Archive for the ‘ALAM BAWAH SADAR’ Category

DOBRAK MENTAL BLOCKS ANDA

Mental blocks, adalah hambatan secara mental / psikologis yang menyelubungi pikiran seseorang. Ia dapat muncul dari kekeliruan pengalaman hidup / pergaulan, sisa traumatik masa lalu, sisa luka batin, sisa pengalaman yang tidak mengenakkan ketika kecil maupun karena “kekeliruan” atau kekurangtepatan cara pandang / anggapan terhadap sesuatu bahkan akibat cara belajar/ pendidikan yang tidak tepat. Kemunculannya (manifestasinya) bisa berbentuk kecanggungan bertindak, kesulitan berbicara (apalagi di depan umum), kesulitan mengaktualisasikan diri (walaupun sebenarnya memiliki berbagai kelebihan, misalnya kecerdasan/ kemampuan lain), kadang juga muncul dalam bentuk sindrom “inferior complex” / sindrom rendah diri.

Ini beberapa akibat jika anda terkena penyakit mental block :

a. Tidak maju maju
Kehidupan yang anda rasakan adalah stagnan, berputar-putar di satu tempat saja. Karir anda tidak ada peningkatan, hasil bisnis yang anda jalani hanya sekedarnya saja. Tidak ada lompatan yang menakjubkan, tidak bisa beranjak dari kehidupan yang sekarang menuju kehidupan yang lebih baik. Padahal dirinya menginginkan kehidupan yang lebih baik. Tetapi “Mental Block” lah yang menghalangi dirinya sendiri untuk dapat mencapai dan menikmati kehidupan yang impikannya.

b. Sering mengalami kegagalan
Selalu gagal terus menerus bukan disebabkan semata-mata hanya karena menderita mental block. Namun, Gagal yang dimaksud adalah saat dia ingin mencapai target sesuatu, tapi dia dihalangi oleh batasan mental yang dia buat sendirinya, dirinya yang membuat tembok penghalang.

Padahal semua batasan itu yang diciptakan adalah fatamorgana dan menyulitkan dirinya sendiri. Akibatnya setiap berusaha untuk melewatinya, selalu dihadapkan kegagalan setiap tindakannya.

c. Terpuruk dalam kehidupan
Ini yang paling berbahaya, Tidak hanya merugikan dirinya sendiri namun orang-orang terdekat anda kena dampaknya. Coba Anda bayangkan, jika anda seorang kepala keluarga,anak dan istri menggantungkan hidupnya kepada Anda, Jika anda seorang pimpinan, banyak pihak yang berharap dan menggantungkan kepada anda. Sedangkan anda frustasi, stress, depresi dan menyimpan dendam yang tak berkesudahan. Akhirnya sangat mempengaruhi produktivitas Anda sebagai pengusaha, sebagai manajer, sebagai kepala keluarga. dll.

Akibatnya anda jadi malas, putus asa, mudah menyerah, tidak berani mengambil tantangan atau resiko, penuh dengan ketakutan yang tidak beralasan dll, dan hasil akhirnya tidak mampu mendapatkan hasil yang diinginkan. Ada juga tidak mampu bayar cicilan kredit motor anda, tidak bisa membayar tagihan yang selalu datang tiap bulan. Lebih bahaya lagi jadi trauma dengan bisnis yang dijalani, menyalahkan orang lain dan lingkungan setempat

Menurut Robert B. Stone, paling tidak terdapat lima hambatan yang selalu membuat kita sulit meraih sukses:

  1. Kegelisahan dan kecemasan.
    Hal ini menyebabkan ketegangan dalam badan. Koordinasi otot dan efisiensi mental dapat dipengaruhi oleh keadaan ini. Kesehatan kita pun jadi ikut terganggu, dan biasanya system pencernaan kita terkena dampaknya paling awal. Gejala lainnya juga berkisar pada sakit kepala dan serangan jantung.
  2. Takut.
    Ini merupakan hambatan yang tersembunyi. Perasaan takut melakukan sesuatu seringkali membuat kita selalu mandek dalam mengerjakan sesuatu.
  3. Benci-diri.
    Begitu banyak orang yang selalu menimpakan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Jika ada sesuatu yang tidak beres, alih-alih mencari tahu apa yang terjadi dan mengoreksi diri sendiri, malah tanpa sadar menghukum diri sendiri.
  4. Pesimisme.
    Merasa tidak bisa sukses dan seringkali memberikan bukti dengan membeberkan kegagalan yang sering dialami.
  5. Kesan diri yang terbatas.
    Kita mempunyai kebiasaan berpikir dalam keterbatasan. Kebiasaan ini seringkali mengganggu kita dalam melakukan sesuatu. Seringkali kita merasa tidak layak dalam mendapatkan sesuatu yang sesungguhnya baik bagi kita.

Dengan gaya yang sedikit berbeda, Harold H. Bloomfiled, menyebutkan lima jenis hambatan yang sering mengganjal kita, disertai kata hati yang terlintas:

1. Saya takut disakiti lagi.

  • “Saya tidak tahu apakah saya bisa menjumpai orang yang benar”
  • “Ketika persahabatan menjadi serius, saya merasa khawatir”
  • “Saya khawatir ia akan menolak presentasi saya”

2. Saat saya bercermin, saya tidak pernah puas.

  • “Saya berharap saya bisa lebih tinggi”
  • “Saya malu kalau audiens melihat jerawat saya ketika saya berbicara”
  • “Saya merasa tidak memiliki penampilan yang menarik”

3. Saya tidak tahan kritikan.

  • “Saya selalu mencoba menyenangkan orang lain”
  • “Saya berharap orang-orang mengerti perasaan saya”
  • “Saya ingin selalu tampil sangat sempurna agar tidak ada yang mengetahui kelemahan saya”

4. Saya selalu merasa tegang dan tergesa-gesa.

  • “Saya tidak bisa istirahat sampai semuanya berjalan mulus”
  • “Saya jadi marah kalau orang tidak menepati janjinya”
  • “Bahkan dalam liburan pun saya tidak pernah bisa santai”

5. Saya harap saya bisa lebih bahagia.

  • “Apapun yang saya lakukan saya tidak pernah puas”
  • “Saya berhasil dalam pekerjaan saya tetapi saya ragu apakah ada perubahan dalam hidup saya”
  • “Saya kira saya lebih bahagia jika………………(sudah menikah, punya anak, mendapat pekerjaan)”

Sadar tidak sadar, kita kerap membangun tembok-tembok, benteng atau “kotak” yang membuat pandangan dan pikiran kita terbatas. Bukannya  menyadari, melainkan kita justru kerap menyalahkan keadaan dan menerima bahwa kita sudah terkungkung dengan paham konvensional, birokrasi, dan rutinitas yang menyebabkan diri kita tidak kreatif. Bila upaya kita mencari jalan keluar dirasa mentok, dengan cepat kita berpikir, “Mungkin saya memang tidak kreatif….”

Terobosan, pembaruan, dan inovasi adalah tuntutan kerja zaman sekarang.  Secepatnya, kita harus segera berpikir bahwa box yang kita rasa mengurung diri kita hanyalah paradigma yang perlu dicabut dari benak kita. Di saat sekarang, setiap orang harus secerdik kancil, tidak pernah boleh berhenti, dan tidak bisa merasa berada di titik kepuasan atau comfort.

Jadi jika kita tidak ingin mengalami keterpurukan yang lebih dalam lagi, menghancurkan mental block negatif yang bersemayam dalam diri kita adalah satu-satunya jalan keluar untuk menghindarinya.

DOBRAK SEGALA BELENGGU DIRI…
LEDAKKAN POTENSI DIRI..
JADILAH BAHAGIA TANPA SYARAT….!!!
JOIN US

Ciptakan Keajaibanmu

CITRA SIAPA YANG KITA WAKILI…??
Ketika orang lain bertemu dengan kita, melihat diri kita. apa yg teringat dalam benak mereka. dan diri kita di asosiasikan sebagai apa..?

Suatu ketika, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya, “Maukah kalian aku beritahu siapa “manusia terbaik”?” Mereka menjawab, “Tentu wahai Rasulullah!” Rasulullah menjawab, “Yaitu orang jika kalian memandangnya, ia mengingatkan kalian kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala”

The Law Of Consciousness Creation
Dalam fisika kuantum terdapat suatu fenomena yg disebut Participating Observer (hasil eksperimen selalu tergantung pada pengamat dan suatu realitas tidak akan terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya).

Dimensi Quantum adalah dimensi yang berisi bahan baku dari Alam Semesta, di sini tersedia Lautan Kemungkinan dari penciptaan, dan Diperlukan suatu mahluk yang memiliki kesadaran (consciousness) untuk menjadikan sesuatu benda menjadi “Real”.

Artinya apapun fokus dari pandangan hidup anda. maka itulah realita yg akan anda hadapi selama anda hidup dunia ini.

Maka
MENGUBAH SUDUT PANDANG ANDA
AKAN MENGUBAH NASIB ANDA.

Hanya satu pesan yg aku camkan ke peserta Bakti Sosial NAQS DNA pada hari Sabtu Minggu, 06 & 07 Oktober 2012 di Surabaya :

Apakah kalian lebih suka menunggu keajaiban, ataukah lebih suka utk Menciptakan Keajaiban. Ingat, bila Manusia diciptakan berdasarkan Citra Allah. Tentulah manusia juga di anugrahi juga Kemampuan utk Menciptakan. Maka CIPTAKANLAH KEAJAIBANMU….

FITHRAH : Sifat-sifat Ketuhanan
Allah SWT berfirman surat Ar-Ruum ayat 30.

“…Fithratallah allatii fatharannaasa ‘alayhaa…”…
Fithrah Allah, yang Dia mencipta manusia berdasarkan fithrah itu. (QS. Ar-Ruum, 30:30)

Bayangkan, Allah mencipta manusia dengan sifat-sifat Allah, karena itulah ketika manusia itu terlahir dalam hadist Nabi dijelaskan:

Maa min mauluudin Illaa yuu ladu ‘alalfithrah
tidak satu pun bayi terlahir kecuali ia di lahirkan berdasarkan FITHRAH

Dan dalam hadist lain yang sangat indah dan sangat populer dikalangan dunia tasawuf: “Takhallaquu biakhlaqillah”~ Berahlaklah kalian dengan ahlak Allah

Bertingkahlah kalian dengan tingkah ke-Allah-an, jadilah kamu ‘seperti’ Allah karena manusia adalah cermin Allah. Karena manusia dihadirkan ke bumi untuk menjadi khalifatullah atau wakil Allah, dan di dalam qalbunya sudah diisikan sifat-sifat Allah, maka hendaknya manusia bertingkah dengan tingkah ke-Allah-an, dengan mewujudkan karakter ke-Allah-an.

Allah telah menciptakan alam semesta ini beserta hukum-hukum alam. Termasuk diantaranya adalah hukum penciptaan, yaitu hukum alam untuk mewujudkan apa yang ada di hati kita, apa yang kita rasakan.

Hukum penciptaan tidak membedakan apa yang kita inginkan atau apa yang tidak kita inginkan. Ketika hati (perasaan) kita fokus pada sesuatu, terlepas apakah sesuatu itu diinginkan atau tidak diinginkan, maka alam akan mewujudkannya.

Jadi, jika kita selalu memikirkan dan berperasaan apa “yang kita suka”, hidup kita akan dipenuhi oleh hal itu, yaitu hal-hal yang kita sukai.

Sebaliknya, jika kita selalu memikirkan dan berperasaan apa “yang tidak kita suka”, maka yang terjadi dalam hidup kita akan dipenuhi oleh hal-hal yang tidak kita sukai.

Apapun yang hadir dalam perasaan kita, itu merupakan suatu doa kita, dan akan menjadi kenyataan bagi kita.

Bila kita lebih banyak berperasaan negatif terhadap banyak hal, terutama hal-hal di sekitar kita, maka hal-hal negatif-lah yang banyak hadir pada kehidupan kita. Sebaliknya bila kita cenderung berperasaan positif (otomatis berasal dari pikiran positif), maka hal-hal positif akan banyak hadir pada kehidupan kita.

Hukum penciptaan selalu bekerja, terlepas dari apakah kita mempercayainya, memahaminya, atau tidak mempercayainya. Juga terlepas apakah kita beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khong Hu Cu, Kepercayaan, dsb, hukum penciptaan selalu bekerja dan berlaku bagi siapa pun.

Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku perkenankan bagimu …. [QS. Al Mu’min : 60]

Allah SELALU mengabulkan doa setiap orang. Dan doa yang dikabulkan-Nya, adalah doa yang ada di HATI manusia, bukan yang terucap di mulut. Juga bukan yang ada di pikiran manusia. Jadi saat berdoa, jika ada konflik atau perbedaan antara apa yang terucap di mulut atau apa yang ada di pikiran kita dengan apa yang terasa di hati kita. Maka yang ada di hati kitalah yang terwujud.

Umumnya manusia hanya memanfaatkan “pikiran sadar”-nya yang memiliki hanya 12 % dari keseluruhan kekuatan pikirannya. Pikiran sadar inilah yang sering kita sebut bahwa seseorang itu sedang menggunakan “otak”-nya. Sedangkan yang 88 % lainnya merupakan kekuatan bawah sadar, yang secara umum muncul dalam bentuk “perasaan”-nya.

Jadi otomatis alam semesta akan merespon yang lebih dominan, yaitu merespon yang 88 % tadi, yaitu merespon perasaan kita.

Bisa dibayangkan ketika pikiran dan perasaan kita selaras (sama), berarti kekuatan permintaan (doa) kita adalah 100 %. Dan itu akan dengan cepat terwujud.

Seringkali manusia meminta “itu”, tetapi kenapa kok dapat “ini”.

Masalahnya, kebanyakan orang merasakan apa yang tidak mereka inginkan. Dan mereka bertanya-tanya mengapa hal-hal yang tidak mereka inginkan terus bermunculan.

Mengapa hal-hal yang tidak mereka inginkan justru terwujud. Padahal, semua itu terwujud karena permintaan dari perasaannya sendiri.

Seringkali kita menginginkan sesuatu, namun kita merasakan yang berbeda (lainnya). Maka yang kita rasakan itulah yang terwujud.

Hukum penciptaan tidak pernah peduli, apakah saat ini kita sedang mengingat-ingat, berkhayal, merekayasa, mengeluh, bersyukur, atau sedang mencemaskan sesuatu. Dia semata-mata hanya merespon apa yang kita pancarkan di dalam gelombang getaran kita, yaitu perasaan kita. Oleh karenanya, pancarkanlah getaran-getaran positif, dengan cara berusaha untuk selalu berperasaan positif.

PETUNJUK TEKHNIS MANAGEMENT QOLBU, KLIK DI SINI…

Believe Power, Instant Healing

Setelah saya amati dan saya perhatikan. Sebenarnya satu-satunya pelatihan Quantum, metafisika, dan esoteris yang jujur mengatakan bahwa di dalam jurus-jurus atau tools yang diperkenalkan itu mengandung tekhnik-tekhnik Hypnotherapy dan NLPTherapy kayaknya hanya ada di sini : www.keajaibanhati.com

Sehingga dengan demikian kami mempersembahkan sebuah tools yang transparan dan konsep yang dapat diterapkan oleh peserta secara universal. Serta dapat memperkaya believe system setiap peserta tanpa perlu mereka menjadi PINDAH KEYAKINAN. Atau kehilangan akidah.

Metaphora serta konsep dasar yang melatarbelakangi setiap tekhnik yang saya berikan dalam Workshop NAQS DNA bersifat bebas dan tidak mengikat. Metafora hanya dipergunakan sekedar sebagai pengantar untuk membuka pemahaman semata….dan bukan sebagai Fondasi bagi bangunan tekhnik yang didirikan di atasnya…

Fondasi utama yang kami jadikan pijakan tekhnik bersifat fitrah, berlandaskan hukum alam yang telah diakui, di alami, dan dirasakan oleh semua orang. Sehingga inti konsepnya walau berasal dari tradisi filsafat Islam, namun dalam aplikasi tekhniknya bersifat universal untuk siapapun saja….karena selaras dengan Sunnatullah/Hukum alam, Hypnotherapy, dan NLPTherapy yang juga bersifat netral & bebas nilai….

JAGA HATI, JAGA IMAN…
DAN KAMI MENGHORMATI SERTA MENGHARGAI IMAN DAN KEYAKINAN ANDA…..

The Spontaneous Healing Of Belief
Kutipan dari: The Spontaneous Healing Of Belief oleh Greg Bradden

Kita menjalani hidup kita berdasarkan pada apa yang kita percayai.
Ketika kita berpikir tentang kebenaran dari pernyataan ini, kita segera menyadari suatu kenyataan yang mengejutkan: Diluar hal lain yang kita mungkin dapat lakukan dalam kehidupan kita, keyakinan yang mendahului tindakan kita adalah dasar dari semua yang kita hargai, impikan, ciptakan, dan capai.

Mulai dari ritual pagi hari saat kita pergi menyapa dunia setiap hari, hingga penemuan-penemuan yang kita gunakan untuk membuat hidup kita lebih baik, hingga teknologi yang merusak kehidupan kita melalui perang – rutinitas pribadi, komunitas adat, upacara keagamaan, dan seluruh peradaban juga didasarkan pada keyakinan kita. Bukan hanya keyakinan kita yang memberikan struktur bagi cara kita menjalani hidup kita, saat ini berdasarkan penelitian terlihat bahwa pengalaman batin kita di masa lalu menunjukkan kepada kita bahwa cara kita merasa tentang dunia di sekitar kita adalah kekuatan yang mewujudkan dunia ini.

Dengan cara ini, ilmu pengetahuan sejalan dengan tradisi spiritual kita yang paling dihargai, yang selalu mengatakan kepada kita bahwa dunia kita tidak lebih dari sebuah refleksi dari apa yang kita hadirkan dalam keyakinan kita. Dengan akses pada kekuatan yang sudah ada di dalam diri kita, untuk mengatakan bahwa keyakinan kita adalah penting bagi kehidupan. Keyakinan adalah kehidupan! Itu adalah di mana ia memulai dan bagaimana ia menopang dirinya sendiri. Mulai dari respon kekebalan tubuh kita dan hormon-hormon yang mengatur dan keseimbangan tubuh kita. . . . .hingga kemampuan kita untuk menyembuhkan tulang, organ, dan kulit-dan bahkan menciptakan kehidupan-peran dari keyakinan manusia secara cepat mengambil peran utama di perbatasan baru dari ilmu biologi dan fisika kuantum.

Jika keyakinan kita memegang kekuasaan begitu banyak, dan jika kita menjalani hidup kita berdasarkan pada apa yang kita percaya/yakini, maka pertanyaannya adalah: Dari mana keyakinan kita datang? Jawabannya mungkin akan mengejutkan Anda. Dengan sedikit pengecualian, mereka sesungguhnya berasal dari apa yang ilmu pengetahuan, sejarah, agama, budaya, dan keluarga kita memberi tahu kita. Dengan kata lain, esensi dari kemampuan dan batas kita juga didasarkan pada apa yang orang lain beritahukan kepada kita. Realisasi ini mengarah ke pertanyaan berikutnya yang kita harus tanyakan kepada diri sendiri:

Jika hidup kita didasarkan pada apa yang kita percayai, 
maka bagaimana jika keyakinan-keyakinan tersebut salah?

Kita menjalani hidup kita berdasarkan pada apa yang kita percayai tentang dunia kita, diri kita, kemampuan kita, dan batas-batas kita. Bagaimana jika kita menjalani kehidupan kita ternyata diselimuti keterbatasan palsu dan asumsi yang salah yang dibentuk oleh orang lain dari generasi ke generasi, berabad-abad, atau bahkan ribuan tahun?

Secara historis, misalnya, kita telah diajarkan bahwa kita menjalani hidup yang tidak signifikan melewati waktu yang singkat, dibatasi oleh “hukum” ruang, atom, dan DNA. Pandangan ini menunjukkan bahwa kita hanya akan memiliki sedikit efek terhadap segala sesuatu saat kita tinggal di dunia ini, dan ketika kita pergi, alam semesta tidak akan menyadarinya adanya kita.

Meskipun kata-kata untuk deskripsi ini mungkin terdengar agak kasar, ide umum tidak begitu jauh dari apa yang banyak kita hari ini telah kondisikan sebagai kebenaran. Justru keyakinan-keyakinan inilah yang sering membuat kita merasa kecil dan tak berdaya dalam menghadapi tantangan hidup yang lebih besar.

Bagaimana jika sesungguhnya kita sesunguhnya lebih dari itu? Mungkinkah bahwa kita benar-benar makhluk yang sangat kuat yang sedang menyamar? Bagaimana jika kita adalah delegasi dari potensi ajaib, yang lahir ke dunia ini dengan kemampuan di luar mimpi terliar kita – sesuatu yang kita hanya lupa di bawah pengkondisian yang telah membelenggu kita, lalu kita masuk ke dalam keadaan mimpi menjadi tak berdaya?

Bagaimana jika hidup kita berubah, misalnya, jika kita menemukan bahwa kita dilahirkan dengan kekuatan untuk menyembuhkan penyakit? Atau bagaimana jika kita bisa memilih kedamaian di dunia kita, kelimpahan dalam hidup kita, dan berapa lama kita hidup? Bagaimana jika kita menemukan bahwa alam semesta itu sendiri secara langsung dipengaruhi oleh kekuatan yang kita sembunyikan dari dalam diri kita sendiri begitu lama bahkan kita sudah melupakannya?

Penemuan radikal seperti ini akan mengubah segalanya. Ini akan mengubah apa yang kita percayai tentang diri kita, alam semesta, dan peran kita di dalamnya. Ini juga justru apa yang ditunjukkan oleh penemuan kita yang terdepan saat ini.

Selama berabad-abad, ada orang-orang yang menolak untuk menerima keterbatasan yang secara tradisional mendefinisikan apa artinya hidup di dunia ini. Mereka menolak untuk percaya bahwa kita muncul melalui kelahiran misterius yang menolak penjelasan. Mereka menolak gagasan bahwa munculnya keajaiban seperti itu adalah tujuan untuk menjalani hidup dalam penderitaan, sakit, dan kesepian sampai kita meninggalkan dunia ini yang sama misteriusnya seperti saat kita datang.

Untuk menjawab kerinduan mereka untuk kebenaran yang lebih besar, mereka harus mau melampaui batas-batas pengkondisian mereka. Mereka telah di isolasi pandangannya terhadap realitas itu sendiri-oleh teman, keluarga, dan masyarakat-dan benar-benar berpikir di luar kotak, terhadap apa yang mereka telah dipelajari tentang dunia. Dan ketika mereka melakukan itu, sesuatu yang berharga dan indah terjadi dalam hidup mereka: Mereka menemukan kebebasan baru untuk diri mereka sendiri yang membuka pintu kemungkinan bagi orang lain. Semuanya dimulai dengan mengajukan pertanyaan yang sama seperti waktu pertama kali sebelum kita diisolasi : Bagaimana jika keyakinan kita yang salah?

Seperti yang kita lihat dalam cerita tentang seorang yogi yang mengatakan, dalam penyerahan mutlak kita pada sebuah kemungkinan, kita akan menemukan kebebasan yang memberitahu kita siapa kita sesungguhnya. Keyakinan pribadi saya, bagaimanapun, adalah bahwa kita tidak harus tinggal di sebuah gua, yang dingin dan basah untuk menemukannya. Saya juga merasa bahwa pembebasan pribadi dimulai dengan komitmen individu untuk mengetahui siapa diri kita di alam semesta. Ketika kita membuat suatu komitmen seperti itu, segala sesuatu mulai dari cara kita berpikir tentang diri kita hingga cara kita mencintai akan berubah. Kita harus melakukannya, karena kita akan berubah dalam kehadiran pemahaman yang lebih dalam.

Itu semua tergantung kembali kepada apa yang kita percayai.
Walaupun mungkin terdengar terlalu sederhana untuk menjadi kenyataan, saya yakin bahwa alam semesta justru bekerja dengan cara ini.

Kutipan dari The Spontaneous Healing Of Belief: Shattering The Paradigm Of False Limits The Spontaneous Healing