, dengan kita membiarkan jiwa negatif (akhlaq tercela) berkembang (dengan mengikuti nafsu dan ego), maka sama artinya kita membuka pintu untuk masuknya iblis ke dalam diri kita. Sekali ia masuk dalam diri, ia akan terus berusaha menguasai kesadaran kita dan akan menyesatkan kita.

Dalam agama (terutama agama samawi), pemurnian jiwa dilakukan dengan ketundukan total terhadap ajaran Tuhan yang dibawa oleh utusan-Nya. Dengan ketundukan ini, otomatis jiwa negatif pun mengalami pembatasan atau pengekangan pertumbuhannya, sementara jiwa positif terus berkembang seiring dengan keheningan (muthmainnah) dan keikhlasan (terbebas dari keterikatan) hati. Berbanding terbalik dengan perkembangan jiwa-jiwa positif, dengan ketaatan kepada Tuhan, jiwa-jiwa negatif justru semakin melemah dan mengecil.

Dalam N-AQS, dengan energi bervibrasi tinggi dan suci (Nuurun ‘Ala Nuurin) dan spesifik, kultivasi jiwa-jiwa positif dapat dengan mudah dilakukan. Sementara jiwa negatif akan terus melemah atau mengecil seiring dengan level kemurnian jiwa positif .

Tujuh tingkat Jiwa/nafsu menurut ahli tasawuf

  1. Nafsul Amarah
  2. Nafsul Lawwamah
  3. Nafsul Mulhammah
  4. Nafsul Muthmainnah
  5. Nafsul Radhiah
  6. Nafsul Mardhiyah
  7. Nafsul Kamilah

Di N-AQS, proses pencapaian awal INSAN KAMIL didapat dengan proses inisiasi atau attunement yang dilakukan oleh Master yang mempunyai kemampuan untuk itu. Dengan inisiasi tersebut, praktisi tidak hanya mampu mengakses energi N-AQS—yang kelembutan dan ketinggiannya berada triliunan kali lipat di bawah quark—, tetapi ia juga telah mengalami evolusi spiritual pada tubuh ruh dan tubuh jiwanya. Dengan kemampuan tersebut beserta tubuh-tubuh suci dari ruh maupun jiwa, seorang praktisi diharapkan untuk terus melakukan pemurnian dirinya secara terus-menerus dari pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi-emosi negatif.

Seiring dengan semakin murni diri kita, percikan Nur-Nya pun akan semakin sempurna menyatu dalam diri kita.

Inilah teknologi spiritual yang dapat menjelaskan mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh (fisik maupun nonfisik) dan alam semesta, di mana ditemukan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci dalam satu buku maupun kitab adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba, meneliti dan mengalaminya sendiri. Dengan N-AQS, kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita dan menemukan jati diri kita.

Kesimpulan saya, N-AQS tidak bertentangan dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan ajaran agama mana pun. Sebagai metode ilmiah dengan penekanan pada penggalian hakikat semesta dan diri, N-AQS merupakan sistem spiritual yang universal yang dapat dipelajari dan dipraktikkan oleh siapa pun dengan latar belakang kepercayaan dan agama apa pun. Dengan belajar N-AQS seorang praktisi tidak dituntut untuk menanggalkan agama yang telah ia anut. Dengan pemahaman mendalam dan praktik yang tepat terhadap metode N-AQS, justru akan dapat menambah keimanan dan kualitas kedekatan kita dengan Sang Khaliq.

N-AQS adalah berkah bagi para pencari. Inilah metode revolusioner dalam dunia spiritual yang tidak hanya dapat diverifikasi secara ilmiah, namun juga telah terbukti dapat membantu dalam menyeimbangkan hidup praktisinya. Selamat datang di dunia penuh keajaiban. Semoga Allah senantiasa membimbing dan meridhai jalan kita menuju-Nya. Amin.