Mereka Juga Mujahid Dakwah

Ternyata para perantau di Hongkong dan Macao itu bukan saja pahlawan devisa, tapi juga mujahidah dakwah, dengan dukungan penuh DD HK dan organisasi keislaman pengelola shelter. Allahu Akbar!

SHELTER adalah sebutan bagi “tempat penampungan” atau “pangkalan” para perantau Indonesia di Macao dan Hongkong. Di sanalah para perantau berkumpul, mempererat ukhuwah dan kekompakan, saling curhat, serta mengembangkan diri. Shelter pula yang menjadi “penyelamat” perantau yang bernasib kurang beruntung atau bermasalah. Peran terpentingnya adalah membekali para perantau dengan bekal spiritual, misalnya melalui pengajian-pengajian, dan lifeskill seperti keterampilan bahasa Inggris, menjahit, dan memasak.

Seara fisik, shelter adalah rumah di sebuah apartemen, lengkap dengan kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang tamu. Di Hongkong ada sekitar lima shelter dan di Macao dua buah. Shelter-shelter itu dibina oleh organisasi yang didirikan oleh perantau sendiri, seperti MATIM (Majelis Taklim Indonesia Macao), Istiqomah, dan banyak lagi –sekitar 52 organisasi. Dapat Anda bayangkan betapa nyamannya para perantau Indonesia dengan keberadaan shleter-shelter tersebut, plus kehadiran Dompet Dhuafa Hongkong yang memberi dukungan dana, manajemen, bahkan kantor DD HK sendiri berfungsi sebagai shelter dan tempat kursus.

Hari Minggu sebagai “perantau day”, ruang DD HK penuh. Seperti yang saya saksikan sendiri usai Diklat Penyiar & Reporter Radio di Gedung Communication Art Center Hongkong. Begitu sampai di kantor DD HK, saya lihat ruangan penuh sesak, sehingga ketika hendak shalat pun kami harus antre dan “mengusir” yang sedang kumpul-kumpul di ruangan. Bahkan, rumah tinggal GM DD HK, Ust. Abdul Ghofur, pun penuh sesak. Di samping rumah Ust. Ghofur, saya baru tahu saat itu, adalah ruang kursus keterampilan menjahit. Di ruang itulah kami, saya dan Kang Iwe, juga beberapa perantau, shalat dhuhur-ashar (jama’ qashar) berjamaah.

Bung Balisjadi dan Ust. Ghofur sebearnya menjadwalkan saya berkunjung ke shelter-shelter di Hongkong. Sayangnya, saya harus segera “mendeportasi diri” karena tiket pulang Senin pagi (21/12) sudah di tangan. Saya bersyukur masih sempat kunjungi satu shelter di Macao, Shelter MATIM, begitu tiba di Macao setelah naik kapal feri sebelum ke penginapan Vila Costa.

“Kita ke shelter dulu, Kang, teman-teman ingin bertemu akang di sana,” kata Mbak Dewi Amilin, perantau Indonesia asal Nganjuk, Jawa Timur, yang setia “menjemput” saya untuk nyebrang ke Macao. Jumlah perantau di Macao ada sekitar 6.000 orang. Yang dibina oleh shelter sekitar 200 orang. Organisasi lain yang membina perantau di Macao adalah Halimah. Dua organisasi inilah –MATIM dan Halimah—yang berperan membina rohani Islam dan lifeskill para perantau di Macao.

Sebagaimana shelter lain, Shelter MATIM memusatkan kegiatan hari Ahad, “the perantau day”, hari libur para perantau. Dalam jadwal Ahad Shelter MATIM tertera rincian kegiatan, seperti tadarus Al-Quran, Iqra, kurus menjahit, dan kursus komputer. Di shelter ini pun ada koperasi dan perpustakaan.

Dapat Anda bayangkan betapa “serunya” menjadi perantau di Macao dan Hongkong. Apalagi pemerintah kedua negara eks jajahan Portugis dan Inggris yang kini menjadi “daerah otonom” (Special Administration Region) Cina itu memberi kebebasan beragama. Anda bisa saksikan perantau berjilbab di segala penjuru negeri. Mereka leluasa, bebas, tanpa perlakuan diskriminatif dan kecurigaan dari siapa pun. Wajar jika situs islamonline.net pernah menurunkan berita berjudul “Lucky Hongkong Muslim”; betapa beruntungnya Muslim Hongkong karena mereka relatif sangat leluasa menjalankan kewajiban agama dibandingkan minoritas Muslim di negara lain.

“Di sini kayak begini kang, untukmu agamamu untukku agamaku, asalkan tidak saling mengganggu,” ujar Mbak Yani yang mengantar saya ke Bandara Macao bersama Mbak Tina. Dikemukakan, para majikan pun merasa senang dengan keberadaan shelter. Mereka kian nyaman dengan para “domestic worker” yang terbina dengan baik olah MATIM, DD HK, dan “Muslim organizer” lainnya.

Jalinan ukhuwah, pembinaan spiritual Islam, dan lifeskill para perantau insya Allah akan kian mantap dengan kehadiran Radio Perantau Indonesia (RPI) yang beralamat di http://radio.perantauindonesia.com:8080 atau winam url: http://202.59.200.200:8080. Para calon penyiar dan pengelonya sudah mengikuti diklat Ahad (20/12). Perlu ada diklat lanjutan, biar keterampilan siarannya terbina dengan baik dan saya kembali ke Hongkong (hehe… ngarep!).

Diklat sendiri berjalan lancar, semoga sukses pula –mencapai tujuan. Sekitar 100 perantau memadani ruangan diklat di Gedung Communication Art Center, King’s Road, Hongkong. Saya tampil pertama dengan materi teknik siaran radio, plus simulasi, lalu Kang Iwe menyampaikan materi tentang IT Radio Internet atau masalah teknis. Setelah Kang Iwe, saya tampil lagi menyampaikan materi teknik menjadi reporter radio plus simulasi alakadarnya –alakadarnya karena keterbatasan waktu. Hakikatnya, diklat terus berlangsung karena kedua buku saya, Jadi Penyiar Itu Asyik Lho! dan Dasar-Dasar Penyiaran Radio, “diborong” oleh para peserta. Terima kasih, ukhti!

Acara foto bareng usai diklat, sungguh menambah kesan luar biasa yang saya rasakan selama tiga hari empat malam di Macao dan Hongkong. Semoga Allah meberkahi. Amin!

Mari kita beri apresiasi dan dukungan bagi perantau Indonesia di Hongkong dan Macao itu. Mereka tidak sekadar mencai duit, namun juga mengembangkan diri –sebut saja “studi di luar negeri”—dan menyiarkan Islam di negeri orang. Jilbab yang mereka kenakan dengan sempurna, aktivitas keislaman yang terus mereka gemakan di sana, sungguh merupakan upaya dakwah yang luar biasa.

Ternyata para perantau di Hongkong dan Macao itu bukan saja pahlawan devisa, tapi juga mujahidah dakwah, dengan dukungan penuh DD HK dan organisasi keislaman pengelola shelter. Allahu Akbar! Wasalam. (ASM. Romli. Hongkong-Macao, 20 Desember 2009).*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: