Dompet Dhuafa Hongkong

Alhamdulillah, ada Dompet Dhuafa. Ungkapan itulah kira-kira yang diekspresikan para perantau Indonesia di Hongkong. Sebagai catatan, mulai saat ini saya lebih suka menggunakan istilah perantau ketimbang BMI (Buruh Migran Indonesia), TKI, TKW, apalagi pembantu (PRT). Alasannya, mereka memang perantau dan kata perantau “lebih manusiawi dan lebih bermartabat” mengingat image BMI, TKI, TKW, atau PRT.

Apa peran DD HK bagi perantau Indonesia di Hongkong? “Sangat bermanfaat sekali,” ungkap Sriyatun (33 thn), perantau asal Lampung, yang datang ke ruang komputer begitu saya hendak menulis posting ini di ruangan tersebut. Kata Ibu Sri, program-pogram DD HK sangat bermanfaat. “Bagi saya, semua yang saya butuhkan ada di sini (DD HK), seperti kursus komputer, jahit, bahasa Inggris. Untuk pengembangan diri saya. Sekarang saya lagi kursus komputer,” paparnya.

“DD HK bagi saya semacam ‘penyelamat’, khususnya ketika ada perantau yang mengalami kesulitan dengan majikan,” ungkap perantau lain, Vivi (22 thn), asal Madiun. Vivi sekarang jadi pengajar kursus komputer di DD.

Tidak berlebihan jika saya katakan DD HK merupakan “The Lonely Figther” di Hongkong; berjuang membantu ragam permasalahan yang dihadapi para perantau. DD memiliki sejumlah program unggulan demi kepentingan para perantau, seperti Migran Usaha Mandiri, Migrant Institute, dan Rumah Berkah. “Kita punya target mengembangkan kemandirian, menanamkan mental wirausaha,” kata GM DD HK, Ust. Abdul Ghofur. “Kita berharap mereka menjadi wirausahawan di sini atau ketika kembali ke Indonesia.”

Ketiga program DD HK itu memang menanamkan life skill bagi bekal hidup mandiri. Program Migrant Insitute, misalnya, menawarkan program kursus komputer, bahasa Inggris dan Mandarin, kursus menjahit, memasak, dan sebagainya. “Di Rumah Berkah mereka mempraktekan keterampilan memasak dan mengelola usaha,” kata Ust. Ghofur.

Jumlah perantau Indonesia di Hongkong sekiar 135.000 orang, hampir semuanya akhwat. Inilah mengapa hanya ada “Corps Akhwat” seperti saya ceritakan pada catatan pertama. Pemerintah Hongkong memang hanya membuka kesempatan kerja kepada kaum wanita karena yang dibutuhkan adalah sektor domestik atau rumah tangga. Para perantau pun umumnya menjadi “domestic worker”.

DDD HK tampil sebagai “organizer”, koordinator, dan “penyuplai dana” bagi sekitar 52 organisasi perantau di HK. “DD sendiri hadir di HK sejak 2004 dengan dua alasan utama, yakni isu kemanusiaan dan isu keagamaan,” ungkap Ust. Ghofur. Isu kemanusiaan misalnya soal penganiayaan, ingkar janji majikan, pengusiran, PHK sepihak, dan sebagainya. “Kita turut hadir memberi bantuan jika ada perantau mengalami hal seperti itu,” ungkapnya.

Isu keagamaan lebih “menantang”, terutama kasus Kristenisasi. Menurut Ust. Ghofur, ada perantau bernama Husnul Khotimah meninggal dunia dalam kedaan berkalung Salib. “Begitu dibawa ke masjid mau disholatkan, pihak masjid menolak karena ada salib itu,” kata Ghofur prihatin. “Contoh lainnya Siti Aisyah, anak seorang kyai, dia murtad dan menjadi ‘da’iyah’ Kristen, mengajak perantau lain murtad, seraya mengatakan ’saya anak kyai lebih percaya Kristen”.

Sebagai “lonely figther”, Ust. Ghofor berharap LAZ lain hadir di Hongkong untuk bersama-sama membina perantau. “Yang kita bina baru sekitar 25 ribu, masih ada 110,000 perantau yang belum tersentuh pembinaan, mereka rawan menjadi objek misi kelompok lain yang tidak seiman dengan kita,” ungkapnya.

Waktu luang para perantau itu umumnya hari Ahad. Jadi, hari Ahad atau Minggu itu semacam “Perantau Day”. Pada hari itulah pembinaan berlangsung, mulai dari pengajian atau ceramah agama, kursus keterampilan, refreshing, silaturahmi dengan sesama perantau. “Banyak juga yang pergi ke agent untuk ngurus masalah dengan majikan atau sekadar istirahat,” ungkap Mbak Vivi dan Ibu Sri serempak.

Di Hongkong saat ini ada sejumlah tempat penampungan sementara perantau yang bermasalah yang disebut “Shelter”. Ada sekitar lima Shelter. Sejumlah organisasi, seperti Istiqomah dari organisasi Islam dan dari Kristen ada Christian Action, ikut mengelola Shelter. DD Hongkong mendukung organisasi Islam, seperti suplai dana.

Dana yang terhimpun di DD HK utamanya berasal dari para perantau yang berhasil dan komunitas Muslim lainnya yang ada di Hongkong. Rata-rata dana yang terhimpun tiap tahun lebih dari $HK 200 ribu (sekitar Rp 200 juta).
(ASM. Romli, Hongkong-perantauindonesia.0fees.net)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: